Pikiran Adalah Alat Pemersatu Manusia Yang Berpikir

Oleh 

Tarmidinsyah Abubakar

Pernahkah anda merasakan ketika dalam kehidupan masyarakat tiba-tiba anda merasakan kecenderungan yang sama dengan orang-orang yang anda memiliki kesamaan cara berpikir bahkan anda sama sekali tidak mengenal secara dekat orang-orang yang cara pikirnya sebagaimana diri anda.

Jika hal ini pernah anda rasakan maka anda tergolong manusia yang penuh tanggung jawab, anda akan mengkuatirkan hal-hal yang negatif pada masyarakat, anda mengkuatirkan ketidakadilan terhadap masyarakat, anda juga mengkuatirkan orang-orang terpuruk dalam kemiskinan, anda kuatir dengan kekerasan dan premanisme, anda kesal kepada prilaku polisi yang meminta uang kepada pengendara dan lainnya. Cara pikir anda sehat dan normal sehingga keinginan anda adalah melihat sesuatu dilakukan secara normal, secara konseptual sebagaimana dipikiran anda.

Pemeliharaan nilai-nilai normatif tersebut dalam pikiran anda itulah yang membuat alur berpikir anda menjadi seseorang yang memiliki identitas dan membentuk diri anda menjadi seseorang yang memiliki sikap dalam hidup terhadap semua bidang terutama dalam hal sosial dan politik. Kenapa politik? Karena politik adalah ilmu yang sangat kompleks yang mengatur bidang kehidupan lainnya. Karena itu pula anda yang berpikir sebagaimana diatas dalam politik akan membentuk diri anda memiliki jiwa kepemimpinan dan menarik hasrat anda untuk menyokong kekuasaan untuk tokoh yang memiliki kesamaan cara pandang dengan anda. Hal ini tidak hanya berlaku bagi kaum lelaki tetapi perempuan justru lebih sensitif melihat dan mempelajari pemikiran yang ideal tersebut. (kenapa perempuan lebih cepat memahami akan dijelaskan pada tulisan yang lain).

Dalam politik dan sosial meski anda tidak melakukan kegiatan sebagaimana pekerjaan fisik buruh namun ketetapan pemikiran anda akan membentuk karakter yang sangat kuat sehingga anda merasa geram dengan prilaku politik sosial yang menyimpang. Dengan pemikiran yang normatif anda juga dengan mudah mendeteksi abuse power atau penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin.

Berikut anda akan menempatkan tokoh bisnis, tokoh politik yang memiliki kesamaan cara pikir dengan anda, pada saat tertentu anda juga sangat geram terhadap orang yang mendhalimi tokoh anda bahkan anda akan menghujat dan mengkritik prilaku mereka sebagai yang tidak wajar dan curang.

Ketika terbentuk jiwa-jiwa seperti ini pada orang tertentu maka prinsip-prinsip ini akan menjadi bahagian dari ideology hidup dan orang yang mengalami demikian sulit untuk disogok atau dipengaruhi oleh pemikiran yang menyimpang, bukan lagi oleh faktor suka dan tidak suka terhadap orang bukan pula oleh faktor menang dan kalah dalam pemilihan karena mereka memegang teguh ajaran hidupnya (Ideology of Life)

Kecenderungan pemikiran inilah yang disebut pengaruh politik yang sesungguhnya, bukan sebagaimana yang kita temukan dalam perpolitikan kita selama ini dimana orang dipengaruhi oleh faktor pemberian bantuan, uang dan  fasilitas. 

Pertanyaannya, apakah orang yang dipertemukan dengan pemikiran ini bisa secara mutlak memenangkan pemilihan politik? Jawabnya tentu saja tidak tergantung pada jumlah masyarakat yang menggunakan pikiran dan jumlah masyarakat yang memanfaatkan kesempatan bahkan bisa saja dikalahkan oleh kalangan yang sama sekali tidak menggunakan pemikiran dalam politik.

Dengan begitu maka kita bisa membuat interpretasi terhadap politik khususnya dalam melahirkan seorang pemimpin, jika banyak orang yang menggunakan pikiran maka akan melahirkan pemimpin yang cerdas yang memenuhi standar kepemimpinan rakyat tetapi bila masyarakat lebih banyak yang tidak menggunakan pemikiran tentu saja pemimpin yang dilahirkan juga orang-orang yang tidak memenuhi kriteria kepemimpinan rakyat apalagi pemimpin yang diharapkan membawa perubahan dalam kehidupan suatu masyarakat. Semoga ada masanya rakyat Aceh sampai pada tahapan masyarakat yang berpikir dengan kata lain menggunakan otak.

Salam
Penulis Adalah
Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh






Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil