Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah


Jalan Sunyi dari Seulawah
Mr. Tarmidinsyah Abubakar
Buku ini adalah seruan untuk membangkitkan akal dan kesadaran politik. Versi HTML ini dirancang agar mudah dibaca, dibagikan, dan dicetak.
KATA PENGANTAR
Segala sesuatu yang besar dalam sejarah manusia tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia selalu lahir dari kegelisahan, dari pertanyaan yang tidak pernah berhenti, dari keberanian untuk berbeda di tengah keseragaman yang membodohkan. Buku ini ditulis dalam semangat itu. Bukan karena saya lebih hebat, tetapi karena saya tidak tahan melihat keheningan yang mematikan logika dan menumpulkan keberanian.
Dalam prosesnya, saya tidak sedang menggurui siapa pun. Saya hanya menulis apa yang saya lihat, saya alami, dan saya yakini sebagai kebenaran. Setiap bab dalam buku ini adalah hasil dari pergulatan panjang antara idealisme dan kenyataan, antara harapan dan pengkhianatan, antara kesadaran dan kebodohan yang dilembagakan oleh sistem.
Aceh adalah titik tolak buku ini, tapi bukan satu-satunya tujuan. Aceh hanyalah gambaran kecil dari apa yang sedang dialami bangsa ini secara lebih luas. Ketika pemimpin tak mampu berpikir, rakyat kehilangan arah. Ketika sistem hanya melayani elite, maka negara kehilangan ruhnya. Dan ketika rakyat diam, maka sejarah pun dibajak oleh mereka yang tidak layak menulisnya.
Saya ingin buku ini menjadi pemantik. Menyalakan api kesadaran. Membuka diskusi. Menjadi bahan bakar bagi gerakan pemikiran yang lahir dari rakyat untuk rakyat. Bukan untuk menjatuhkan siapa pun, tetapi untuk membangkitkan semua orang.
Jika satu orang saja berubah setelah membaca buku ini, maka artinya buku ini telah menjalankan tugasnya. Jika lebih banyak lagi yang tersentuh dan bergerak, maka biarlah ini menjadi bagian kecil dari sejarah kebangkitan manusia berpikir di negeri ini.
Dengan kerendahan hati dan tekad yang tak pernah padam, saya persembahkan buku ini untuk siapa pun yang masih percaya bahwa perubahan bisa dan harus dimulai sekarang juga.
Saya tidak sendiri, tetapi masih ditemani istri dengan profesimya yang saat itu sengaja memilih keluar dari PNS, membawanya harus bekerja diluar pemerintah, sementara orang lain justru mencari peluang untuk masuk PNS dengan berbagai cara. Tapi itulah pilihan hidup yang harus kita jalani bersama.
Aceh, dari Seulawah yang sunyi.
Mr. Tarmidinsyah Abubakar
Goodfathers Bapak Yang Baik
PROFIL PENULIS
Tarmidinsyah Abubakar lahir di Aceh, tumbuh dalam lingkungan keluarga pendidik dan perajin rumah tradisional Aceh yang mewariskan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kemandirian. Sejak muda, ia telah aktif dalam dunia aktivisme, pendidikan politik, dan penulisan sosial. Ia pernah menjadi bagian dari program kepemimpinan politik Indonesia-Amerika dan belajar langsung dari dinamika dua partai besar di Amerika Serikat, termasuk menelaah pemikiran tokoh dunia seperti Barack Obama dan Martin Luther King Jr.
Setelah kembali dari Amerika, ia memilih hidup lebih sunyi, membangun tempat tinggal di kaki Gunung Seulawah sebagai pusat perenungan dan pengamatan terhadap dinamika sosial-politik bangsa. Ia dikenal sebagai penulis produktif di berbagai platform digital seperti Kompasiana, WordPress, dan kini mendirikan kanal intelektual Serambi Rakyat sebagai corong perlawanan intelektual dan gerakan perubahan rakyat.
Tarmidinsyah adalah pendiri Partai Lokal GRAM (Gerakan Rakyat Aceh Mandiri), sebuah upaya politik yang lahir dari kesadaran, bukan ambisi. Ia menulis bukan untuk mencari nama, tapi untuk menyadarkan bangsa. Ia berbicara tidak untuk didengar banyak orang, tapi untuk menyentuh hati yang siap berubah.
Bagi dia, politik bukanlah jalan kekuasaan, tetapi panggilan nurani untuk memperbaiki nasib rakyat. Saat ini, ia terus menulis dan membimbing gerakan pemikiran rakyat dari tempat sunyi di kaki gunung tempat di mana suara paling jujur biasanya lahir.
SINOPSIS
Buku ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah percikan api dari bara kesadaran yang lama tersembunyi di balik reruntuhan demokrasi semu. Di tengah gemuruh politik transaksional dan pudarnya suara akal sehat, muncullah sebuah seruan jernih dari kaki Gunung Seulawah: mari berpikir ulang, mari bangun kembali.
Lewat tulisan-tulisan tajam, penuh nurani, dan jujur tanpa basa-basi, penulis mengajak kita merenungkan kembali: untuk siapa negara ini dibangun? Untuk siapa politik dijalankan? Untuk siapa kekuasaan dipertahankan?
https://globalacehawakening.blogspot.com/2025/09/buku-dari-budak-mental-ke-warga-merdeka.htmlDari Aceh hingga Jakarta, dari desa ke ruang-ruang elit, suara dalam buku ini menelusuk batas logika yang lama dibungkam. Ia berbicara tentang keberanian untuk berpikir, tentang pentingnya rakyat memahami politik sebagai alat peradaban, bukan sebagai panggung dagelan.
Buku ini ditujukan kepada mereka yang masih punya harapan. Kepada para pemuda, pemikir, dan siapa saja yang tidak ingin menyerah pada sistem yang membodohkan. Di tangan Anda sekarang, bukan hanya buku—tapi manifestasi dari gerakan berpikir yang bisa mengguncang peradaban.
STRATEGI DISTRIBUSI
Untuk memastikan buku ini menjangkau sebanyak mungkin pembaca dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan intelektual, strategi distribusi akan dilakukan secara multi-kanal:
Digitalisasi dan Akses Terbuka
Buku ini akan diterbitkan dalam format PDF dan EPUB, serta dapat diunduh gratis melalui platform Atjeh Mandiri dan akun pribadi penulis.
Versi digital juga akan disebarluaskan melalui kanal Telegram, WhatsApp, dan media sosial.
Publikasi di Media Alternatif
Artikel-artikel dan kutipan penting dari buku ini akan disajikan secara berkala di Kompasiana, Medium, dan blog resmi GoodFathersAceh.wordpress.com.
Kerja sama terbuka dengan blog atau kanal pemikiran rakyat lainnya yang ingin ikut menyebarluaskan ide-ide perubahan.
Bab I – Jalan Sunyi dari Seulawah
Setelah sekian tahun menjalani dinamika politik lokal dan nasional, saya mengambil keputusan yang bagi sebagian orang terasa asing, bahkan mungkin dianggap putus asa—meninggalkan hingar-bingar dunia kekuasaan dan mendaki jalan sunyi menuju Gunung Seulawah. Tapi bagi saya, langkah itu justru awal dari sebuah kebangkitan. Bukan kebangkitan politik dalam makna praktis, melainkan kebangkitan akal dan kesadaran.
Di lereng gunung yang sepi itu, jauh dari gaduhnya rapat partai, intrik kekuasaan, dan janji palsu para elite, saya membangun rumah peristirahatan. Tempat itu sebelumnya nyaris tak berpenghuni setelah bencana besar tsunami Aceh meluluhlantakkan kehidupan. Tapi saya percaya, tanah yang pernah diamuk oleh alam bisa menjadi tempat yang menumbuhkan kesadaran baru.
Gunung Seulawah bukan sekadar lokasi geografis. Ia menjadi simbol kesendirian yang bermakna. Di sanalah saya menulis, berpikir, merenung, dan merumuskan ulang tujuan hidup dan perjuangan. Saya tidak menutup diri dari dunia, tapi saya membuka ruang bagi akal untuk bernafas lebih luas, bebas dari tekanan dan jebakan pragmatisme kekuasaan.
Saya tinggal di sana bukan karena kalah, tapi karena ingin menang secara berbeda. Di sanalah saya mulai menyadari bahwa perjuangan tidak harus selalu berlangsung dalam ruang partai dan parlemen. Kadang, ia justru menemukan bentuk paling murninya dalam sunyi, dalam tulisan, dalam perenungan, dan dalam kesaksian diam terhadap kebobrokan yang terjadi.
Dari gunung itu, saya melihat bahwa banyak orang yang menjalankan politik tanpa tujuan, tanpa ruh, dan tanpa keberpihakan pada akal sehat. Mereka sibuk mengejar posisi, uang, dan pengaruh, tapi kehilangan esensi berpolitik sebagai alat memanusiakan manusia. Maka saya memilih menjauh, agar bisa kembali mendekat pada yang sejati.
Seulawah menjadi saksi bahwa seorang manusia bisa memilih jalan sunyi, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengasah kembali senjata paling tajam: akal dan kesadaran.
Bab II – Akal yang Datang dari Ruh: Dari Obama ke Rumah Seulawah
Saya membaca pemikiran Barack Obama, dan saya menangkap satu hal yang jarang dibicarakan orang: keberanian untuk menerjang harapan. Ia berpikir dengan melampaui batas-batas umum yang biasanya menjadi pagar bagi banyak pemimpin. Dan ketika saya membaca itu, saya sadar, ada ruh serupa yang diam-diam tumbuh dalam diri saya mungkin saja karena perbandingan komunitas yang serupa, bahwa mereka ditekan karena kulit hitam dan saya bahagian yang ditekan, diseragamkan dengan kepemimpinan nasional yang otoritarian.
Intinya kualitas demokrasi masih banyak celah menganga, sehingga mengundang orang untuk terus menjajah. Maka saya merasa jika seorang pemimpin yang dipilih rakyat hanya karena faktor emosional semata, tidak cerdas memahami seluk beluk dan hakikat fundamental demokrasi selama itu ia berpotensi menjadi penjajah rakyatnya sendiri walau tanpa disadarinya.
Saya percaya bahwa manusia bukan hanya hasil sekolah dan gelar, tapi juga hasil dari perjalanan panjang ruh keturunan dan medan kehidupan. Seperti batu permata yang semakin tua semakin mahal, manusia yang matang dalam keturunan membawa sesuatu yang sulit dijelaskan oleh akademis.
Orang tua saya adalah pembuat rumah Aceh yang disegani. Ia guru sekolah zaman penjajahan Jepang, lulusan MULO, tapi memiliki keahlian dan kemampuan membangun rumah Aceh menjadikannya raja di bidangnya. Saya tidak belajar secara formal tentang pertukangan. Tapi ketika saya membangun rumah, saya merasa ruh itu hidup dalam diri saya. Saya tahu harus bagaimana, tanpa tahu dari mana saya tahu.
Saya tidak punya denah rumah. Saya hanya menunjukkan gambar biasa kepada tukang sebagai referensi dan mengarahkannya. Tapi rumah itu berdiri dengan baik. Bahkan orang-orang yang datang ke sana meminta izin untuk meniru desain rumah hingga tukangnya pun mereka cari.
Saya heran, karena saya tidak merasa memiliki ilmu bangunan. Tapi saya sadar, mungkin ada ruh kemampuan yang diwariskan dari ayah saya, dan itu hidup dalam bentuk naluri dan visi.
Di Amerika, saya bertemu dan berdiskusi dengan banyak tokoh. Saya tidak terlalu tertarik pada formalitas, tapi saya selalu bertanya satu hal: “Atas dasar apa kalian berpikir dan mengambil keputusan untuk bangsa kalian?” Dan suatu saat, mereka menjawab: “That’s what America is.”
