Adakah Teman Setia Dalam Dunia Politik?

Oleh : Goodfathers

Mari Kita coba menganalisa dunia politik yang begitu sulit  dijangkau oleh orang diluar dunia itu, tanpa pernah mereka masuk ke dalamnya maka mereka tidak akan pernah memahaminya.

Bahkan orang yang berpendidikan tinggi setingkat Doktor dan Profesor  juga akan sulit sulit memahami dunia politik mereka masuk dalam rimba tersebut. 

Melihat dari luar dunia politik  itu sangat indah sebagaimana anda memangdang indahnya pegunungan tetapi di dalamnya anda akan mendapatkan berbagai macam harimau, singa, setan, jin, iblis dan segala yang menyeramkan. 

Terlalu buruk bila digambarkan dunia politik untuk kehidupan yang normal yang penuh etika bagi warga masyarakat biasa.

Tapi memang kondisi hidup berpengaruh secara signifikan dengan mentalitas dan moralitas seseorang. Maka dalam penjajahan belanda seringkali menempatkan politisi sebagai tawanan untuk kemudian mereka bisa bekerjasama untuk menaklukkan mereka.

Metode tersebut sebagai alat politik untuk bergaining informasi dan peta jaringan multi jaringan serta informasi kekuatan lawan mereka.

Hal ini dapat dibaca tentang kisah pada tingkat tokoh bangsa sebagaimana bung Hatta, bung Syahrir dan lain-lain yang pernah ditawan.

Wah, itukan strategi politik dalam perang, yang ingin kita bahas dalam politik kekinian yang bukan suasana perang!

Lalu apakah rumus itu juga berlaku dalam politik modern? bahkan dalam politik demokrasi?

Jawabannya benar sekali, bahkan pada politisi jahat mereka juga melakukan dan memposisikan tawanan politik meskipun dengan cara menyandera dengan masalah  hidup dan kondisi musuhnya  dan secara mental mereka dapat dijadikan tawanan dan dimanage oleh yang pinya kekuasaan.

Berikut saya akan memberi dua contoh sederhana yang dapat anda saksikan dalam politik kita. Misalnya ada seorang Ketua partai politik dan dia juga menteri. Pada suatu waktu mengalami masalah korupsi, kemudian pihak penguasa mengelola ketua partai tersebut dengan kepentingannya.

Yang bersangkutan disandera sampai pada tingkat penyerahan kepemimpinan partai politik dengan menghadapkannya antara mundur atau penjara.

Berikutnya pada tingkat politik masyarakat daerah, anda tentu bisa melihat seseorang yang sebelumnya populer dan berkuasa dalam aktivitas politiknya sehari-hari. Lalu dia terjatuh dan hanya berbicara untuk melepaskan uneg-unegnya.

Nah, tahukah bahwa kalau kemampuannya dalam politik tinggi maka kesempatan bagi kalangan politisi membulli orang tersebut karena dengan cara lain mereka tidak punya kekuatan melakukannya. Karena dia sedang lemah dan tidak berdaya maka semua yang ingin membalas prilakunya pasti mereka melakukannya.


Maka politik dimasyarakat kita yang sumber pendapatan minim sudah pasti kecenderungannya  ibarat orang berlari bila hilang keseimbangan dia terjatuh dan dipijak-pijak oleh politisi lain, begitulah kecenderungannya yang tidak dapat di tolak.

Lalu, kalau ditanya, apakah ada teman setia dalam politik? Saya menjawabnya dengan sederhana. Jikalau ada yang membangunkan anda dari terjatuh itu maka itulah salah satu teman anda dan bukan hanya dalam politik tetapi teman anda yang sejati.

Tetapi saya hampir tidak menemukan mereka yang berprilaku seperti itu karena mereka tidak cukup pengetahuannya untuk melakukannya. Kenapa?

Karena besar peluang orang disekeliling politisi tersebut yang mempengaruhi untuk menjaga jarak dengan anda yang terjatuh. Padahal masalahnya sederhana karena kawan disekelilingnya kuatir atau ketakutan kewenangannya diambil oleh anda bila establish kembali.


Karena itu anda akan mendapatkan banyak tokoh politik yang dulu populer kemudian terjadi pembunuhan karakter akibat bertentangan arus oleh mereka yang sedang punya kuasa sehingga tokoh tersebut jatuh dan tidak ingin kembali dalam dunia lamanya yang penuh tantangan. Apalagi usia mereka semakin matang dan tidak ingin hidup repot-repot dengan berbagai urusan.

Berikutnya kita akan membahas dalam politik yang di tenggarai dengan berbagai elemen politik seperti partai politik, kekuasaan pemerintah atau jabatan pada politisi dalam pemerintah atau dalam partai politik yang mengantarnya sebagai yang memiliki kekuasaan.

Nah, apakah mereka dapat diharapkan menjadi teman setia anda dalam politik? Jawabannya belum tentu karena tergantung pada kabaikan hari dan kemampuan mereka memahami politik dalam hidup mereka.

Kepentingan politik yang dinamis seringkali menggeser aliansi dan persahabatan. Tidak ada yang abadi dalam politik, kecuali kepentingan.

Alasan mengapa sulit menemukan teman setia dalam politik:

 * Perubahan Aliansi: Koalisi politik bisa berubah seiring waktu karena perubahan kepentingan atau strategi partai.

 * Persaingan Kuasa: Ambisi untuk meraih kekuasaan seringkali mengorbankan persahabatan.

 * Ideologi yang Berbeda: Perbedaan ideologi bisa menjadi pemicu perpecahan, meski awalnya ada kesepakatan.

Namun, bukan berarti tidak ada sama sekali hubungan yang kuat dalam politik. Beberapa hubungan politik bisa bertahan lama, terutama jika didasarkan pada nilai-nilai bersama yang kuat.

Intinya:

Persahabatan dalam kehidupan pribadi seringkali didasarkan pada kepercayaan, kedekatan,  komunikasi, bahkan kekerabatan, waktu pertemanan dan beberapa faktor lain yang menentukan kualitas pertemanan dan kesetiaan.

Sementara dalam politik, ideology hidup sebahagian besar mereka adalah kepentingan, menjaga, establish dalam politik sejauhmana mereka bisa tegak, Mereka tidak berteman dengan yang membuat mereka harus membungkuk pada politisi, itulah kecenderungan pada politisi kita.

Tidak berbeda dengan memberi bantuan dalam politik, misalnya membantu pembangunan rumah kepada masyarakat, pada dasarnya mereka mengeksploitasi masyarakat tersebut untuk menfaat kepada dirinya.

Karena apa? Ya tentu saja mereka butuh kepercayaan (sosial trust) yang merupakan salah satu modal atau uang dalam politik.

Jadi masyarakat yang menerima jasa politisi tidak berbeda dengan mendukungnya dalam politik.

Demikian juga dengan teman anda dalam politik ketika anda memberikannya fasilitas tidak berbeda dengan melakukan barter dengan trust sosial untuk politik. Dengan demikian teman anda juga menjadi alat politik yang dapat diekploitasi untuk manfaat bagi politik anda.

Karena anda sudah masuk dalam politik yang mana masyarakat tergolong lemah dalam sumber pendapatan, meskipun seumur hidup sebagai DPR maka politisi hanya menjadikannya sebagai pekerjaan rutin dan tidak punya sumber pendapatan sebagaimana mereka yang politisi di masyarakat maju.

Dimana mereka duluan memiliki pendapatan baru menjadi DPR, Sementara di ranah politik kita dari mereka yang tidak punya pendapatan terus dipilih sebagai DPR dan semakin hari semakin menjadi orang kaya. Sementara kalau politisi yang benar tidak mungkin mereka menjadi orang kaya karena pada dasarnya mereka sebagai orang yang berkecukupan atau sejahtera.

Salam




Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil