Instruksi Pejabat Yang Tidak Mendidik
Begitu banyak kita menyaksikan instruksi-instruksi para pejabat yang kontroversi dan terkesan otoriter jauh dari pendidikan politik rakyat, karena sikap pejabat yang tidak matang dan prematur sehingga mereka cenderung memposisikan diri sebagai egoisme dalam pangkat atau jabatan yang disandang.
Prilaku ini kemudian menjadi begitu negatif untuk pendidikan rakyat, karena setiap instruksi yang ditinggalkan hanya kesan negatif atau pembunuhan karakter terhadap orang lain secara masif.
Sudah seharusnya pejabat publik itu banyak belajar sehingga kuasa dan instruksi terhadap pihak lain tidak menimbulkan posisinya sebagai orang yang bersalah. Karena semakin banyak instruksi yang bersifat menghukum orang maka semakin bertambah jumlah orang yang merasa kecewa atas prilaku pejabat dimaksud.
Padahal memperbaiki situasi sosial butuh cara yang elegan yang tidak menekan sebelah pihak ssbagai yang disudutkan atau disangkakan. Secara psikologis sosial orang yang terduga dan merasa bersalah mereka tidak lagi merasa nyaman dilingkungan pekerjaannya. Karena tekanan mental akhirnya masyarakat memilih menjadi jahat karena mereka sudah terlebih dahulu di klaim jahat oleh instruksi pejabat tersebut.
Oleh karena itu melakukan instruksi dalam kepemimpinan sosial perlu lebih apresiatif, jika perlu memperlajari masalahnya secara baik dan memahami akar masalahnya sehingga mereka merasa dihargai dan tentunya mereka akan senang dilingkungannya.
Kebiasaan para pejabat senantiasa bersikap feodal dalam menangani masalah, misalnya memposisikan diri sebagai pejabat yang ditakuti dimana seharusnya pejabat itu disegani. Seterusnya mereka yang sudah berjabatan hanya berkemampuan sekedar memperlihatkan ego jabatan tetapi tidak punya kemampuan untuk pendekatan sosial untuk menghasilkan masyarakat yang lebih baik.
