Pemimpin Wajib Lebih Cerdas Karena Harus Membimbing dan Mengawasi perkembangan Rakyat
Terserah apa pandangan saudara semua tentang para pemimpin negeri ini, tapi penulis sebagai rakyat saat ini sama sekali sulit menerima dipimpin oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas dan berprilaku kurang wajar sebagai pemimpin. Tentu keberadaan seorang pemimpin begitu sakral untuk kemajuan rakyatnya, jika ia tidak pintar berbagi kekuasaan maka ia juga sesungguhnya tidak mampu memegang kekuasaan.
Seorang pemimpin tidak hanya melihat jabatan pihak lain dalam bekerjasama atau berbagi kuasa tapi memandang elemen yang cerdas dan memiliki kesamaan cara pandangnya, sehingga ia bisa mengelola dan mengendalikan kekuasaan. Bukan sebatas merangkul orang dengan melihat banyak dukungan karena yang mendukung bisa saja masyarakat yang tidak paham pembangunannya sendiri.
Pemimpin itu tidak bisa berprilaku sibuk sebagaimana manager yang harus tahu semua urusan kerja, maka jika anda lihat pemimpin dari bangun tidur hingga tidur lagi sudah dikawal dan dijaga ketat supaya aman dalam membuat perintah dan melakukan aktivitasnya ketika memimpin. Menurut saya sangat aneh jika fasilitas yang sempurna tetapi masih saja belum bisa melahirkan pikiran-pikiran yang baik untuk rakyat. Tidur di kamar yang sejuk, makan diruang yang dipenuhi makanan, minum dan santai di ruang yang indah, jalan dengan mobil yang bagus, tidur malam dijaga oleh orang lain, mau keluar negeri tinggal agendakan, tidak ada yang kurang.
Dr. John Alizor, penulis buku “Leadership: Understanding Theory, Style and Practice” (WestBow Press, 2013), intinya telah menemukan kesalahpahaman umum diantara para pemimpin tentang menjalankan pekerjaannya sebagai pemimpin.
Menurutnya, manajer berperan dalam mengendalikan aktivitas dan bekerja keras untuk terlibat dalam segala hal yang mereka bisa. Sedangkan tanggung jawab seorang pemimpin adalah memimpin dengan membimbing dan mengawasi. Karena itu yang dibutuhkan adalah kecerdasan otaknya untuk melakukan bimbingan kepada stakehokders dan masyarakatnya.
Tapi yang perlu diingat pemimpin yang memang memiliki pikiran yang cerdas dimanapun bisa melahirkan pemikirannya, maka sebahagian besar pemimpin yang memiliki pikiran yang mumpuni tidak begitu membutuhkan fasilitas yang nyaman, mereka cenderung menafikan itu tapi mereka berorintasi pada kerja misi dan visinya mengejar tahapan capaian kesejahteraan rakyat.
Oleh karena itu saya juga ingin menyampaikan kepada khalayak bahwa tidak akan ada pencapaian apapun pada pemimpin yang tidak bisa mempertegas tahapan kemajuan bersama kepada rakyat, karena objek yang dibangun itu adalah rakyat sementara mereka tidak pernah merasakan adanya perbaikan pada hidup mereka tentu pembangunan itu juga sama sekali tidak ada. Kalau kita sedang sakit maka jika pemimpin itu dokter atau tabib maka setelah diobati beberapa kali tidak ada yang berubah atau tidak berkurang maka penanganan pasti tidak bekerja sebagaimana diharapkan, maka perlu diobati ke dokter lain atau mencari rumah sakit lain. Jika tetap disitu maka hanya berharap pada waktu dan istirahat untuk menyembuhkan atau menunggu mati (meninggal) dan kita sebagai pasien tentu tergolong orang yang tidak berpikir.
Dengan formulasi yang sama dalam konsepsi kepemimpinan maka saya ingin menyampaikan bahwa dalam satu tahun (satu kali anggaran dan respeknya selama enam bulan) seorang presiden atau kepala daerah tidak bisa menunjukan fondasi pembangunan atau memberi tanda secara rata-rata dalam pembangunan itu ada manfaat kepada rakyat maka ia bukanlah pemimpin yang tepat bagi anda.
Karena memimpin daerah dan negara sesungguhnya adalah kecerdasan anda dalam merancang konsep pembangunan sosial (bukan bangun gedung atau jalan sebagaimana orang teknik berpikir) tetapi pembangunan masyarakat yang meliputi pengoptimalan faktor-faktor modal pembangunan rakyat. Namun jika seorang kepala daerah masih mengikuti dan berharap pada birokrasi yang statis, bukan sebaliknya kepala daerah yang mengajarkan birokrasi untuk mencapai tahapan perubahan yang dilakukan oleh kepala daerah. Maka yakinlah pembangunan itu tidak pernah terjadi, paling juga hanya berlaku gonta-ganti pejabat eselon atau sibuk dengan pelelangan jabatan kinerja pemerintah tersebut hingga akhir hayatnya.
Lalu apa yang kita harap untuk merubah kondisi sosial sementara pemimpinnya sekedar menempatkan diri dan mencari pekerjaan agar terbebas dari tekanan kebutuhan. Padahal pemimpin jauh dari sebatas tujuan itu justru tanpa memiliki ilmu dan pemikiran-pemikiran besar mustahil presiden atau kepala daerah bisa membimbing dan mengawasi kehidupan dan perkembangan rakyat atau dengan kata lain melakukan pembangunan yang sebenar-benarnya pembangunan.
