KONGRES PARTAI dan KARANTINA : Kebijakan Mempertontonkan Kebodohan Dalam Demokrasi
"Memantau Kongres PAN di Kota Kecil Kendari"
Kongres jaman now terkenal dengan istilah karantina. Pemilik suara dari daerah dikumpulkan oleh kandidat dan timnya kemudian diberangkatkan dengan pesawat yang sama seperti rombongan naik haji gitu kemudian dikumpulkan disuatu tempat khusus disuatu hotel dalam suatu kota kemudian diberangkatkan ke Acara Kongres untuk memilih dan memberikan kata yel-yel dan puja-puji pada calon Ketua Umum.
Karantina ini biasanya diistilahkan dalam ikhwal hewan yang dipisahkan dengan hewan lainnya. Kalau pada level hewan sungguh masih wajar karena mereka tidak bisa menggunakan pikirannya untuk berpikir.
Tapi pada level manusia apalagi para pimpinan partai daerah sungguh tidak rasional dan ini adalah ajaran paling buruk dalam sejarah politik demokrasi di Indonesia. Semoga para petinggi Partai bisa berpikir jernih dan dapat memanusiakan manusia dalam perkara menggunakan hak pilihnya dalam kongres atau musyawarah.
Saya berharap akan ada perubahan hasil terhadap apa yg dilakukan oleh kandidat calon Ketua Umum partai yg sedang menghadapi kongres, maksudnya Karantina tidak bisa memastikan peserta untuk memilih kandidat tertentu yang mengkarantinakan mereka. Karena kebijakan karantina adalah bentuk pengangkangan terhadap demokrasi apalagi kandidat membeli mereka untuk memilih.
Jika ingin menjaga nama baik partai maka sudah seharusnya para peserta yang dikarantinakan itu melakukan sesuatu yang terbalik dari apa yang diharapkan, agar para kandidat dengan kebiasaan buruk ini dapat berpikir ulang dan semoga menjadi pelajaran berharga utk pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.
Berikutnya karantina-karantina peserta yang memalukan itu tidak menjadi budaya bagi pemilihan ketua umum partai politik di Indonesia.
Menurut saya karantina dalam kongres adalah langkah yang sangat mundur dalam berorganisasi. Tentu cara seperti ini hanya dilakukan oleh mereka yang tidak menggunakan akal secara sehat. Bahkan menurut saya para calon ketua umum tersebut ada kelainan dalam cara pikirnya dan mereka telah merendahkan para peserta kongres menjadi makhluk yang tidak bisa berpikir bebas. Tentu ini ironis dengan apa yg diharapkan pada mereka dan sikapnya yg seharusnya oleh rakyat.
Homlah, gram teuh,,,
