Rakyat Aceh dan Feodalisme
Rakyat masih cenderung berharap mencari perlindungan sosok yang kuat secara fisik, bahkan rakyat lebih menaruh harapan pada preman dibandingkan pada orang yang berprilaku politik civil soviety yang mengedepankan kepentingan rakyat itu sendiri.
Indikator ini tentu saja menempatkan posisi mentalitas rakyat Aceh secara general masih dalam struktur sosial yang terjajah. Karena kita bicara mentalitas dan moralitas maka orang awam sulit memahami perkembangan sosial dimaksud. Rakyat hanya memahami bahwa secara statuta Aceh bukan lagi wilayah konflik dan menjadi wilayah normal karena rakyat tidak lagi melihat ada letusan bom, granat dan para serdadu menenteng senjata.
Rakyat sudah bisa bekerja secara normal, turun ke sawah dan kebun, kelaut dan berdagagang serta aktivitas lain sehingga sudah merasa aman dan tanpa intimidasi mental dan fisik sebagaimana masa konflik. Tapi pembangunan rakyat, apakah hanya sebatas itu?
Menurut hemat saya, pembangunan manusia Aceh masih jauh dari harapan, karena disamping memberi rasa aman juga perlu segera ada pembangunan politik dan kehidupan sipil yang merupakan tujuan adanya negara yaitu pencapaian kesejahteraan rakyat.
Apakah tahapan kesejahteraan itu sudah berjalan secara benar? Tentu saja belum, karena arah itu masih belum terorientasi secara benar, terutama pada tahapan pengenalan Hak dan Kewajiban saja kita masih stagnan. Seharusnya Dua Puluh Lima Tahun setelah berakhir konflik semua persoalan sosial sudah dapat dituntaskan. Kendalanya dimana?
Tentu saja di pimpinan rakyat yang mendominasi pengaruh rakyat secara lebih besar dan itu biasanya ada dipartai politik. Karena Aceh semua tokoh masyarakat sudah terkooptasi dalam dunia politik pragmatis.
Permasalahannya siapa yang berjalan didepan dan mendapat perhatian publik, karena sepintar-pintarnya seseorang tanpa dipandang publik maka pembicaraannya kurang digubris. Tapi sebodoh-bodohnya seseorang yang dipandang publik bicara salah, dusta dan tidak pentingpun tetap saja menjadi perhatian. Karena itulah rakyat salah kaprah dan larut sehingga tidak mampu melihat secara benar baik terhadap orang maupun pendapat dan ajakannya.
Residu dari perang dan konflik di wilayah bekas perang adalah sistem kehidupan sosial yang terjerembab dalam sistem feodalis. Secara kasar penjajahan mentalitas dan moralitas akan lama untuk disembuhkan. Sehingga alat-alat perjuangan feodal masih kentara dalam kehidupan rakyat.
Penundukan-penundukan orang secara pressure mental adalah alat feodal yang sempurna, begitu pula imajinasi heroik membela rakyat secara fisik dalam kehidupan sipil adalah bentuk imajinasi sistem feodal. Sehingga rakyat tidak pernah ingin lepas dan menjadi mandiri dari belenggu ilustrasi tersebut.
Secara umum, pemilihan-pemilihan rakyat masih terorientasi mencari sosok yang adil, yang dalam hukum rakyat rasional tidak ada dalam kamus mereka. Karena pada dasarnya tidak ada seorangpun yang bisa berlaku adil sesungguhnya. Karena itu Islampun mengajarkan "manusia tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah"
Lalu apa yang sesungguhnya dibutuhkan? Tentu saja Kemandirian dan Kriteria Pemimpin yang bertindak sebagai kordinatif rakyat. Kemudian arahnya berkriteria sifat kepemimpinan yang mengarah pada kecerdasan sosial disamping unsur-unsur normatif dalam kepemimpinan seperti jujur, amanah, fatanah dll.
Oleh karena itu yang harus dilakukan di Aceh bukan soal para tokoh harus kompak yang mustahil dilakukan dimanapun, bahkan dalam perangpun bisa berbeda pendapat dan pemikiran. Tetapi biarkan semua tokoh punya pemikiran masing-masing selama dalam jalur dan ruang yang tidak mengingkari format kehidupan sosial.
Batasan dan ruang ini hanya bisa diberikan oleh pemimpin yang memiliki ilmu manajemen sosial yang baik. Sehingga pemimpin itu terlihat mampu memposisikan diri secara baik diatas semua perbedaan. Penempatan posisi itu bukan soalan gampang, ia butuh kesabaran, kearifan, jiwa, wawasan, tentu saja keimanan karena rakyat Aceh beragama.
Dalam tahapan politik dan pemerintahan, rakyat Aceh masih dalam tahapan pengenalan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang benar. Sehingga rakyat bebas dari tekanan aparatur yang mengatasnamakan negara kemudian melakukan pressure mental yang membuat rakyat dan tokoh sekalipun terdiam dan harus meminta maaf kepada publik dan negara.
Demikian tulisan singkat sebagai pembuka untuk menjabarkan yang lebih luas dan dalam.
Salam
Gram...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kepada yang ingin pendapatan tambahan silakan klik dan daftar :
https://moneyrewards.co/?share=bungedo
[12/6 07:29] Tarmidinsyah Abubakar: Yang perlu dollar silakan klik link ini dan masukkan keterangan anda, untuk user name masukkan nama panggilan anda. Nanti anda akan mendapat link dan link itu kirimkan ke sebanyak2nya teman. Jika anda tidak ingin mendaftar tolong sebarkan url diatas untuk kerjasama persahabatan kita semua. Selamat pagi....