"PAN, Sejarah Kelahiran, Perjuangan dan Kriteria Pemimpin Yang Seharusnya"

Selamat Pagi,,,

Hari ini kita bercerita tentang kepemimpinan partai reformis yang kita lihat dan kuatirkan semakin tidak reformis dalam lima tahun ini.

"PAN, Sejarah Kelahiran, Perjuangan dan Kriteria Pemimpin Yang Seharusnya"

Partai Amanat Nasional yang disingkat PAN adalah partai politik yang dilahirkan sebagai salah satu alat untuk melanjutkan perjuangan tahapan pencapaian cita-cita reformasi Indonesia melalui parlemen dan pemerintahan.

Sesungguhnya partai politik yang tidak perlu sulit dalam melakukan kampanye serta meyakinkan rakyat Indonesia atas visi dan misinya itu adalah PAN. Karena dari sejarah kelahirannya sudah memberikan ilustrasi yang begitu besar bagi semangat perubahan Indonesia sebagai negara otoritarian menjadi negara yang demokratis dan terbuka.

Karena formasi kelahirannya sebagai simbol perjuangan untuk keterbukaan maka partai ini butuh kepemimpinan yang stabil yang memahami cita-cita dasar keberadaannya dalam politik Indonesia. PAN perlu konsistensi para pimpinannya mempertahankan sistem kepemimpinan yang diajarkan kepada masyarakat yakni kepemimpinan demokratis yang memberi kemungkinkan harapan aspirasi kader dan simpatisan diserap dan manivestasikan dalam Maker Desition yang cerdas dan bijaksana yang berdialektika perubahan dan pendidikan rakyat Indonesia.

Oleh karenanya seorang pimpinan PAN tidak boleh berada dalam sisi gelap kepemimpinan demokratis, apalagi seseorang yang berciri otoritarianisme, sektarianisme, primordialisme, apalagi bergaya ugal-ugalan dalam kepemimpinan yang tidak memperlihatkan kedewasaan dan kematangan pikiran karena "Potensi Dukungan partai PAN" ada dalam benak seluruh masyarakat Indonesia yang terdidik dan berpikir rasional serta punya pandangan masa depan yang lebih baik bagi dirinya, kelompoknya maupun bagi bangsa dan negaranya.

Justru karena itu PAN sudah seharusnya meninggalkan seseorang calon Ketua Umum yang berkriteria Demagog, yang memperlihatkan prilaku bermuka dua, seakan baik untuk kader, simpatisan dan rakyat padahal ia senantiasa mementingkan pribadinya apalagi dia yang mengeksploitasi kader untuk kemapanannya. Apalagi ciri seorang figur calon Ketua Umum yang bermental pembohong tidak mampu membawa partai kearah yang demokratis.

Begitu pula ciri lain yang perlu di jauhkan oleh kader PAN terhadap kepemimpinannya adalah calon Ketua Umum yang kasar, keras, memaksakan kehendak, bergaya preman karena ciri kepemimpinan PAN tidak mencerminkan kearah itu. 

Bagaimana juga yang seharusnya kriteria calon Ketua Umum Partai PAN yang sesuai dengan ciri partainya?
Mereka yang kelihatan santun, tertib, teratur, memiliki manajemen yang sungguh baik, berpikir rasional dan desentralisasi dalam kewenangan, memiliki ilmu pengetahuan tentang ajaran tata cara hidup bagi kader dan rakyat Indonesia secara modern dan demokratis. Sehingga ia dapat melanjutkan progress dalam pencapaian cita-cita reformasi yang seharusnya dapat mengantarkan rakyat Indonesia untuk hidup yang lebih baik sebagaimana keberadaan rakyat negara lainnya yang telah maju dalam berbagai sisi kehidupannya.

Demikian narasi singkat ini semoga berguna untuk menjadi sebahagian referensi untuk menatap pemimpin PAN yang memberi harapan bagi kader dan rakyat Indonesia yang jauh lebih baik dimasa depan, tidak sebagaimana sekarang yang terjebak dalam kebuntuan berpikir sehingga kader terdidik dalam pragmatisme ketiadaan ilmu pengetahuan dan ajaran dalam kompleksitas politik yang sesungguhnya. Akhirnya tujuan Partai terhenti dalam kesempitan berpikir yang akhirnya sebuah keputusan penting itu hanya diputuskan melalui melalui besaran angka pada kertas Rupiah atau Dollar itu.

Selamat Berkongres V Semoga Melahirkan Pemimpin yang Santun dan Bijak serta Cerdas sebagaimana ciri politik Partai PAN itu sendiri.

Salam