Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

ACEH: KETIKA PEMERINTAH TIDAK LAGI MENGHASILKAN KEMANDIRIAN

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Aceh bukan sekadar wilayah administratif. Aceh adalah wilayah dengan sejarah panjang perjuangan, konflik, dan damai. Warga Aceh pernah berjuang untuk kemerdekaan yang bermartabat, bukan sekadar kemerdekaan administratif, tetapi kemerdekaan nyata dalam kehidupan rakyatnya. Namun hari ini pertanyaannya sangat mendasar: Setelah hampir dua dekade otonomi khusus dan APBA yang besar, apakah rakyat Aceh benar-benar merdeka secara ekonomi dan sosial? Jika jawabannya belum, maka yang perlu dievaluasi bukan semangat rakyatnya, melainkan arah pemerintahannya. KEMISKINAN: ANGKA YANG TIDAK BOLEH DIABAIKAN Data menunjukkan tingkat kemiskinan Aceh masih berada di kisaran 12–13 persen dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, sekitar 700 ribu lebih rakyat Aceh masih hidup di bawah garis kemiskinan dari total penduduk sekitar 5,5 juta jiwa. Angka ini memang mengalami penurunan dibanding masa sebelumnya, tetapi belum menunjukkan lompatan transformasional yang signi...

Aceh: Antara Pemimpin Pembongkar dan Pemimpin Perawat

Gambar
Aceh banyak pemimpin, Aceh kelebihan pemimpin perawat. Selama dua dekade pascakonflik, Aceh dipimpin oleh figur-figur yang mengklaim diri sebagai penjaga perdamaian, perawat luka sejarah, dan pelindung martabat rakyat. Namun di balik bahasa damai itu, satu hal luput disadari: Aceh tidak sedang sakit ringan — Aceh mengalami pembusukan struktural. Dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pemimpin perawat, melainkan pemimpin pembongkar. Pemimpin Perawat di Aceh: Merawat Kebusukan dengan Bahasa Adat dan Agama Pemimpin perawat di Aceh punya ciri khas: pandai berbicara adat, tapi miskin gagasan rajin mengutip agama, tapi alergi kejujuran menjaga harmoni elite, bukan keadilan rakyat sibuk menenangkan, bukan menyembuhkan Mereka merawat Aceh dengan retorika syariat, namun membiarkan: korupsi menjadi adat baru feodalisme diwariskan kebodohan dilembagakan intelektual dimarginalkan Aceh terlihat tenang, tapi tenang yang busuk. Kenapa Pemimpin Pembongkar Tidak Pernah Nyaman di A...