"Kita Hanya Bisa Mempertontontan Ego Kekuasaan"
Semangat Pagi,,,,
"Kita Hanya Bisa Mempertontontan Ego Kekuasaan"
Pemerintahan Demokratis itu dibangun untuk memelihara kepercayaan rakyat. Maka kredibilitas pemerintahan itu diukur dengan tingkat kepercayaan masyarakat.
Saya memandang perselisihan eksekutif dan legislatif di Aceh yang sering terjadi saban masa pemerintahan lebih disebabkan oleh faktor ketidakdewasaan dan kelemahan tanggung jawab pemangku jabatan itu sendiri. Faktor utamanya adalah kita memang belum cukup ilmu pengetahuan untuk itu.
Pertentangan oleh legislatif itu tidak akan membangun kepercayaan masyarakat selama DPRA masih diwarnai oleh dana aspirasi dan belum dikembalikan fungsi sebagaimana sumpah janjinya dengan AlQuran dalam jabatan yang sebahagian besar bernuasa pengawawasan.
Meski DPRA meyakinkan masyarakat untuk menunjukkan fungsinya sebagai wakil rakyat namun selama masyarakat masih mencium gelagat berbau dana aspirasi dan konspirasi tentu masyarakat tidak pernah mempercayai lembaga itu.
Saya menyarankan pemulihan kepercayaan lembaga ini adalah pekerjaan utama Wakil Rakyat kita di Aceh. Meski anda berkata dengan lantang bahwa anda dipilih sama dengan gubernur bahkan dalam persaingan yang dan perjuangan yang berdarah-darah namun kita tidak bisa membodohi masyarakat untuk "Tidak Paham" apa yang mereka rasakan ketika pemilu.
Lalu, apakah gubernur bisa dipercaya oleh masyarakat? Sama saja. Tentu gubernur dalam persepsi awam tidak lebih sebatas Rakus atau Makan Sendiri.
Kenapa bisa demikian? Tentu karena gubernur dalam membuat kebijakan publik tidak menyentuh penanganan hal mendasar kehidupan masyarakat. Bahkan pada era sekarang di Aceh kebijakan pembangunan itu terkesan membodohi masyarakat, gubernur hanya bisa menyuguhkan semangat membangun yang menggebu dengan sejuta ini, sejuta itu, sejuta stiker, sejuta mobil bagi stiker, seribu moge, setelah dihitung oleh masyarakat maka hasilnya uang habis pembangunan binasa.
Inilah kebijakan publik yang tidak memyentuh substansi, maka meskipun untuk kelanjutan pemerintah tentu mencari cara untuk pembenaran pasti hanya akan memakan banyak waktu, energi dan uang.
Lalu, apa yang urgen dilakukan oleh pemerintah Aceh untuk memulai menyembuhkan kepercayaan publik? Bangun arah pembangunan, Fokus pada substansi, kemudian sentuh strategy dasar clean government misalnya kebijakan moratorium pembelian mobil mewah pejabat yang tidak masuk akal sehat.
Masyarakat sedang mengadapi pandemi, menghadapi resesi ekonomi, menghadapi perubahan peradaban manusia, sementara otak pejabat pemerintah masih saja pada ukuran mobil mewah dari jaman ke jaman. Kalau otak pejabat berhenti di mobil mewah maka anda belum paham dengan tugas dan fungsi jabatan yang sedang diemban.
Pertanyaannya, apakah tidak menimbulkan hipotesa bahwa anda hanya pencuri dalam kesempitan masyarakat? Kesimpulan normal dalam kecamata pembangunan. Menurut saya justru anda dianggap sebagai sosok yang kasar, bebal, dungu dan jorok yang sempurna sebagai penghambat pembangunan masyarakat itu sendiri.
DPRA juga akan menganggap begitu sehingga mereka menganggap ketidakhadiran dilembaga itu sebagai upaya melepaskan tanggung jawab. Seakan sebagai Plt. Gubernur pertanggung jawaban kerjanya hsnya kepada mendagri dan boleh menafikan lembaga DPRA.
Jika anda mempertahankan sikap ini maka asumsinya andalah yang telah melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga pemerintahan, sementara anda adalah pemimpin pemerintahan yang seharusnya juga merawat kepercayaan untuk semua lembaga termasuk polisi dan tentara sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dipulihkan dan dipelihara secara rapi.
Kalau Plt gubernur tidak sudah pada posisi itu sudah pastilah dia bersikap elegan aja, hadiri dan beri penjelasan serta jika anda punya ilmu yang baik sudah pasti akan terjadi transfusi cara pikir dewasa untuk berorientasi membangun rakyat. Ketika orientasi sudah terarah tidak ada lembaga yang berani melakukan intervensi dalam keuangan daerah apalagi legislatif dan yudikatif apalagi lembaga polisi dan tantara.
Kalau penulis pada posisi itu justru saya meminta kepada DPRA, yudikatif, lembaga polisi serta tentara untuk sering-sering mengundang saya agar saya bisa mentransfusi pemikiran-pemikiran saya kepada mereka agar saya mudah dalam pekerjaan utama saya membangun masyarakat saya.
Tapi kalau tujuan anda berhenti pada batasan mencari uang dan sebatas dianggap hebat maka sudah benar dengan prilaku sekarang.