Jika Semua Masalah DiPandang Politik

Kita kehilangan jati diri ketika kita tidak mampu membedakan politik dengan semua bidang kehidupan sehari-hari. Kita beribadah dilihat dalam kacamata politik, kita menunaikan kewajiban dalam bermasyarakat juga dipandang dalam perspektif politik. Demikian pula menghadiri pemakaman orang juga dianggap nilai dalam politik, maka sungguh kita telah membelenggu diri kita dengan politik.

Tidak terbatas disitu dalam permasalahan pertemanan juga kita memandang dalam perspektif politik dimana kita memilih mana yang merugikan dan menguntungkan secara politik.

Karena cara pandang tersebut dalam kacamata kuda maka tidak ada hubungan yang terjalin sebagai urusan kemanusiaan dan bahkan kesetiakawan kita terhadap sahabat telah pupus. 

Belum lagi kebanyakan orang-orang yang baru mengetahui partai politik yang berteman dan mencari teman hanya untuk separtai dengannya. Padahal tanpa sadar kita sedang mengurung diri kita dalam kandang besi yang sangat melemahkan diri kita sebagai manusia yang diciptakan dengan kebebasan dan diharap mandiri dalam berpikir.

Betapa seorang teman yang kita ingin dekat hanya karena dia perfect bukan pertemanan original yang menerima segala kekurangan dan saling memperkuat dan saling mendukung, saling memberi dan menerima kala susah.

Oleh karena itu maka kita perlu membedakan yang mana aktivitas politik dan mana aktivitas silaturrahmi. Karena keduanya melibatkan komunikasi dan interaksi antar manusia. Dengan begitu maka setiap warga masyarakat harus memahami sepenuhnya tentang politik yang sesungguhnya.

Jika tidak maka terhadap saudara kandungpun kita akan saling mencurigai. Apalagi family lain yang bertautan dalam hubungan keluarga tentu tidak akan ada yang utuh bangunan komunikasinya.

Maka jangan heran kalau dalam peradaban kita menyebabkan gab atau kesenjangan pergaulan lintas status sosial, bahwa orang kebetulan sedang bernasib baik dalam kekayaan akan cenderung membangun hubungan dengan yang berstatus sama. Sementara yang kebetulan bernasib dibidang harta dalam keadaan kurang beruntung maka ia akan bersatu dengan orang yang status sosialnya sama.

Maka jangan heran ketika ada yang mengeluhkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Karena yang kaya tidak pernah ingin mengangkat sahabat dan orang yang miskin bila tidak bisa ditukar dengan kepentingan politik.

Ini adalah masalah sosial yang butuh formulasi penanganan oleh pemerintah dengan konsep agar meminimalisir kesenjangan sosial.


Semoga dimasa depan ada yang mau mencurahkan pemikirannya untuk kehidupan sosial warga Aceh yang lebih baik dan sejahtera sebagaimana cita-cita semua negara dan daerah yang diharapkan melalui pemimpinnya.

Salam

Tarmidinsyah Abubakar


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil