Pemimpin Itu Bukan Melahirkan Anak Buah
Banyak orang merasa menjadi pemimpin ketika ia memiliki beberapa orang anak buah atau pengikut, yang bisa disuruh mengerjakan apa saja yang diinginkan. Kemudian para anak buah mendapat imbalan sebagaimana pekerjaannya itu.
Karena kemampuan keuangan seseorang itu kemudian dia memili kekuasaan bahkan dapat mengancam keselamatan orang lain ketika berhadapan dengannya.
Fenomena ini kemudian di klaim sebagai kepemimpinan dalam masyarakat awam. Padahal pola-pola kepemimpinan seperti ini merupakan pola kepemimpinan kuno atau jahiliah yang telah digunakan oleh manusia semenjak mereka berburu dalam mencari penghidupan.
Namun demikian kita juga dapat melihat pola kepemimpinan dalam ketentaraan yang menganut sistem otoritarian, namun mereka tetap saja berlaku aturan hukum yang positif untuk kepentingan negara.
Pola kepemimpinan ini dalam masyarakat dapat digolongkan sebagai pola kepemimpinan feodalisme, yang akhirnya menciptakan penjajahan lintas kelompok. Lagipun kepemimpinan seperti ini tidak tidak dapat membangun masyarakat yang hidup berkualitas, sebagaimana harapan sosial yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana kriteria pemimpin yang sesungguhnya? Pemimpin itu sejatinya sejauhmana kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin lainnya disemua lini kehidupan masyarakat.
Bila anda melihat suatu negara atau daerah kehilangan tokoh pemimpin maka dapat dipastikan negara dan daerah itu telah memilih seorang pemimpin yang bukan pemimpin, sehingga ia hanya menjadi penguasa yang otoriter dan tentu hanya membesarkan anak, istri, adik dan keluarganya sendiri.
Dalam pengembangan sosial inilah pemimpin yang dhalim yang membangun kerajaan keluarga secara frontal tanpa memandang kualitas kehidupan rakyat secara benar, tapi prilakunya kepada rakyat lebih dominan sekedar pencitraan dan menanamkan kepercayaan berlebihan.
Hingga suatu saat terbongkar kedoknya dan tentu saja ia masuk penjara atau diturunkan oleh rakyat banyak.
Salam
Karena kemampuan keuangan seseorang itu kemudian dia memili kekuasaan bahkan dapat mengancam keselamatan orang lain ketika berhadapan dengannya.
Fenomena ini kemudian di klaim sebagai kepemimpinan dalam masyarakat awam. Padahal pola-pola kepemimpinan seperti ini merupakan pola kepemimpinan kuno atau jahiliah yang telah digunakan oleh manusia semenjak mereka berburu dalam mencari penghidupan.
Namun demikian kita juga dapat melihat pola kepemimpinan dalam ketentaraan yang menganut sistem otoritarian, namun mereka tetap saja berlaku aturan hukum yang positif untuk kepentingan negara.
Pola kepemimpinan ini dalam masyarakat dapat digolongkan sebagai pola kepemimpinan feodalisme, yang akhirnya menciptakan penjajahan lintas kelompok. Lagipun kepemimpinan seperti ini tidak tidak dapat membangun masyarakat yang hidup berkualitas, sebagaimana harapan sosial yang sesungguhnya.
Lantas bagaimana kriteria pemimpin yang sesungguhnya? Pemimpin itu sejatinya sejauhmana kemampuannya melahirkan pemimpin-pemimpin lainnya disemua lini kehidupan masyarakat.
Bila anda melihat suatu negara atau daerah kehilangan tokoh pemimpin maka dapat dipastikan negara dan daerah itu telah memilih seorang pemimpin yang bukan pemimpin, sehingga ia hanya menjadi penguasa yang otoriter dan tentu hanya membesarkan anak, istri, adik dan keluarganya sendiri.
Dalam pengembangan sosial inilah pemimpin yang dhalim yang membangun kerajaan keluarga secara frontal tanpa memandang kualitas kehidupan rakyat secara benar, tapi prilakunya kepada rakyat lebih dominan sekedar pencitraan dan menanamkan kepercayaan berlebihan.
Hingga suatu saat terbongkar kedoknya dan tentu saja ia masuk penjara atau diturunkan oleh rakyat banyak.
Salam