"Survey Cagub Aceh, Waspadai Survey Setiran Yang Intinya Membodohi Rakyat""
Media sudah mulai memainkan survey calon gubernur, dalam politik ini disebut pembentukan opini, maka masyarakat perlu mewaspai survey setiran ini sebagaimana terjadi dimasa lalu.
Media itu juga lembaga politik, mereka akan mencari orang yang bakal disetir untuk mengamankan keberadaan dan kredibilitas mereka baik dalam kenyamanan usahanya bisa saja setiran itu datangnya dari pimpinan media itu sendiri dengan mempertimbangkan faktor kedaerahan dengan calon yang akan dibentuk.
Survey ini efektif untuk mempengaruhi kecenderungan publik, apalagi survey tsb tanpa pembanding. Oleh karena itu pembentukan seseorang utk menjadi calon kepala daerah bisa saja hanya sebuah rekayasa. Tentu saja si calon juga diminta mengorganisir pendukung setianya untuk memenangkan survey dimaksud.
Partai politik sering mengadakan survey tertutup, kemudian menjadi referensi bagi pengambilan keputusan, namun keputusan itu bukan mesti memilih yg pemenang survey tapi mengevaluasi sisi-sisi yang dominan dalam isi survey kemudian mereka melakukan pekerjaan politik untuk melakukan pemenangan bagi calon yg didukung meski bukan si pemenang survey.
Seringkali survey di Aceh dapat dikerjai, karena pelaku survey sebahagian besar itu kalangan mahasiswa dan generasi muda. Biasanya mereka membela kalangan kandidat dari generasi muda untuk mempercepat regenerasi dan sekaligus mereka lebih mudah membangun komunikasi dengan si calon yang muda dimaksud.
Tapi yang perlu dicatat bahwa masyarakat Aceh yg dominan Islam menganut sistem patrilineal dalam kepemimpinan keluarga, hal ini juga berpengaruh besar dalam politik, mereka juga lebih terpengaruh dengan kebapakan atau orang yang lebih tua atau lebih senior. Hal ini terjadi dalam sistem pengambilan keputusan ketika masyarakat memilih.
Begitu langka kalangan generasi muda memperoleh kemenangan dangan berbagai pertimbangan, apalagi pemimpin pada masyarakat Aceh itu lebih sebagai tetua, bukan soal kepintaran dan kecerdasan. Karena hampir tidak mungkin masyarakat memberi lebel kepada seseorang itu cerdas dalam politik karena sebahagian besar rakyat tidak cukup paham bagaimana idealnya dan indikator kecerdasan dalam politik dan juga strategy membangun masyarakat.
Tahun 2022 memasuki era persimpangan dalam era politik Aceh, tokoh-tokoh yg pernah berada dalam deretan pemilihan rakyat dimasa lalu masih bisa saja muncul, tetapi kepercayaan itu semakin kecil jika tidak ingin disebut telah hilang. Beberapa orang ahli dalam politik sosial ttg Aceh mengatakan bahwa tokoh2 tersebut telah membuat stagnasi dalam pembangunan dan kepercayaan publik dengan prilaku, kemampuan dalam politik serta pemerintahan dimana mereka yg cenderung mengecewakan.
Hal ini membuka peluang bagi bakal calon pemimpin baru yang dapat memenangkan dukungan rakyat Aceh. Begitu hakikatnya jika rakyat ingin merubah nasib dan masa depan maka mereka hanya perlu melahirkan pemimpin yang baru dan bernuansa sbg pembawa perubahan, mereka akan menciptakan harapan baru yg berpotensi daripada mengharap kepada mereka yg pernah tampil memimpin sebelumnya.
Tentu dengan harapan mereka yang bisa memberi warna berbeda, atau tidak berkait dengan faksi-faksi lama dalam politik di Aceh. Bahkan ini akan lebih efektif untuk meyakinkan pemerintah pusat dan tentu seseorang yang tidak berpura dan terjamin mentalitas, moralitas serta kredibilitasnya yang belum banyak terkontaminasi oleh gaya politik para pemain yang sudah pernah lancung. Demikian masukan utk rakyat. Terimakasih.
Salam

