Arogansi dan Egoisme Kekuasaan Ada Pada Pemimpin Lemah;

Kekuasaan bagi mereka yang bermental perampas dan berkelas demagog dalam politik seringkali dijadikan alat untuk menundukkan lawan politik dan membunuh karakter pihak lain yang berpotensi menjadi lawan politik dimasa depan.

Padahal bagi mereka yang bermental negarawan justru sebaliknya, ketika mereka mendapatkan kekuasaan bahkan merangkul pihak yang menjadi lawan politiknya. Karena dengan mempersatukan kekuatan politik lawan maka ia telah menjadi pihak yang berkuasa penuh baik atas daerah maupun negara yang mereka pimpin.

Kebijakan ini juga telah mengantarkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin besar dijamannya. 

Kenapa demikian?
Tentu saja karena mereka bukanlah kalangan picik yang menggunakan kekuasaannya untuk mempersempit kehidupan pihak lain, mereka cenderung memandang lawan politik sebagai potensi untuk membangun rakyat, bangsa, daerah dan negaranya.

Hal ini sesuai dengan cita-cita keberadaan negara yang secara bertahap menuju pencapain kesejahteraan sosial. Oleh karena itu egoisme, primordialisme, arogamsi dan faktor sempit lain diminimalisir agar suatu daerah maupun negara tumbuh menjadi besar dan menjadi wilayah yang didambakan oleh rakyatnya.

Justru karena itu semangat pepatah yang mengatakan bahwa jadilah pemimpin orang-orang pintar jauh lebih baik daripada menjadi pemimpin orang bodoh. Hal ini menegaskan kualitas kepemimpinan yang normatif. 

Ada banyak kepala daerah yang ketika mendapatkan kekuasaan kemudian mereka membenam semu lawan politiknya atau membunuh karakter orang-orang yang dianggap lebih cerdas darinya. Hal ini tidak hanya dapat disaksikan dalam kepemimpinan daerah, tetapi juga dapat dilihat dalam organisasi politik pragmatis.

Padahal pola kepemimpinan seperti itu justru dapat merusak tatanan kehidupan rakyat dan kepemimpinan seperti itu tidak bisa diharapkan potensinya untuk memimpin daerah maupun negara. 

Ada lagi pemimpin yang justru tidak bisa bekerjasama dengan pihak lain, bahkan dengan wakilnya sendiri yang merupakan alter ego atau orang kepercayaannya dalam terminology kepemimpinan.

Karena itu ketika anda memimpin maka perlu cara pandang yang generatif kepada segenap yang dipimpin bukan memisahkan diantara mereka secara berkelompok. Juga melakukan pengkaderan kepemimpinan kepada mereka yang dianggap memiliki potensi memimpin sehingga daerah dan negaranya tidak mengalami stagnan dalam pembangunan manusianya.

Manakala seseorang menjadi kepala daerah maka melihat sumber masalah daerah atau faktor dasar yang menjadi penghambat pembangunan dan menmpatkan diri secara mandiri agar semua rakyat merasa memiliki pemimpinnya.

Demikian tulisan singkat semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Salam,,,,


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil