Kenapa Rakyat Aceh Lemah Dalam Politik Partai?



Oleh : Tarmidinsyah Abubakar


Perjuangan rakyat Aceh dalam pembangunannya sebenarnya luar biasa, para tokohnya tidak berhenti berjuang ingin memperbaiki kondisi hidup rakyat. Berikutnya pemimpin Aceh yang maju sebagai Gubernur juga silih berganti. 

Tulisan ini sengaja ditulis dengan bahasa yang mudah di pahami rakyat. Karena pada dasarnya bertujuan memberi pendidikan politik rakyat.

Baik, Lalu kenapa semua Gubernur berakhir dengan tanpa memuaskan rakyat Aceh? 

Tentu saja ada harapan besar yang disimpan oleh sebahagian besar rakyat akhirnya tidak mampu diwujudkan oleh para pemimpinnya. 

Hipotesa politik ini sangat nyata dan memberikan suatu kesimpulan yang bisa dibaca oleh semua lapisan masyarakat Aceh.

Lalu apa kesimpulan mendasar yang menyebabkan rakyat Aceh tidak merasa aspirasinya terpenuhi? Sementara sikap rakyat dalam politik dapat ditemui di Aceh. Bahwa rakyat Aceh ingin berubah. Bahkan antusias dalam aktivitasnya berjuang. Tapi sampai ditangan orang politik semua menjadi berantakan dan hilang.

Jawabannya tidak lain adalah Demokrasi yang tidak tersentuh secara baik dalam kehidupan masyarakat. Bahkan masyarakat dan politisi sendiri justru menganggap Demokrasi sebagai budaya baru yang berasal dari Eropa. Maka di Aceh yang membuat terlambat rakyat justru karena Demokrasi dihadapkan dengan kepemilikan bangsa lain yang mengandung pemahaman sebagai milik kafir yang berkembang ke masyarakat bawah atau akar rumput.

Lho kenapa demokrasi, padahal kan sudah dilakukan pemilihan langsung. Apalagi yang tidak benar?

Sebenarnya sebahagian besar rakyat sungguh jauh dalam pemahaman demokrasi yang sebenarnya. Karena semua kebijakan dilakukan oleh pemerintah bila menerapkan mekanisme demokrasi maka harga diri rakyat dan Marwah bansa sebagaimana sering digaungkan pasti terjaga secara baik.

Karena tidak cukup paham demokrasi maka politik kita tidak lebih hanya berupa siasat untuk membohongi rakyat dan politisi hanya mengharap suara tanpa berpikir yang disampaikan pada rakyat sesuatu yang benar dan apa adanya.

Itu adalah masalah besar dalam hidup rakyat Aceh. Karena itulah pemerintah pusat seringkali mengabaikan  kredibilitas Aceh dan hukum politiknya yang seakan diseragamkan dengan daerah lain yang berstatus provinsi biasa. Padahal bisa saja pengaturan yang seragam tersebut sudah lebih baik dari kacamata demokrasi yang memberi hak kepada unsur rakyat.

Lalu klausul otonomi yang diberikan untuk Aceh satu persatu hilang. Kemudian DPRA menggugat untuk updates UUPA dimaksud bahwa ada yang kurang dalam klausul khusus yang mengatur politik bagi rakyat Aceh. Sebenarnya tanpa memahami strategi dalam demokrasi maka semua harapan tersebut sama saja tetap akan sia-sia.

Sebenarnya rakyat Aceh membawa Indonesia ke meja perundingan politik karena Indonesia saat itu sedang dalam konstusi yang demokratis karena setelah dilakukan amandemen UUD 1945 oleh para pejuang reformasi Indonesia. Jika politik Indonesia tidak dalam semangat demokrasi maka mustahil ada negosiasi kekuasaan untuk opsi pembebasan wilayah.

Ingatlah dimasa Orde Baru pemerintah pusat bisa saja membuat kebijakan sepihak dengan memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) bagi Aceh dan tidak ada politisi atau tokoh Aceh yang bisa menghambat eksekusi politik tersebut.

Lalu kenapa di masa kepemimpinan presiden SBY justru Indonesia harus kemeja perundingan? Jawabnya tidak lain adalah karena Indonesia sedang berdemokrasi sebagaimana negara-nagara maju di Amerika dan Eropa. Demokrasilah yang memberi hak untuk memperjuangkan hak-hak politik rakyat di Aceh. 

Dalam demokrasi tersebutlah dikandung semua kesetaraan dan pembebasan orang di dunia dari penjajahan dan hidup dalam sistem feodal yang membodohkan rakyat.

Nah, jika tokoh politik Aceh kemudian menganggap demokrasi sebagai produk bangsa lain, maka disitulah terjadi kekeliruan pemahaman tentang demokrasi yang sesungguhnya telah membuka kesempatan kepada rakyat Aceh. 

Jika demokrasi diabaikan maka tidak berbeda dengan menutup peluang politik atau menutup jalan bagi rakyat Aceh untuk berjuang pada kemerdekaan hidupnya. Hal ini berpeluang karena ada Demokrasi.

Pada tulisan ini saya ingin memberi batasan bahwa Demokrasi menjadi sangat penting untuk rakyat Aceh berjuang mencapai kebebasan hidupnya. Jika sudah semua yakin dengan masalah utama tentang Demokrasi barulah dapat dijelaskan secara gamblang dan sisi yang harus di benahi oleh masyarakat untuk mensiasati dan menjauhkan penzaliman rakyat.

Salam...


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil