Metode Pembangunan Yang Justru Melemahkan Masyarakat Berkelanjutan
Tangan-tangan jahil itu tanpa sengaja telah melakukan pekerjaan yang sedianya dilakukan oleh buruh kasar dalam membangun rakyat Aceh. Mereka hanya bisa menggerakkan pembangunan dengan dua tangan dan ditambah tangan para pembantu mereka. Mereka menggunakan tenaga dan energi seperti manusia dijaman batu dalam urusan membantu rakyat. Padahal kewenangan jabatannya untuk membuat kebijakan rakyat menjadi berdaya dan mandiri adalah tugas, peran dan fungsi keberadaan mereka di posisi itu.
Suatu kebijakan dapat mengalahkan seribu tangan mereka untuk membantu masyarakat Aceh. Intervensi apa sebenarnya yang dibutuhkan rakyat? Tidak lain adalah keberdayaan, kemandirian masyarakat agar mereka bisa menghadapi berbagai tantangan baik yang datangnya dari goncangan ekonomi maupun goncangan alam.
Sedikit warga yang tidak dapat berjalan melewati jembatan gantung ketika mereka menyeberang sungai yang sedang bandang. Bahkan mereka warga lebih kuat dari fisik anda yang memiliki jabatan dan terbiasa hidup dalam ketidaksusahan. Padahal yang mereka butuhkan dari anda adalah kebijakan minimal yang melahirkan jembatan itu yang lebih luas dan kuat serta nyaman mereka lalui. Bahkan ada yang lebih sempurna ketika mereka mampu berkontribusi untuk membangun jembatan itu atas swadayanya karena kebijakan yang lahir dari pikiran anda dalam membangun kompetensi ekonominya sehingga mereka bukan hanya sebatas untuk bisa memenuhi kebutuhan pokoknya hari ini dan besok.
Yang terakhir itu meski kita anggap berlebihan tetapi di belahan bumi lain banyak sekali yang telah melakukannya. Karena mereka tidak menempatkan uang negara untuk membangun kandang ayam bertaraf internasional untuk pemenuhan kepuasan dan mengangkat arogansi pendukungnya dimata rakyat supaya masyarakat lain juga mengikuti mereka untuk memperoleh fasilitas ketidakadilan sosial itu.
Fenomena model pembangunan masyarakat sekarang ini bisa dipersepsikan dalam dua pandangan dengan memperhatikan sumber daya manusia mereka sebagai pelayan rakyat.
Pertama, jika mereka memiliki pengetahuan tentang pembangunan yang benar maka prilaku dan kebijakan mereka sekarang adalah disengaja. Tujuannya melemahkan masyarakat kemudian mereka hadir sebagai tokoh yang menyerupai Robin Hood, atau sebagai pahlawan masyarakat miskin. Dari itu ada poin politik yang marginnya begitu besar dalam hubungan emosional masyarakat dan politisi.
Kedua, jika mereka menganggap memang demikian metodenya, maka dapat dipastikan bahwa para pemilik jabatan pemerintahan adalah manusia bersumberdaya lemah dan konsekuensinya adalah masyarakat akan tetap terpuruk serta tidak pernah bangkit karena mereka beranggapan demikianlah idealnya tugas, peran dan fungsi pejabat yang diberikan oleh negara.
Demikian ini pandangan penulis dalam kacamata pembangunan yang normatif. Bahwa negara menghendaki pelayan masyarakat itu adalah mereka yang mampu menggunakan otaknya untuk berpikir agar masyarakat dipimpin dan dibimbing untuk berdaya dan mandiri.
Salam