Jawaban itu mengandung filsafat. Bahwa cara berpikir mereka bukan sekadar hasil sekolah, tapi hasil dari keberanian bermimpi, bertindak, dan menyusun masa depan dengan struktur akal yang merdeka.
Disana juga saya menyaksikan dan mengetahui suatu benda semakin lama semakin berharga termasuk kursi di DPR yang pernah diduduki oleh mantan presiden menjadi media belajar dan rasa ingin tahu orang dari berbagai belahan dunia. Berbeda dengan DPR kita yang rutin untuk pengadaan perabot terbaru.
Di rumah orang tua angkat saya, Pak Albert dan Ibu Nancy dengan satu anak perempuannya yang mandiri dengan profesinya dan keahliannya bidang Air.
Saya bisa mengambil banyak pelajaran, misal satu sisi saja yang mudah dipahami oleh semua orang, meja dan kursi serta perabot lainnya yang bernilai karena ratusan tahun yang turun temurun. Apakah mereka tidak sanggup menggantinya? Anda salah!
Mereka sebagai petani dengan lahan 300 Hektar, setiap panen bahkan bisa mengganti mobil dan rumah mewah tetapi mereka sama sekali tidak membutuhkannya.
Buku bacaan mereka sebagai petani, saya yakin lebih dari buku menteri di kampung kita tapi saya tidak pernah mengungkapkan itu walaupun untuk bercanda.
Setelah pulang dari Amerika, saya membatasi pergaulan dengan politisi lokal. Bukan karena saya sombong, tapi karena saya merasa mereka tidak punya ruh perjuangan. Mereka berpolitik seperti berdagang. Padahal saya sedang mencari ruh pemikiran seperti Martin Luther King, seperti Obama, seperti para pendiri bangsa.
Maka rumah saya di gunung bukan hanya rumah. Ia adalah istana ide, tempat akal ditumbuhkan, dan ruh diwariskan. Mungkin saya bukan presiden. Tapi saya sedang menyiapkan warisan yang lebih penting akal dan ruh perjuangan.
Bab III – Politik Tanpa Akal Sehat
Salah satu kesedihan saya dalam dunia politik adalah menyaksikan betapa banyak orang masuk ke dalamnya tanpa dasar berpikir yang utuh. Mereka bicara demokrasi tapi takut berbeda pendapat. Mereka bicara rakyat tapi sibuk mengurus diri sendiri. Mereka bicara perubahan tapi takut kehilangan kenyamanan.
Politik di tangan orang-orang seperti itu berubah menjadi panggung sandiwara. Tidak ada ruh, tidak ada tujuan, hanya ambisi. Mereka yang hari ini menjadi pemimpin, esoknya bisa menjual prinsip hanya demi mempertahankan kursi. Seolah-olah politik itu sekadar cara cerdas untuk menipu secara legal.
Saya menyaksikan itu bertahun-tahun. Saya ikut rapat-rapat, mendengar debat, membaca proposal-proposal kosong, melihat senyuman yang penuh tipu daya, dan janji yang tak pernah ditepati. Lama-lama saya muak. Lalu saya menyadari bahwa saya tidak boleh larut di dalamnya.
Saya harus berdiri di luar, untuk melihat dengan lebih jernih.
Bab IV – Menantang Jakarta dari Lereng Seulawah
Ketika saya memilih mendirikan partai lokal di Aceh, saya tahu ini bukan sekadar strategi politik. Ini adalah sikap. Sebuah cara untuk menantang narasi Jakarta yang ingin menumpas segala bentuk kemandirian daerah. Saat tokoh-tokoh besar di pusat masih sibuk mencurigai otonomi sebagai bibit separatisme, saya justru menulis: “Indonesia akan kaya dalam bernegara jika partai lokal dibiarkan tumbuh secara sempurna.”
Pernyataan itu saya sampaikan bukan dengan suara lantang, tapi dengan pena dan prinsip. Saat itu, para petinggi politik bernegara, petinggi partai nasional, berbicara tentang membatasi partai lokal. Tapi saya, dari kaki Gunung Seulawah, menulis dan mendirikan GRAM: Gerakan Rakyat Aceh Mandiri. Sebuah nama yang lahir dari kemarahan. Dari rasa geram melihat politik yang tak lagi bermoral.
