Ramai Mengeksploitasi Marwah Bangsa Untuk Kepentingan Pribadi"
Seringkali kita mendengar mulut para politisi bicara marwah bangsa. Bahkan ada yang tidak memahami maksudnya sekalipun ikut mengucapkan itu untuk menundukkan dan memerintahkan orang lain supaya diam dan mengikuti kehendaknya dalam kehidupan suatu masyarakat, karena itu pula kemudian anda menyebutnya pengkhianat.
Padahal anda dan yang dituduhkan sama-sama tidak cukup pengetahuan untuk memahami definisi dan maknanya, terjadilah saling tuduh dan saling tidak percaya lintas masyarakat. (itulah katagori kebodohan sosial). Karena situasi sosial begini maka orang pintar terbunuh karakternya (terfitnah) dan orang bodoh berkuasa.
Perbedaan ini terlihat dalam sistem kehidupan politik di tempat kita dan rata-rata negeri yang berkembang dalam perpolitikannya. Mereka jarang sekali mengucapkan itu tetapi tahapan pekerjaannyalah yang perlu dipahami oleh seluruh rakyatnya. Tetapi progres itu dalam pekerjaan keseharian mereka mengurangi pengangguran, memastikan semua rakyatnya bekerja, menyantuni yang belum bekerja dan tidak bisa bekerja, merencanakan pendidikan generasi yang baik, membangun sopan santun pada masyarakatnya dll yang membawa masyarakat hidup dengan prilaku beradab baik sesama maupun dengan bangsa lain. Bahkan untuk membangun peradaban sebuah bangsa mereka membuat sanksi bagi para penipu yang dapat dibuktikan dengan ucapan termasuk dalam politik orang tidak bisa menipu karena akan dipidana. Untuk apa dalam politik?
Mereka membangun peradaban politik yang tidak menghalalkan segala cara, mereka ingin membangun politik yang jujur sebagai seni meraih kekuasaan secara terhormat yang tidak abal-abal demi menjaga marwah bangsa. Dengan politik yang beradab dimana politik tidak dianggap penipuan atau sebatas siasat dan propaganda maka kepemimpinan pun lebih dipercaya oleh rakyatnya dan bangsa lain dan tentunya terhormat pula.
Ketika politisi dan pemimpin terlahir dalam proses yang terhormat, berorientasi pada kecerdasan pemikiran dan konsepsi maka pemimpin itu lebih berwawasan dan memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dibanding rakyatnya dan bisa mengarahkan kehidupan rakyatnya secara santun untuk mencapai tujuan kesejahteraan bersama.
Lantas, darimana anda mulai?
Mendidik demokrasi yang utuh kepada semua organisator, agar dilakukan penertiban organisasi semua organisasi yang tidak terbuka, termasuk partai politik. Jadi pendaftaran organisasi pada lembaga sospol itu bukan sebatas melihat Ad/Art organisasi tetapi mekanisme pembentukan organisasi, dan mekanisme pemilihan pimpinan semua tingkatan, ini tidak rumit karena pemerintah ada disemua tingkatan.
Jadi tidak ada organisasi abal-abal yang didirikan oleh hanya 1 dan 3 orang pengurus untuk pembentukan organisasi. Karena pada dasarnya organisasi itu didirikan adalah karena ada permasalah bersama atau kebutuhan bersama atau tujuan bersama masyarakat dan tujuan negara.
Nah, jika organisasi ini sudah beradab, semua anggota patuh dan taat pada landasan hukum organisasi, tidak perlu berebutan ketua karena ketua itu sifatnya kordinatif dan memimpin secara kolektif kolegial, terjadi kesamaan hak dan kewajiban, terbangunnya keadilan yang nyata kepada rakyat, tertibnya aturan hukum dan sanksi ditengah pemerintah dan rakyat maka peradaban bangsa akan terbentuk dengan sendirinya. Itulah yang mungkin anda bisa menyebutnya sebagai Marwah bangsa.
Jadi intinya demokrasi dipahami secara benar sebagai sesuatu kewajiban bukan melihat demokrasi sebagai mekanisme pemilihan, jadi demokrasi itu nyaris sama dengan penerapan kata Jujur dalam masyarakat, demokrasi juga begitu dia harus merasuk dalam hati masyarakat, karena jika mereka tidak demokratis maka mereka adalah perampas yang memaksakan kehendak.
Ketika seseorang disebut demokratis maka ia telah memenuhi prinsip demokrasi yakni menghargai perbedaan, menghargai kesetaraan, menghormati azas musyawarah dan mufakat, menjauhkan politik identitas dan yang lain-lain yang menghambat pembentukan manusia dan masyarakat demokratis sehingga membentuk peradaban yang benar-benar menghargai hak orang lain dalam hidupnya.
Jadi demokrasi jangan dipahami sebagai sebatas mekanisme pemilihan langsung, pemilihan yang tidak langsung atau dengan perwakilan juga demokrasi asal terpenuhi azas dan prinsip demokrasi, ketika tidak ada hak orang lain yang dibatasi dan dilanggar. Itulah demokrasi yang sesungguhnya.
Oleh karena itu pengkaburan atau penolakan terhadap demokrasi pada suatu wilayah itu tergolong pembodohan sosial karena masyarakatnya dibiarkan merebut apapun secara tidak demokratis dan jika ini terus berlangsung maka berhentilah bicara Marwah Bangsa karena itu hanya Lelucon dan anda tidak paham dengan apa yang anda ucapkan, bahkan anda berprilaku memaksakan kehendak kepada orang lain terhadap tujuan anda, bukan mengajak mereka berpikir yang terbaik bagi masa depan mereka kemudian anda menjalankan harapannya. Maka pemimpin tanpa ilmu pengetahuan adalah Bulsyit...mereka tidak pernah memimpin tetapi mereka hanya anda angkat status sosialnya yang tinggi untuk hidup dalam kemapanan dan jabatan di kita hanya sebatas naikkan derajat bukan potensi dan komptensi sebagaimana negara lain perlakukan dan persepsikan. Terlalu banyak hal dan istilah yang dalam masyarakat kita salah dipahami secara berjamaah sehingga kita kelirulah dalam jamaah yang sempurna.
Maka mari kita ke jalan yang lurus,,,,Ihdina siratul mustaqim,,,,🦟🌴
Demikian narasi singkat ini semoga bermanfaat.
Salam


