“Silaturrahmi Bukan Politik: Ketika Rakyat Dibodohi dengan Senyum dan Selfie”(Dari Duta Silaturrahmi Hingga Demokrasi Kosong)
📝 Isi Artikel:
Di negeri ini, politik tidak butuh arah.
Cukup datang, senyum, bilang “kita keluarga,” foto bareng, dan...
tiba-tiba dianggap tokoh.
> Lalu muncullah gelar tidak resmi: “Duta Silaturrahmi.”
Dia tidak pernah menyusun gagasan.
Dia tidak tahu dasar negara.
Dia tidak paham UU Pemilu.
Tapi… dia dikenal.
Dia sering diajak duduk.
Dia jadi mak comblang antara calon pemimpin dan rakyat yang tak tahu apa-apa.
---
🧠 Politik yang Gagal Membaca
Orang-orang seperti ini — baik yang mengaku tokoh maupun yang didekati oleh tokoh — adalah produk politik buta huruf.
Mereka mengira silaturrahmi itu sudah cukup.
Padahal silaturrahmi tanpa arah politik adalah jalan buntu kolektif.
> Yang datang bukan pemimpin.
Yang menyambut bukan rakyat berpikir.
Yang terjadi hanyalah festival senyum tanpa substansi.
---
⚠️ Bahaya Terbesar:
Rakyat kehilangan kebiasaan bertanya.
Calon pemimpin tidak perlu program.
Politik berubah jadi pergaulan kosong.
Dan karena itu berulang tiap pemilu, maka rakyat merasa ikut berpolitik padahal sedang ditipu pakai kopi dan selfie.
---
✍️ Solusi:
Kita harus bilang terang-terangan:
> Silaturrahmi bukan politik.
Politik adalah gagasan.
Politik adalah arah.
Politik adalah keberanian menolak, bukan hanya kesopanan menerima.
---
✊ Penutup:
Jangan bangga jadi “Duta Silaturrahmi” kalau kamu tidak pernah menulis satu gagasan pun tentang masa depan rakyat.
Jangan bangga punya akses ke calon, kalau kamu sendiri tidak tahu apa yang harus ditagih dari dia.
> Politik bukan soal kamu kenal siapa.
Politik adalah kamu paham apa.
Kalau tidak paham dan hanya bisa tertawa di warung kopi—jangan heran kalau kita dijajah dengan sopan.
—
Tarmidinsyah Abubakar
Dari Seulawah, untuk menyelamatkan politik dari pelukan selfie.