Saya sadar, saat itu saya bukan siapa-siapa. Tapi saya punya satu senjata yang tidak dimiliki oleh banyak politisi: akal dan keberanian menantang arus. GRAM bukan sekadar partai, melainkan perlawanan terhadap rezim politik transaksional, terhadap dominasi pusat yang ingin seragam, terhadap logika kekuasaan yang menaklukkan melalui proyek dan baliho.
Bab V – Menulis sebagai Perlawanan Terakhir
Dalam situasi di mana suara dibungkam dan pikiran dikekang, saya menemukan satu senjata yang paling sulit dibunuh: tulisan. Ia tak bisa dipenjara, tak bisa dibeli, dan tak bisa dibungkam sepenuhnya. Tulisan menyimpan daya tahan sejarah, melintasi batas ruang dan waktu, bahkan mampu hidup lebih lama dari penulisnya sendiri.
Saya tahu bahwa dunia politik bisa menindas, tapi tulisan bisa membebaskan. Ia menyimpan jejak akal yang tak tunduk pada jabatan dan uang. Saat para politisi sibuk menyusun siasat, saya sibuk menyusun kalimat. Saat mereka merancang baliho, saya merancang gagasan. Dan saat mereka menghibur rakyat dengan janji, saya menyodorkan kenyataan.
Menulis bukan pelarian. Ia adalah perlawanan. Perlawanan terhadap kebodohan yang dilembagakan, terhadap kekuasaan yang mencengkeram, dan terhadap diam yang disengaja. Di tengah masyarakat yang mulai terbiasa dengan kebohongan, tulisan adalah pengingat bahwa akal masih punya tempat.
Bab VI – Mengembalikan Politik sebagai Jalan Peradaban
Dalam sejarah panjang umat manusia, politik pernah menjadi jalan suci untuk memperjuangkan keadilan, menciptakan tatanan yang adil, dan membawa cahaya ke tengah kegelapan. Di masamasa awal Yunani, di era keemasan Islam, hingga pada masa pencerahan Eropa dan revolusi kemerdekaan berbagai bangsa, politik hadir sebagai ruang perjuangan ide dan gagasan mulia. Namun di negeri ini, Aceh khususnya, politik justru dibajak oleh kepentingan sempit dan transaksi kekuasaan yang tidak mencerminkan nilai luhur peradaban.
Setelah tsunami mengguncang Aceh dan memaksa masyarakat menyusun ulang nalar sosialnya, kita seharusnya mampu menggunakan momentum tersebut untuk merancang ulang fondasi politik kita. Namun yang terjadi justru sebaliknya, politik direbut oleh kelompok-kelompok yang sebelumnya mengangkat senjata, kini menjadikan kekuasaan sebagai sumber ekonomi pribadi, bukan sebagai amanah kolektif rakyat.
Padahal jika kita melihat sejarah Aceh, sejak masa Iskandar Muda hingga masa perlawanan terhadap kolonialisme, Aceh memiliki tradisi politik berbasis pada akal budi, musyawarah, dan kemandirian. Inilah yang disebut sebagai politik peradaban. Bukan politik tipu-menipu, bukan politik uang, bukan pula politik ikut-ikutan seperti zombie kekuasaan dari Jakarta.
Bab VII – Jalan Sunyi Para Pemikir Bangsa
Menjadi pemikir bangsa bukanlah jalan yang ramai. Ia tidak dilalui oleh tepuk tangan, tidak pula diiringi gemuruh pujian. Jalan ini sunyi. Kadang sepi. Kadang juga penuh luka, karena yang dilawan bukan hanya sistem yang rusak, tetapi juga mental rakyat yang sudah terbiasa dibodohi dan dimanja oleh kekuasaan yang tidak mendidik.
Di Aceh, jalan ini bahkan lebih sunyi. Karena siapa yang bersuara kritis, sering dicurigai. Siapa yang berpikir panjang, dianggap berbahaya. Siapa yang membawa gagasan, dituduh ingin menjatuhkan. Dalam iklim seperti itu, para pemikir lebih sering disingkirkan, dilecehkan, bahkan dianggap gila. Padahal sejarah bangsa ini justru dibangun oleh mereka yang dulu dianggap asing, aneh, bahkan berbahaya oleh masyarakat sezamannya.
Bab VIII – Membangun Gerakan dari Kesadaran, Bukan Kemarahan
Banyak orang ingin berubah karena marah. Tapi marah yang tidak dibimbing oleh kesadaran akan menjadi amuk, bukan gerakan. Sejarah sudah membuktikan, revolusi yang lahir dari amarah saja tanpa arah dan pemikiran akan berakhir dalam kekacauan, bukan kemajuan.
Gerakan yang ingin kita bangun bukan untuk melampiaskan dendam atau kemarahan. Kita tidak sedang membalas, kita sedang membenahi. Kita tidak sedang menyalahkan, kita sedang menghidupkan kembali nalar yang mati. Kita ingin menunjukkan bahwa dalam dunia yang penuh kebisingan dan kebohongan, masih ada ruang bagi kebenaran yang lahir dari kesadaran yang jernih.
Gerakan ini lahir dari tulisan. Dari pikiran yang jujur. Dari suara yang berani mengalir melawan arus, namun tetap menjaga akarnya pada keadaban. Inilah gerakan yang tidak mengandalkan massa yang dibayar atau akun-akun palsu di media sosial. Ini adalah gerakan yang lahir dari pikiran yang bebas, dari keyakinan bahwa satu kalimat jernih lebih kuat daripada seribu teriakan kosong.
Bab IX — Penutup dan Seruan Akhir
Waktu telah menunjukkan kepada kita semua bahwa menunggu tidak akan mengubah keadaan. Diam tidak akan menyelamatkan rakyat. Menyesuaikan diri dengan sistem rusak hanya akan menambah luka sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kini, setelah sekian lama kita memendam keresahan dan menyimpan kemarahan dalam diam, saatnya kita berdiri. Tapi bukan sebagai pemberontak tanpa arah. Bukan pula sebagai pemimpi kosong yang terjebak nostalgia masa lalu. Kita berdiri sebagai manusia sadar—yang memilih untuk hidup dalam kebenaran dan memperjuangkan masa depan.
Gerakan ini bukan milik saya. Bukan milik satu orang. Ini milik semua orang yang telah kecewa tapi tidak menyerah. Milik semua yang pernah dikhianati oleh janji politik, tapi tetap percaya pada kekuatan kata dan akal sehat.
Saya tidak ingin dikenang sebagai politisi. Tidak juga sebagai tokoh. Cukuplah jika saya disebut sebagai saksi zaman, yang memilih menulis di saat orang lain memilih menjilat. Yang memilih bertapa di gunung Seulawah di saat politik menjadi ladang jual beli kehormatan.
Seruan ini saya tujukan kepada semua anak muda: bangkitlah. Jangan biarkan sistem yang buruk mewariskan cara pikir yang buruk pula. Jadilah pembelajar, penulis, pengkritik, dan pemimpin yang tahu arah. Jika engkau ragu, bacalah sejarah. Di sana kau akan temukan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari orang banyak, tapi dari satu dua orang yang punya nyali dan nurani.
Bangun Aceh. Bangun Indonesia. Bangun manusia. Bukan dengan air mata dan drama, tapi dengan pikiran yang jernih, tindakan yang terukur, dan tekad yang tak bisa dibeli.
Inilah waktunya. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?
Gerakan Kesadaran telah dimulai. Jangan biarkan ia padam.
Terimakasih, Selamat membaca — Tarmidinsyah Abubakar
Goodfathers Adalah Nama Pena semua orang dewasa, siapa saja yang berani menyandangnya dan mengabdi kepada sesama rakyat pada jalan yang benar yang suatu saat dibutuhkan oleh siapa saja, ia mampu dihadapkan ke altar pertanggung jawaban kepada manusia dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
