Pemimpin Sukses Tidak Pernah Sibuk Dan Tak Pernah Takut Di Kritik


Oleh
Tarmidinsyah Abubakar

Dalam teori kepemimpinan disebutkan bahwa seorang pemimpin yang sukses tidak akan pernah sibuk. Dia senantiasa punya waktu istirahat yang cukup untuk menjaga stamina dan ketenangan pikirannya.
Bagaimana mungkin ia tidak sibuk jika anda melihat aktivitasnya seabrek itu?

Jawabnya tidak lain adalah pendelegasian kewenangan kepada bawahan yang sempurna sebagaimana suatu manajemen yang ideal sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pendelegasian ini juga harus diatur dalam sebuah peraturan yang perlu disosialisasikan kepada masyarakat bukan hanya diketahui oleh mereka bawahan yang mendapat tugas tersebut.

Kenapa wajib diketahui masyarakat?
(Banyak aspek yang menjadi pertimbangan dan manfaat, silakan diterawang sendiri).

Saya mendapatkan banyak cerita tentang biografi pemimpin yang terbilang sukses dibelahan bumi lain baik dalam politik maupun dalam manajemen organisasi lain dalam mencapai tujuan mereka.

Sebahagian besar dari mereka akan tidur pada waktunya sebagaimana masyarakat biasa. Mereka akan makan pada waktu yang sama dengan masyarakat makan. Mereka berpiknik dengan keluarganya sebagaimana masyarakat biasa.

Logika dasarnya adalah bahwa semakin tinggi jabatan atau status sosial seseorang maka ia akan semakin mudah dan tenang hidupnya jika ia bisa memimpin. Karena memimpin adalah pekerjaan seni dalam mengelola kewenangan (kekuasaa) yang hakikatnya kerjasama.

Maka seorang pemimpin yang demokratis tidak pernah tergopoh dalam menggunakan kekuasaannya (tapi bukan dalam arti lamban sebagimana kebanyakan pemimpin di kita).

Lantas kenapa mereka yang sukses memimpin justru lebih tenang? Karena ia punya semua alat dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan pekerjaan pelayanan publik.

Berikutnya, pemimpin yang sukses itu mereka sudah punya formulasi terhadap berbagai keputusan yang bakal dihadapi, biasanya mereka tinggal memilih formula A, Formula B dan Formula C. Jawaban itu dengan sendirinya menjadi kebijakan publik yang perlu di laksanakan oleh bawahannya.

Satu hal berikutnya seorang pemimpin yang demokratis akan selalu menutup celah-celah kelemahan yang bisa dikritik oleh oposan atau masyarakat pengkritik. Karena apa yang dikritik akan dijawab dengan kebijakannya. Demikian pula sikapnya terhadap pengkritik justru sang pemimpin memberi apresiasi dan perhatian yang lebih besar karena ia paham pekerjaan pengkritik juga sebagai bahagian dari pendidikan sosial atau minimal sebagai perbandingan atau bisa digunakan untuk penyempurnaan dalam ia membuat kebijakan publik.

Bahkan dalam komunikasi politik antara si pemimpin dengan pengkritik sangat harmonis bukan berseteru dan bertengkar sebagaimana kebiasaan yang kita saksikan di kepemimpinan masyarakat kita.

Kenapa demikian?
Karena dengan menghargai pengkritik justru menunjukkan kebesaran jiwa sang pemimpin dan ia tidak pernah panik. Kalau ia panik maka berkurang lagi syaratnya sebagai pemimpin dan menunjukkan mentalnya yang tidak siap sebagai pemimpin.

Bahkan ada pemimpin yang sengaja membuat lembaga untuk mengkritik dirinya untuk menyempurnakan kepemimpinannya. Hal ini menjadi aneh bila dipandang dengan kacamata biasa. Tapi berbeda dengan kacamata mereka yang ingin kualitas penyempurnaan kepemimpinan.

Semoga bermanfaat dan bisa menjadi masukan bagi pemimpin kita.

Penulis adalah :
Pemerhati Politik dan Sosial serta Pemimpin Politik Muda Indonesia Amerika tahun 2013, sekarang Berdomisili di Aceh


















Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil