Postingan

ACEH: KETIKA PEMERINTAH TIDAK LAGI MENGHASILKAN KEMANDIRIAN

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Aceh bukan sekadar wilayah administratif. Aceh adalah wilayah dengan sejarah panjang perjuangan, konflik, dan damai. Warga Aceh pernah berjuang untuk kemerdekaan yang bermartabat, bukan sekadar kemerdekaan administratif, tetapi kemerdekaan nyata dalam kehidupan rakyatnya. Namun hari ini pertanyaannya sangat mendasar: Setelah hampir dua dekade otonomi khusus dan APBA yang besar, apakah rakyat Aceh benar-benar merdeka secara ekonomi dan sosial? Jika jawabannya belum, maka yang perlu dievaluasi bukan semangat rakyatnya, melainkan arah pemerintahannya. KEMISKINAN: ANGKA YANG TIDAK BOLEH DIABAIKAN Data menunjukkan tingkat kemiskinan Aceh masih berada di kisaran 12–13 persen dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, sekitar 700 ribu lebih rakyat Aceh masih hidup di bawah garis kemiskinan dari total penduduk sekitar 5,5 juta jiwa. Angka ini memang mengalami penurunan dibanding masa sebelumnya, tetapi belum menunjukkan lompatan transformasional yang signi...

Aceh: Antara Pemimpin Pembongkar dan Pemimpin Perawat

Gambar
Aceh banyak pemimpin, Aceh kelebihan pemimpin perawat. Selama dua dekade pascakonflik, Aceh dipimpin oleh figur-figur yang mengklaim diri sebagai penjaga perdamaian, perawat luka sejarah, dan pelindung martabat rakyat. Namun di balik bahasa damai itu, satu hal luput disadari: Aceh tidak sedang sakit ringan — Aceh mengalami pembusukan struktural. Dalam kondisi seperti itu, yang dibutuhkan bukan pemimpin perawat, melainkan pemimpin pembongkar. Pemimpin Perawat di Aceh: Merawat Kebusukan dengan Bahasa Adat dan Agama Pemimpin perawat di Aceh punya ciri khas: pandai berbicara adat, tapi miskin gagasan rajin mengutip agama, tapi alergi kejujuran menjaga harmoni elite, bukan keadilan rakyat sibuk menenangkan, bukan menyembuhkan Mereka merawat Aceh dengan retorika syariat, namun membiarkan: korupsi menjadi adat baru feodalisme diwariskan kebodohan dilembagakan intelektual dimarginalkan Aceh terlihat tenang, tapi tenang yang busuk. Kenapa Pemimpin Pembongkar Tidak Pernah Nyaman di A...

Buku Guru Menurut Islam dan Umum

Gambar
Kata Pengantar Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Buku ini hadir sebagai panduan bagi rakyat Aceh untuk memahami siapa guru sejati, menghormati ilmu, dan membedakan antara guru yang membimbing secara hakiki dan guru yang hanya mempertahankan tradisi lama. Selama ini, banyak masyarakat Aceh menilai guru dari gelar, pakaian, atau ritual, padahal guru sejati adalah mereka yang membuka ilmu, membimbing pemikiran, dan menuntun hati. Ilmu sejati tidak mengenal pakaian atau gelar; ia hadir melalui tulisan, buku, artikel, dan ajaran yang bermanfaat. Buku ini juga menyingkap sejarah Aceh, pengaruh kolonial Belanda, dan bagaimana pola pikir feodal masih tersisa dalam sebagian praktik pengajaran. Dengan pemahaman ini, diharapkan rakyat Aceh bisa membebaskan diri dari mental kolonial, mengembangkan akal, dan membangun generasi yang cerdas, kritis, dan demokratis. Semoga buku ini menjadi panduan yang mencerahkan, membimbing, dan membuka wawasan, serta menjadi doa bagi kebangkitan ilmu dan...

Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara

Gambar
Ketika Rakyat Tidak Memiliki Negara Oleh: Tarmidinsyah Abubakar Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam kehidupan berbangsa hari ini adalah anggapan bahwa masalah utama rakyat hanyalah soal kemiskinan, lapangan kerja, atau bantuan sosial. Masalah yang lebih mendasar justru sering luput dibicarakan: rakyat tidak lagi memiliki negara. Negara seharusnya adalah alat kolektif rakyat untuk mengatur dirinya sendiri secara adil dan bermartabat. Namun dalam praktik, negara kerap berubah menjadi milik segelintir elite kekuasaan. Pemerintah berdiri di atas rakyat, bukan bersama rakyat. Dalam posisi ini, rakyat tidak diperlakukan sebagai subjek politik, melainkan objek administrasi—bahkan tidak jarang seperti buruh di tanah sendiri. Ketika rakyat kehilangan posisi tawar terhadap negara, hak untuk menuntut keadilan pun melemah. Kritik dianggap gangguan, perbedaan pandangan dipersepsikan sebagai ancaman, dan suara publik direduksi menjadi sekadar formalitas prosedural. Inilah ciri klasi...

Rakyat Aceh Memilih, Tapi Belum Memiliki Negara

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Pada Pilpres lalu, sekitar 70 persen rakyat Aceh memilih Anies Baswedan. Pilihan itu bukan sekadar angka, tetapi isyarat penting: rakyat Aceh sesungguhnya menolak politik militerisme dan kepemimpinan otoriter yang selama ini menyakiti daerah-daerah pinggiran. Namun pada saat yang sama, di banyak wilayah Indonesia, rakyat justru “mabuk kekuasaan” terpesona pada figur tentara, militer, dan kekuatan koersif, seolah-olah negara harus dipimpin dengan tangan besi. Ini bukan soal suka atau tidak suka pada tokoh tertentu, tetapi soal cara berpikir politik yang salah kaprah. Masalah utamanya bukan siapa presidennya. Masalah utamanya adalah rakyat belum sadar bahwa negara itu milik mereka. Kesalahan Berpikir Paling Fatal: Negara Dianggap Milik Penguasa Sebagian besar rakyat Indonesia termasuk di Aceh, masih hidup dalam cara berpikir feodal: Negara dianggap milik presiden, gubernur, atau elit kekuasaan. Padahal dalam negara modern dan demokratis, negara adalah milik r...

Pemimpin Offside dalam Demokrasi

Gambar
Oleh : goodfathers Dalam sepak bola, offside adalah pelanggaran terhadap batas permainan. Pemain boleh berlari, menyerang, dan mencetak gol, tetapi tidak boleh melewati garis aturan. Demokrasi bekerja dengan logika yang sama. Kekuasaan memiliki batas, dan batas itu bernama konstitusi. Masalah serius yang dihadapi banyak negara demokrasi hari ini termasuk Indonesia, bukanlah kekurangan aturan, melainkan pemimpin yang bermain di luar garis.  Mereka terpilih melalui mekanisme demokrasi, tetapi memimpin dengan budaya otoriter. Kritik dianggap ancaman, perbedaan pendapat dicurigai sebagai makar, dan rakyat yang bersuara dilabeli sebagai pembangkang. Pertanyaannya menjadi mendasar: siapa sebenarnya yang memberontak? Negara ini berdiri di atas konstitusi. Artinya, kedaulatan hukum berada di atas kekuasaan individu. Presiden, gubernur, bupati, hingga walikota bukanlah penguasa absolut, melainkan pejabat publik yang dibatasi hukum. Ketika seorang pemimpin melanggar konstitusi, mengabaikan h...

Bangkit di Negeri Pendusta: Strategi Rakyat Aceh Melawan Kebohongan Sistemik

Gambar
Bangkit di Negeri Pendusta: Strategi Rakyat Aceh Melawan Kebohongan Sistemik By. Goodfathers Rakyat Aceh sedang hidup di tengah sistem yang abai moral. Negara, pejabat, dan elit politik seringkali lebih mementingkan kekuasaan dan ambisi pribadi daripada kepentingan rakyat. Akibatnya, kebohongan menjadi norma, dan rakyat kehilangan arah. Tapi bro, ada cara untuk tetap benar, kuat, dan merdeka secara moral. 1. Sadari Siapa Lawanmu Kebohongan sistemik tidak datang dari rakyat biasa. Ia berasal dari: Pejabat yang korup dan manipulatif, menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Elit politik yang haus kekuasaan, menganggap rakyat hanya alat mencapai tujuan. Negara yang sah secara hukum tapi tidak moral, sehingga semua aturan bisa diselewengkan. Rakyat Aceh harus sadar: tidak semua yang sah adalah benar, dan tidak semua yang tampak baik adalah baik. Kesadaran ini adalah pondasi untuk bertahan. 2. Jangan Mengikuti Arus Kekuasaan Banyak orang Aceh tergoda ikut arus kekuasaan demi keuntunga...