Demokrasi Itu Obat, Tapi di Tangan Dokter Palsu Jadi Racun



Demokrasi Itu Obat, Tapi di Tangan Dokter Palsu Jadi Racun

Demokrasi, pada hakikatnya, adalah obat mujarab bagi bangsa yang ingin hidup bermartabat. Demokrasi memberi ruang bagi rakyat untuk bersuara, memilih, mengoreksi, dan menjaga kehormatan dirinya sebagai manusia merdeka.

Namun, seperti obat, demokrasi hanya bermanfaat jika berada di tangan dokter yang benar. Jika jatuh ke tangan “dokter palsu”, yang tidak paham cara meracik dan menyalurkannya, maka obat yang mestinya menyembuhkan malah menjadi racun mematikan.

Inilah yang sering terjadi di negeri kita. Demokrasi dianggap biang kerok kegaduhan, padahal sesungguhnya demokrasi telah diracuni oleh orang bodoh dan haus kuasa. Mereka bukan ahli demokrasi, melainkan tukang tipu yang menjual demokrasi untuk kepentingan pribadi.

Salah Obat, Salah Dokter

Rakyat sering salah arah. Ketika negara kacau, mereka berkata: “Demokrasi gagal.” Padahal yang gagal bukan sistemnya, tapi orang yang mengelolanya. Sama halnya ketika pasien meninggal bukan karena obat, tapi karena dokter salah memberi resep.

Sejarah Indonesia membuktikan hal ini:

RIS (Republik Indonesia Serikat) gagal bukan karena bentuk federasi itu jelek, tapi karena dimainkan oleh elit politik yang tidak paham dan akhirnya jadi boneka Belanda.

Demokrasi di Aceh pun sering rusak bukan karena demokrasi itu sendiri, melainkan karena dipegang oleh orang yang mentalnya otoriter. Akhirnya rakyat disuguhi racun politik, padahal yang dijanjikan obat keadilan.


Demokrasi Sejati = Pemimpin Ahli

Dalam Islam sudah diajarkan: “Serahkan sesuatu kepada ahlinya.” Kalau urusan demokrasi diserahkan pada orang yang tidak paham demokrasi, sama saja menyerahkan nyawa pada tukang ramal jalanan yang mengaku dokter.

Demokrasi sejati hanya mungkin hidup jika dijalankan oleh pemimpin yang paham ilmu demokrasi, yang menghargai manusia, yang rela melayani rakyat. Bukan oleh mereka yang menjadikan demokrasi sekadar topeng untuk menutupi keserakahan.

Demokrasi Palsu = Racun bagi Rakyat

Demokrasi palsu selalu menghasilkan racun:


Partai politik berubah jadi pedagang suara.

Rakyat kehilangan harapan, lalu menyalahkan demokrasi.


Padahal racun itu bukan demokrasi, melainkan dokter palsu yang menipu rakyat.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil