Rakyat Aceh Harus Bicara: Masa Depan Tak Bisa Ditetapkan Oleh Dinasti Politik Jakarta
Oleh : Goodfathers....
Hampir setengah abad sudah bangsa ini dikuasai oleh wajah-wajah yang sama. Dari Megawati ke Puan. Dari SBY ke AHY. Dari Jokowi ke anak dan menantunya. Dinasti politik tumbuh subur seperti jamur, menyebar dari pusat ke daerah.
Apa yang bisa Aceh harapkan dari republik seperti ini?
Paling-paling, Wali Nanggroe jadi simbol budaya yang dibungkam.
Paling-paling, Gubernur Aceh cuma boneka hasil kompromi elite pusat.
Rakyat? Tetap jadi obyek. Dipakai saat pemilu, dilupakan sesudahnya.
Aceh Bukan Provinsi Warisan, Tapi Tanah Milik Rakyat
Aceh punya sejarah. Aceh punya darah perjuangan. Aceh bukan bagian dari Indonesia karena kekalahan, tapi karena perjanjian. Dan perjanjian bisa direvisi kalau yang satu pihak berkhianat.
Kami dulu diberi janji otonomi.
Janji syariat.
Janji ekonomi.
Janji politik mandiri.
Tapi apa yang terjadi hari ini?
Syariat hanya jadi simbol, diterapkan tanpa keadilan sosial.
Ekonomi dikuras, hasil alam diekspor, rakyat tetap miskin.
Politik dikendalikan pusat, pimpinan daerah harus "patuh" ke Jakarta.
Pemilihan gubernur dibungkus partai nasional, suara rakyat hanya formalitas.
Kalaupun gubernur diberi hadiah untuk partai lokal bukan berarti politicall will yang memberdayakan rakyat, tetapi ada udang dibalik batu.
Memang saat ini semua diam dan menganggap sebagai terbaik untuk rakyat daerah, tetapi pada saatnya nanti semua telah terlambat untuk disadari oleh rakyat Aceh yang kemudian hanya bergumam inilah politik.
Ini bukan demokrasi. Ini penjajahan gaya baru.
Referendum: Jalan Damai dan Demokratis untuk Menentukan Nasib Sendiri
Referendum bukan berarti perang.
Referendum bukan berarti makar.
Referendum adalah cara paling damai dan bermartabat bagi rakyat Aceh untuk bicara: “Kami mau apa?”
Seperti Skotlandia ke Inggris.
Seperti Hong Kong ke Beijing.
Mengapa Aceh tidak boleh bicara pada Jakarta?
Apakah karena kami miskin?
Apakah karena kami minoritas?
Apakah karena kami terlalu jujur melawan boneka?
Kami tidak minta keluar dari NKRI.
Kami hanya ingin memimpin tanah kami sendiri tanpa harus tunduk pada dinasti politik pusat.
Hancurkan Boneka, Bangun Kepemimpinan Asli Rakyat
Kalau kita biarkan sistem ini terus hidup, maka anak-anak kita hanya akan jadi penonton di negeri sendiri. Semua kursi penting akan diisi oleh anak pejabat, sepupu penguasa, atau teman sekolah presiden.
Siapa yang akan membela rakyat kalau semua pemimpin berasal dari lingkaran elite?
Aceh tidak bisa lagi diselamatkan oleh orang yang dipilih dari DPP partai pusat.
Aceh hanya bisa diselamatkan oleh rakyatnya sendiri yang bangkit berpikir dan bersuara.
Bangkitlah Aceh! Jangan Jadi Penonton di Tanah Sendiri!
Gerakan ini bukan soal kebencian, tapi soal kesadaran.
Kita tidak sedang melawan Indonesia. Kita sedang menyelamatkan rakyat Aceh dari ketertindasan sistem pusat yang busuk.
"Kami ingin referendum,
bukan karena kami membenci Indonesia,
tapi karena kami mencintai Aceh."
Untuk itu kami sangat mengharapkan kepada anda agar memberi kami semua syarat yang di perlukan oleh UNO untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Terimakasih, atas perhatian anda.
Hormat kami,
Tarmidinsyah Abubakar
Aktivis Sosial Politik dan Intelektual Aceh
Email : godfatheraceh@gmail.com
Hp/WA : 081264263069