"Pekerjaan Konsultan Politik Masih Sempit di Aceh, Politisi Yang Melakukan Itu Hanya Mereka Yang Berwawasan Profesionalisme"

Suatu ketika saya diajak bertemu oleh suatu komunitas untuk konsultasi persoalan kasus politik karena pertemuan ini yang tidak berkorelasi dengan kekaderan maka boleh digolongkan ini pertemuan bisnis bagi saya yang sekarang berprofesi sebagai profesional di bidang kasus-kasus pemerintahan, lagi pula saya tidak ingin berurusan dengan pengurusan kasus-kasus mereka yang seabrek itu secara politis apalagi dalam pemerintahan sekarang di Aceh. 

Saya memilih perbaikan mentalitas dan memberi masukan secara ideal terhadap keberadaan kepemimpinan rakyat Aceh. Kalau itu bermanfaat Alhadulillah jika tidak dianggap bermanfaat ya tak apa-apalah,,,,

Ceritanya begini, setelah bertemu mereka membisikkan masalahnya dimana yang mereka hadapi kepala daerah yang juga pimpinan partai politiknya. Mereka merasa telah menutupi fungsi mereka sbg wakil rakyat kepada masyarakatnya tapi itu karena partai katanya dan tidak mungkin kami berhadapan secara terbuka dengan kepala daerah. 

Selesai mendengar semua, yang pertama saya tanya adalah, anda mewakili rakyat atau mewakili partai. Bahwa pertai juga perlu menjadi bahan pertimbangan apabila tidak saling berhadapan. Apakah anda ingin memelihara diri anda dalam konspirasi mendhalimi rakyat dan menampung dosa karena anda juga beragama. 

Setelah dijawab tidak, maka saya barulah memberi strategy tahapan melakukan penyelesaian terhadap kasus politik itu dengan ending melepaskan dia dari belenggu yang salah kaprah akibat kelemahan pikiran pimpinannya yang juga kepala daerah. Sebenarnya dalam konstelasi politik yang paling penting adalah positioning, tanpa bisa anda memberi masukan yang membuat pimpinan anda berpikir dengan kesadarannya maka positioning yang aman itu tidak akan terjadi dan anda dalam politik bagaikan orang gelisah dan dikejar-kejar oleh bayang-bayang.

Pembicaraan ini akhirnya saya tutup dengan sampai ketemu dan menerima amplop konsultasi sebesar Rp. 20 Juta. Anda menganggap ini gede tapi bagi yang paham tentu biasa jumlah itu, tapi bagi politisi yang tidak punya inisiatif untuk memyelesaikan kasus-kasus politik daerah seperti background Toke tentu dia takkan paham kenapa dia harus membayar kepada konsultan, dia tidak berpikir tentang pekerjaan yang dilakukan sendiri olehnya dengan yang dilakukan meminta bantuan konsultan politik sebagaimana politik dinegara yang terlebih dahulu makan asam garamnya politik.

Kemudian uang ini saya bersihkan dengan menyerahkan 10 persen (2 jt)  tambah 200 ribu biaya ke seseorang utk dibagikan kepada yang benar-benar kesusahan kebutuhan pokoknya, tidak perlu di foto dan tidak perlu dilaporkan kepada saya karena itu menjadi tanggung jawab anda sepenuhnya dan yang ada diantara kita hanya Allah, Malaikat dan Jin.

Demikian, hari itu saya beranjak ke mobil kemudian singgah ke warkop yang biasa saya jadikan pos ngobrol bersama teman2 dan saya minum kopi dengan merek tertentu.

Salam





Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil