Mengapa Aceh Sulit Maju? Ini Tiga Kesalahan Besar Politik Kita
Mengapa Aceh Sulit Maju?
Ini Tiga Kesalahan Besar Politik Kita
Oleh : goodfathers
Banyak orang bertanya, mengapa Aceh seperti berjalan di tempat? Padahal sumber daya ada, sejarah besar ada, bahkan semangat perjuangan pernah dimiliki rakyatnya.
Masalahnya sebenarnya sederhana, tetapi jarang dibicarakan secara jujur.
Ada tiga kesalahan besar dalam politik Aceh hari ini.
Pertama, politik tidak lagi berbasis pemikiran.
Banyak elite politik hanya menguasai jaringan kekuasaan, uang politik, dan loyalitas kelompok. Tetapi mereka tidak memiliki konsep bagaimana membangun daerah dan negara.
Akibatnya mereka bisa memenangkan kekuasaan, tetapi tidak tahu harus membawa rakyat ke arah mana.
Kekuasaan akhirnya hanya berputar untuk mempertahankan jabatan dan kepentingan kelompok.
Rakyat tidak mendapatkan arah pembangunan yang jelas.
Kedua, mereka mengira legitimasi hanya berasal dari jabatan.
Dalam pikiran sebagian masyarakat, seolah-olah hanya orang yang menjadi pejabat yang memiliki kapasitas berbicara tentang politik.
Padahal dalam politik modern ada empat sumber kekuatan:
jabatan, uang, dukungan masyarakat, dan kekuatan pemikiran.
Yang sering dilupakan justru yang terakhir.
Padahal dalam sejarah banyak perubahan besar lahir dari pemikiran, bukan dari jabatan.
Jika masyarakat hanya menghormati jabatan tanpa menghormati pemikiran, maka politik akan terus dipenuhi oleh orang yang mengejar kursi, bukan orang yang membawa gagasan.
Ketiga, elite politik tidak memahami perang narasi.
Politik hari ini bukan hanya soal kekuasaan atau uang. Politik juga tentang siapa yang mampu menjelaskan masa depan kepada rakyat.
Sayangnya sebagian elite hanya terus mengulang cerita lama: masa konflik, simbol perjuangan, atau simbol agama.
Sementara masyarakat, terutama generasi muda, sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih penting: arah masa depan.
Ketika politik kehilangan gagasan masa depan, maka yang tersisa hanyalah perebutan kekuasaan tanpa tujuan.
Inilah yang membuat Aceh sulit bergerak maju.
Masalah sebenarnya bukan pada rakyat Aceh. Rakyat Aceh memiliki kecerdasan dan sejarah yang besar.
Masalahnya adalah budaya politik yang masih feodal, ketergantungan ekonomi pada elite, ketakutan sosial untuk berbeda pendapat, serta rendahnya pendidikan politik yang demokratis.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka Aceh akan terus berjalan di tempat meskipun berganti-ganti pemimpin.
Karena perubahan tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang berani berpikir.