“Menyebar Berita Bukanlah Kecerdasan: Itu Aib Publik yang Tak Disadari”
✍️ Oleh: Tarmidinsyah Abubakar
Di zaman sekarang, orang berlomba-lomba menyebar berita.
Tiap hari, ratusan pesan mereka kirim ke grup WhatsApp, Facebook, Telegram.
Berita politik, video kekerasan, info skandal, gosip elite…
Mereka pikir mereka sedang hebat.
Mereka merasa “update.”
Merasa ikut andil dalam pergerakan.
Padahal…
satu artikel pun tak pernah mereka tulis.
Satu kalimat pun tak pernah mereka renungkan.
---
📌 Menyebar Berita Tanpa Menulis = Aib Intelektual
Mereka bukan warga negara aktif.
Mereka hanya reseller ketidaktahuan.
Mereka menyebar berita yang ditulis oleh pihak yang bahkan mereka benci.
> Dan sialnya — mereka mengira sedang melawan, padahal sedang membantu.
---
😡 Mereka Tak Tahu: Mereka Sedang Membantu Lawan
Berita-berita yang mereka sebarkan itu:
Sudah dimodifikasi
Sudah diberi framing
Sudah diarahkan untuk menggiring emosi
Tapi karena mereka tak pernah menulis, tak pernah berpikir,
mereka tak bisa membedakan mana informasi, mana manipulasi.
> Mereka pikir share video adalah bentuk keberanian.
Padahal itu bentuk kemalasan berpikir.
---
🧠 Siapa Warga Negara yang Mumpuni?
Warga negara sejati adalah mereka yang membuat standar berpikir publik.
Mereka menulis.
Mereka menyusun narasi.
Mereka menciptakan tolok ukur diskusi.
Bukan mereka yang hanya menyebar link dan merasa cerdas.
Menulis bukan sekadar mengetik.
Menulis adalah:
Menyusun logika
Menguji data
Menantang cara pikir umum
Menawarkan solusi
Dan itu tidak dilakukan oleh orang yang kerjaannya cuma share berita dari akun propaganda.
---
✋ Kita Harus Katakan: Ini Aib, Bukan Amal
Kalau mereka tak dihentikan, masyarakat akan rusak.
Generasi muda akan mengira bahwa menjadi "aktif" itu artinya menyebar berita dari orang lain.
Padahal itu bukan aktivisme.
Itu penjajahan pikiran yang disamarkan.
---
✊ Penutup:
Warga negara jenius bukan mereka yang paling banyak share link.
Tapi mereka yang membuat link baru—dari pikirannya sendiri.
Yang menulis artikel.
Yang menyusun ide.
Yang menyodorkan peta logika kepada publik.
Kalau kamu belum pernah menulis apa pun, tapi setiap hari menyebar berita dari pihak yang bahkan kamu tidak kenal…
> Maka kamu bukan sedang cerdas.
Kamu sedang jadi alat.
Dan alat yang tidak sadar dirinya dipakai — itu bukan kekuatan.
Itu kelemahan yang menyedihkan.
—
Tarmidinsyah Abubakar
Menulis bukan untuk viral.
Menulis untuk menyelamatkan akal sehat rakyat.