Ketika Bodoh Menjadi Abadi: Orang Pintar Tak Didengar dan Negara Tak Pernah Belajar


Ketika Bodoh Menjadi Abadi: Orang Pintar Tak Didengar dan Negara Tak Pernah Belajar

Menyalakan Lampu di Tengah Kabut Kebodohan

Tarmidinsyah Abubakar
Aceh Bangkit Institute


---

Negeri ini seperti berjalan di tengah kabut tebal.
Semua orang mengaku tahu arah, tapi tak satu pun benar-benar paham ke mana sedang melangkah.
Yang membawa obor dibiarkan berjalan sendirian, sementara mereka yang buta arah justru memimpin arak-arakan dengan suara lantang.
Dan rakyat pun ikut berjalan — bukan karena tahu jalan, tapi karena takut tertinggal.

Kebodohan di negeri ini bukan sekadar kekurangan ilmu. Ia sudah menjelma menjadi budaya, sistem, bahkan kebanggaan.
Ketika seseorang berbicara dengan akal sehat, ia dianggap melawan.
Ketika seseorang bertanya dengan logika, ia dituduh mengacau.
Dan ketika seseorang mencoba menyalakan lampu di tengah kabut, orang-orang justru berteriak: “Padamkan! Silau!”


---

Ketika Bodoh Menjadi Abadi

Kita hidup dalam negara yang sering salah memilih pemimpin — bukan karena kurang pilihan, tapi karena rakyat tak mengenal ukuran kecerdasan.
Yang pandai berbicara dianggap hebat, yang pandai menipu dianggap pintar, yang pandai mencuri dianggap lihai.
Sementara yang jujur, yang berpikir, yang ingin memperbaiki — dianggap ancaman bagi kenyamanan kebodohan massal.

Kebodohan menjadi abadi bukan karena tidak ada sekolah, tapi karena sekolah pun sering mendidik untuk tunduk, bukan berpikir.
Anak-anak diajarkan menghafal, bukan memahami.
Pegawai diajarkan melapor, bukan berinisiatif.
Dan rakyat diajarkan percaya, bukan mempertanyakan.


---

Orang Pintar Tak Didengar, Orang Bodoh Menjadi Raja

Ironinya jelas: di negeri ini, logika tak punya panggung, tapi loyalitas tanpa isi dipuja seperti dewa.
Orang yang bisa berpikir dianggap sombong, orang yang jujur dianggap berbahaya, orang yang tenang dianggap lemah.
Padahal yang membuat negeri maju bukan orang yang bisa berteriak, tapi orang yang bisa berpikir jernih.

Kekuasaan akhirnya diisi oleh mereka yang paling pandai menjilat, bukan yang paling mampu memimpin.
Rakyat pun menonton dengan pasrah, seolah tak ada pilihan lain.
Dan ketika semua posisi strategis dikuasai oleh orang yang salah, maka kesalahan itu pun dilembagakan — menjadi sistem, menjadi tradisi, menjadi “normal”.


---

Kesalahan Tak Terlihat: Mengapa Rakyat Tak Pernah Marah

Rakyat tidak marah bukan karena mereka puas, tapi karena mereka terbiasa hidup dalam ketidakbenaran.
Mereka tidak lagi mampu membedakan mana keadilan, mana kepalsuan.
Mereka disuapi slogan, disuguhi simbol, lalu dipaksa percaya bahwa itulah kenyataan.

Mereka yang berkuasa tahu cara memainkan emosi rakyat — dengan sedikit bantuan sembako, sedikit panggung hiburan, dan banyak janji yang tak pernah ditepati.
Dan rakyat pun kembali tenang, seolah keadilan bisa dibeli dengan karung beras atau suara mikrofon.

Kita hidup dalam sistem yang membuat kebohongan tampak sah, sementara kebenaran dianggap mengganggu stabilitas.


---

Abadi Bodoh: Kisah Negara yang Tak Pernah Belajar

Negeri ini sudah terlalu sering jatuh ke lubang yang sama — hanya saja setiap kali jatuh, kita ganti nama lubangnya.
Dulu disebut penjajahan, sekarang disebut pembangunan.
Dulu disebut pengkhianatan, kini disebut strategi politik.
Padahal intinya sama: kebodohan yang dilestarikan dengan pakaian baru.

Selama rakyat belum berani marah kepada kebodohan, negeri ini tak akan pernah belajar.
Selama orang pintar masih dianggap musuh, dan orang bodoh masih dielu-elukan, maka bangsa ini akan terus berjalan di kabut — sambil merasa sedang menuju cahaya.


---

Menyalakan Lampu di Tengah Kabut

Namun, kabut tidak abadi.
Ia hanya tampak tebal bagi mereka yang takut menyalakan lampu.
Dan lampu itu bukan berada di tangan pemerintah, bukan di istana, bukan di partai — tapi di kepala setiap orang yang berani berpikir.

Kita tak perlu menunggu semua sadar.
Cukup satu orang yang berani menyalakan lampu, maka sejengkal demi sejengkal kabut akan memudar.
Dan ketika cahaya mulai tampak, maka bangsa ini akan tahu: ternyata selama ini kita bukan buta, hanya malas membuka mata.


---

Penutup:

“Bangsa yang bodoh akan terus memilih pemimpin yang membuatnya tetap bodoh.
Tapi bangsa yang berani berpikir — sekecil apa pun jumlahnya — adalah awal dari peradaban baru.”



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil