Jangan Biarkan Pemimpin Politik Menyapa Kader Dengan Kata Sudah Makan

đź’˘Kebiasaan basa-basi pemimpin politik atau pejabat bila bertemu kader dan rakyat sudah waktunya diubah mengingat kondisi sekarang yang sudah jauh berbeda dengan kondisi masa lalu.

Saya sejak dulu mengajarkan kader ketika kebetulan mereka bertemu pemimpinnya supaya mereka mengalihkan pembicaraan ke tema produktifitas. Ada kebiasaan turun temurun dari pimpinan kita setiap bertemu kader dan rakyatnya mereka senantiasa dengan kata-kata klasik "sudah makan?" atau "sudah ngopi?" saya melihat fenomena ini kemudian menggolongkan sapa mereka dengan 3 macam.

Pertama, yang menyapa dengan kalimat sudah makan atau minum saya golongkan Malas dan Manusia Statis serta pikirannya hanya dalam lalai dan kurang peduli dengan kondisi kadernya.

Kedua, yang menyapa dengan kalimat "Gimana Sehat" saya golongkan pemimpin Netral, artinya yang penting sehat persoalan lain mereka tak peduli.

Ketiga, yang menyapa dengan kalimat "apa kerja, atau yang mereka yang kontraktor ditegur dengan "lagi ngerjain proyek apa?" atau "sudah dapat apa dan berapa?" yang begini saya golongkan pemimpin produktif dan memahami posisinya sebagai pemimpin.

Karena ajaran ini setiap berjumpa pimpinan partai ketika itu, beberapa kader membantah dan mengalihkan pembicaraannya dari soal makan ke produktifitas. Ketika pemimpin mananyakan sudah makan mereka bilang "bapak ini nanyakan makan aja,,,,terus pimpinan menjawab, lalu apa yg saya tanyakan? Ya soal pekerjaanlah, jawab kader. Aah,,,,pasti kamu sudah dicuci otaknya sama Edo kata pimpinan.

Akhirnya sebahagian kader yang dekat dengan saya melakukan hal yang sama sehingga ketua partai kala itu gerah dan menganggap saya biang kerok mengerjai dia, padahal maksud saya tidak lain untuk merubah cara pikir kader dan pimpinan agar mereka produktif.

Karena melakukan perubahan terhadap hal-hal yang menjadi kebiasaan dengan cara yang belum didengar oleh para pemimpin politik mungkin saja saya dianggap sebagai pemberontak dan pengganggu kenyamanan mereka, sehingga terjadilah kesenjangan berpikir antara saya dan pimpinan partai politik yang lain.

Seharusnya saya tidak mengajarkan hal itu ke kader tetapi cukup bagi saya yang melakukan yang tentu saja sangat memahami psikology pimpinan. Tapi saya memang suka bermurah memberi tip dan trick kepada kader agar mereka berhasil dalam hidupnya dan punya hasil yang baik atas kerja mereka dalam politik yang tentu saja membawa nama baik kita sebagai salah seorang pimpinannya.♨️

Semoga bermanfaat.

Salam




Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil