Beberapa pertanyaan menjadi wajar kita pertanyakan ketika kita menghadapi dilema kepemimpinan di Aceh. Ada dalih yang mendasar mempertanyakan hal ini setelah sekian lama kita terjebak dalam stagnasi kepemimpinan yang boleh digolongkan dalam kegagalan rakyat Aceh memiliki pemimpin yang aspiratif dan memenuhi harapan sebahagian besar masyarakat. Pertama, Apakah kedekatan dengan masyarakat? Kedua, Apakah pemimpin seorang yang alim? Ketiga, Apakah seorang yang baik? Keempat, Apakah seorang yang peduli? Kelima, Apakah seorang berpendidikan Tinggi? Keenam, Apakah seorang yang jujur? Ketujuh, Apakah seorang yang tampan? Kedelapan, Apakah seorang yang cerdas dan memiliki ilmu kepemimpinan? Kesembilan, Apakah seorang orang kaya? Kesepuluh, Apakah seorang dermawan? Dari sepuluh pertanyaan itu secara ideal, memang masyarakat Aceh yang Islam menganut konsepsi pemimpin sebagaimana ajaran Islam yang normatif, sebagaimana sifat nabi. Sidik, Amanah, Fatanah dan penjelasannya, tapi ukuran itu begitu lo...