Saya Bukan Anak Buah Ketua Umum, Saya Kader Partai Politik

Saya Bukan Anak Buah Ketua Umum, Saya Kader Partai Politik Oleh : goodfathers Di banyak partai politik, kader sering dianggap “anak buah” ketua umum. 

Kalau ketua bicara, kader harus diam. Kalau ketua salah, kader tetap harus tepuk tangan. Kalau ketua menunjuk orang dekatnya, kader yang sudah berjuang dari bawah harus rela tersingkir. Ini bukan partai politik. 

Ini model kerajaan kecil. Padahal, partai dibentuk sebagai rumah rakyat, bukan sebagai perusahaan keluarga. Kader adalah pemilik sah partai, bukan buruh harian yang bisa dipecat sesuka hati. Tanpa kader, partai hanyalah papan nama kosong. Demokrasi Internal Itu Vital Kalau partai menutup ruang demokrasi internal, berarti partai itu sedang berjalan menuju kuburnya. Sehebat apapun ketua umum, tanpa musyawarah partai hanya akan jadi kendaraan pribadi. Dan rakyat akan menilai: “Ah, itu bukan partai, itu perusahaan politik milik segelintir orang.” 

 Partai yang sehat justru berani membuka ruang musyawarah. Biarkan kader bicara. Biarkan ada perbedaan. Dari situ lahir keputusan kolektif yang lebih kuat daripada titah satu orang. Kader Bukan Anak Buah Kalau kader hanya diperlakukan sebagai “pasukan suruhan”, maka cepat atau lambat partai akan ditinggalkan. Kader sejati adalah pemegang mandat rakyat.

Suara kader tidak boleh ditukar dengan amplop jabatan atau rasa takut pada ketua. Islam sudah memberi teladan melalui As Syura—semua urusan diputuskan melalui musyawarah. Kalau partai di Aceh atau di Indonesia masih saja bergaya feodal, berarti mereka lebih mundur daripada ajaran yang sudah ada sejak 1400 tahun lalu. Pesan untuk Kader Muda Aceh Berhentilah merasa kecil di hadapan ketua.

Ingat: tanpa kader, ketua bukan siapa-siapa. Partai besar karena keringat kader, bukan karena nama besar satu orang. Kalau ingin Aceh maju, mulai dari sini: partai politik harus sehat, demokratis, dan dimiliki kader. Jika tidak, partai hanya akan jadi warisan pribadi yang dijual ke pasar kekuasaan.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil