Postingan

Buku Guru Menurut Islam dan Umum

Gambar
Kata Pengantar Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Buku ini hadir sebagai panduan bagi rakyat Aceh untuk memahami siapa guru sejati, menghormati ilmu, dan membedakan antara guru yang membimbing secara hakiki dan guru yang hanya mempertahankan tradisi lama. Selama ini, banyak masyarakat Aceh menilai guru dari gelar, pakaian, atau ritual, padahal guru sejati adalah mereka yang membuka ilmu, membimbing pemikiran, dan menuntun hati. Ilmu sejati tidak mengenal pakaian atau gelar; ia hadir melalui tulisan, buku, artikel, dan ajaran yang bermanfaat. Buku ini juga menyingkap sejarah Aceh, pengaruh kolonial Belanda, dan bagaimana pola pikir feodal masih tersisa dalam sebagian praktik pengajaran. Dengan pemahaman ini, diharapkan rakyat Aceh bisa membebaskan diri dari mental kolonial, mengembangkan akal, dan membangun generasi yang cerdas, kritis, dan demokratis. Semoga buku ini menjadi panduan yang mencerahkan, membimbing, dan membuka wawasan, serta menjadi doa bagi kebangkitan ilmu dan...

Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara

Gambar
Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara Oleh: Tarmidinsyah Abubakar Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam kehidupan berbangsa hari ini adalah anggapan bahwa masalah utama rakyat hanyalah soal kemiskinan, lapangan kerja, atau bantuan sosial. Masalah yang lebih mendasar justru sering luput dibicarakan: rakyat tidak lagi memiliki negara. Negara seharusnya adalah alat kolektif rakyat untuk mengatur dirinya sendiri secara adil dan bermartabat. Namun dalam praktik, negara kerap berubah menjadi milik segelintir elite kekuasaan. Pemerintah berdiri di atas rakyat, bukan bersama rakyat. Dalam posisi ini, rakyat tidak diperlakukan sebagai subjek politik, melainkan objek administrasi—bahkan tidak jarang seperti buruh di tanah sendiri. Ketika rakyat kehilangan posisi tawar terhadap negara, hak untuk menuntut keadilan pun melemah. Kritik dianggap gangguan, perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai ancaman, dan suara publik direduksi menjadi sekadar formalitas prosedural. Inilah ciri klasi...

Rakyat Aceh Memilih, Tapi Belum Memiliki Negara

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Pada Pilpres lalu, sekitar 70 persen rakyat Aceh memilih Anies Baswedan. Pilihan itu bukan sekadar angka, tetapi isyarat penting: rakyat Aceh sesungguhnya menolak politik militerisme dan kepemimpinan otoriter yang selama ini menyakiti daerah-daerah pinggiran. Namun pada saat yang sama, di banyak wilayah Indonesia, rakyat justru “mabuk kekuasaan” terpesona pada figur tentara, militer, dan kekuatan koersif, seolah-olah negara harus dipimpin dengan tangan besi. Ini bukan soal suka atau tidak suka pada tokoh tertentu, tetapi soal cara berpikir politik yang salah kaprah. Masalah utamanya bukan siapa presidennya. Masalah utamanya adalah rakyat belum sadar bahwa negara itu milik mereka. Kesalahan Berpikir Paling Fatal: Negara Dianggap Milik Penguasa Sebagian besar rakyat Indonesia termasuk di Aceh, masih hidup dalam cara berpikir feodal: Negara dianggap milik presiden, gubernur, atau elit kekuasaan. Padahal dalam negara modern dan demokratis, negara adalah milik r...

Pemimpin Offside dalam Demokrasi

Gambar
Oleh : goodfathers Dalam sepak bola, offside adalah pelanggaran terhadap batas permainan. Pemain boleh berlari, menyerang, dan mencetak gol, tetapi tidak boleh melewati garis aturan. Demokrasi bekerja dengan logika yang sama. Kekuasaan memiliki batas, dan batas itu bernama konstitusi. Masalah serius yang dihadapi banyak negara demokrasi hari ini termasuk Indonesia, bukanlah kekurangan aturan, melainkan pemimpin yang bermain di luar garis.  Mereka terpilih melalui mekanisme demokrasi, tetapi memimpin dengan budaya otoriter. Kritik dianggap ancaman, perbedaan pendapat dicurigai sebagai makar, dan rakyat yang bersuara dilabeli sebagai pembangkang. Pertanyaannya menjadi mendasar: siapa sebenarnya yang memberontak? Negara ini berdiri di atas konstitusi. Artinya, kedaulatan hukum berada di atas kekuasaan individu. Presiden, gubernur, bupati, hingga walikota bukanlah penguasa absolut, melainkan pejabat publik yang dibatasi hukum. Ketika seorang pemimpin melanggar konstitusi, mengabaikan h...

Bangkit di Negeri Pendusta: Strategi Rakyat Aceh Melawan Kebohongan Sistemik

Gambar
Bangkit di Negeri Pendusta: Strategi Rakyat Aceh Melawan Kebohongan Sistemik By. Goodfathers Rakyat Aceh sedang hidup di tengah sistem yang abai moral. Negara, pejabat, dan elit politik seringkali lebih mementingkan kekuasaan dan ambisi pribadi daripada kepentingan rakyat. Akibatnya, kebohongan menjadi norma, dan rakyat kehilangan arah. Tapi bro, ada cara untuk tetap benar, kuat, dan merdeka secara moral. 1. Sadari Siapa Lawanmu Kebohongan sistemik tidak datang dari rakyat biasa. Ia berasal dari: Pejabat yang korup dan manipulatif, menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Elit politik yang haus kekuasaan, menganggap rakyat hanya alat mencapai tujuan. Negara yang sah secara hukum tapi tidak moral, sehingga semua aturan bisa diselewengkan. Rakyat Aceh harus sadar: tidak semua yang sah adalah benar, dan tidak semua yang tampak baik adalah baik. Kesadaran ini adalah pondasi untuk bertahan. 2. Jangan Mengikuti Arus Kekuasaan Banyak orang Aceh tergoda ikut arus kekuasaan demi keuntunga...

Refleksi Tsunami Aceh: Doa, Ingatan, dan Tanggung Jawab Orang Hidup

Gambar
Refleksi Tsunami Aceh: Doa, Ingatan, dan Tanggung Jawab Orang Hidup Setiap tahun, Aceh berhenti sejenak. Doa dibacakan, nama-nama disebut, air mata menetes. Tsunami 26 Desember 2004 kembali diingat. Namun pertanyaannya sederhana dan jujur: untuk siapa sebenarnya doa-doa itu dipanjatkan? Apakah untuk mereka yang telah meninggal? Ataukah untuk kita yang masih hidup? Doa Bukan Upacara, Tapi Kesadaran Doa sering dipahami sebagai ritual—dibaca, diamini, lalu selesai. Padahal doa bukan sekadar bacaan. Doa adalah pengakuan bahwa manusia rapuh , bahwa di hadapan Tuhan, kekuasaan, jabatan, dan harta tidak ada artinya. Dalam keyakinan Islam yang hidup di Aceh, orang yang telah meninggal tidak lagi membawa amal dari dirinya sendiri. Namun, mereka bisa menerima manfaat dari doa dan kebaikan orang hidup—bukan karena kekuatan doa itu sendiri, melainkan karena kehendak Allah . Artinya, doa bukan transmisi otomatis. Ia bukan pesan WhatsApp ke alam kubur. Doa adalah keputusan Tuhan. Yang Meningg...

Uang Hasil Kejahatan Ke Partai Politik

Gambar
Ketika Pembiayaan Politik Menentukan Kualitas Wakil Rakyat Catatan Kebijakan tentang Risiko Uang Gelap dalam Demokrasi Elektoral Pendahuluan Demokrasi elektoral modern adalah sistem yang mahal. Biaya kampanye, konsolidasi partai, logistik politik, dan mobilisasi pemilih menuntut sumber pendanaan yang besar dan berkelanjutan. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, kebutuhan biaya ini sering kali tidak sebanding dengan kemampuan partai politik untuk menghimpun dana secara legal dan transparan. Kesenjangan inilah yang membuka ruang risiko serius: masuknya dana ilegal dan tidak terlacak ke dalam sistem politik. Pembiayaan Politik sebagai Titik Rawan Sistemik Dalam literatur kebijakan publik dan ekonomi politik, pembiayaan politik dikenal sebagai salah satu titik rawan korupsi struktural. Ketika mekanisme pengawasan lemah dan transparansi rendah, sistem politik secara tidak langsung menciptakan insentif bagi: penggunaan dana ilegal, praktik pencucian uang melalui aktivitas politik...