Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Buku Guru Menurut Islam dan Umum

Gambar
Kata Pengantar Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Buku ini hadir sebagai panduan bagi rakyat Aceh untuk memahami siapa guru sejati, menghormati ilmu, dan membedakan antara guru yang membimbing secara hakiki dan guru yang hanya mempertahankan tradisi lama. Selama ini, banyak masyarakat Aceh menilai guru dari gelar, pakaian, atau ritual, padahal guru sejati adalah mereka yang membuka ilmu, membimbing pemikiran, dan menuntun hati. Ilmu sejati tidak mengenal pakaian atau gelar; ia hadir melalui tulisan, buku, artikel, dan ajaran yang bermanfaat. Buku ini juga menyingkap sejarah Aceh, pengaruh kolonial Belanda, dan bagaimana pola pikir feodal masih tersisa dalam sebagian praktik pengajaran. Dengan pemahaman ini, diharapkan rakyat Aceh bisa membebaskan diri dari mental kolonial, mengembangkan akal, dan membangun generasi yang cerdas, kritis, dan demokratis. Semoga buku ini menjadi panduan yang mencerahkan, membimbing, dan membuka wawasan, serta menjadi doa bagi kebangkitan ilmu dan...

Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara

Gambar
Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara Oleh: Tarmidinsyah Abubakar Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam kehidupan berbangsa hari ini adalah anggapan bahwa masalah utama rakyat hanyalah soal kemiskinan, lapangan kerja, atau bantuan sosial. Masalah yang lebih mendasar justru sering luput dibicarakan: rakyat tidak lagi memiliki negara. Negara seharusnya adalah alat kolektif rakyat untuk mengatur dirinya sendiri secara adil dan bermartabat. Namun dalam praktik, negara kerap berubah menjadi milik segelintir elite kekuasaan. Pemerintah berdiri di atas rakyat, bukan bersama rakyat. Dalam posisi ini, rakyat tidak diperlakukan sebagai subjek politik, melainkan objek administrasi—bahkan tidak jarang seperti buruh di tanah sendiri. Ketika rakyat kehilangan posisi tawar terhadap negara, hak untuk menuntut keadilan pun melemah. Kritik dianggap gangguan, perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai ancaman, dan suara publik direduksi menjadi sekadar formalitas prosedural. Inilah ciri klasi...

Rakyat Aceh Memilih, Tapi Belum Memiliki Negara

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Pada Pilpres lalu, sekitar 70 persen rakyat Aceh memilih Anies Baswedan. Pilihan itu bukan sekadar angka, tetapi isyarat penting: rakyat Aceh sesungguhnya menolak politik militerisme dan kepemimpinan otoriter yang selama ini menyakiti daerah-daerah pinggiran. Namun pada saat yang sama, di banyak wilayah Indonesia, rakyat justru “mabuk kekuasaan” terpesona pada figur tentara, militer, dan kekuatan koersif, seolah-olah negara harus dipimpin dengan tangan besi. Ini bukan soal suka atau tidak suka pada tokoh tertentu, tetapi soal cara berpikir politik yang salah kaprah. Masalah utamanya bukan siapa presidennya. Masalah utamanya adalah rakyat belum sadar bahwa negara itu milik mereka. Kesalahan Berpikir Paling Fatal: Negara Dianggap Milik Penguasa Sebagian besar rakyat Indonesia termasuk di Aceh, masih hidup dalam cara berpikir feodal: Negara dianggap milik presiden, gubernur, atau elit kekuasaan. Padahal dalam negara modern dan demokratis, negara adalah milik r...