Rahasia Kotor di Balik Perdamaian Aceh: Demokrasi Sengaja Dikaburkan, Rakyat Dibius



Rahasia Kotor di Balik Perdamaian Aceh: Demokrasi Sengaja Dikaburkan, Rakyat Dibius


Oleh : goodfathers Aceh


Selama dua dekade terakhir, rakyat Aceh hidup dalam keyakinan bahwa perdamaian adalah hadiah dari penderitaan, seolah damai lahir karena tsunami, karena belas kasihan, atau karena kebesaran hati segelintir elite. Padahal kebenarannya tidak demikian.
Damai Aceh lahir karena demokrasi. 

(Silakan siapapun bisa menyanggah tulisan ini dan saya menanti untuk disanggah)

Begini,
Ketika Indonesia melakukan reformasi dan mengamandemen UUD 1945, terbukalah ruang besar bagi seluruh rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri. Demokrasi membuka jalan bagi otonomi khusus, pengakuan terhadap hak politik Aceh, serta perjanjian damai yang akhirnya menghentikan perang. Tanpa demokrasi, tidak mungkin lahir perjanjian Helsinki.
Dengan kata lain, damai Aceh adalah buah dari reformasi nasional, bukan kemurahan hati segelintir orang.


Nah, kenapa reformasi ditutupi, inilah cara membunuh demokrasi agar rakyat bisa dikembalikan ke sistem otoriter. Karena dengan sistem otoriter kekuasaan mudah dikendalikan. Misalnya mau kendalikan rakyat Aceh cukup dengan mengendalikan kepala daerahnya. Misalnya rakyat Indonesia mau dikedalikan maka cukup dengan mengendalikan presiden maka apapun bisa dilakukan oleh kelompok pengendali tersebut.

Dengan kata lain negara dan daerah dapat diperjualbelikan dengan lebih mudah hanya menggunakan tombol presiden dan kepala daerah tanpa perlu memikirkan rakyat.


Karena itu dibalik damai Aceh, ada sekelompok dalam lingkaran bekas kombatan dan elit politik Aceh yang sengaja menutupi kebenaran ini. Mereka mengaburkan makna demokrasi agar rakyat tidak memahami hak-haknya.

 Mereka menulis ulang sejarah dengan cara yang licik, membuat rakyat percaya bahwa damai adalah hasil belas kasihan, karena GAM sudah tersudut, bukan hasil perjuangan politik bangsa Indonesia menuju sistem demokrasi. 

Ingat baik baik perkataan saya ini : 

"Sesungguhnya perdamaian itu adalah bahagian dari pembangunan nasional secara demokratis yang membebaskan negara dari rezim otoritarian"


Nah, kembali ke kelompok yang sengaja merusak, saya menilai kelompok ini paham satu hal:

“Selama rakyat Aceh tidak mengerti demokrasi, mereka akan terus mudah dikendalikan dan dibodohkan"


Karena demokrasi bukan soal pemilihan, pemilihan (vooting) itu hanya satu mekanisme untuk menyelesaikan perbedaan pendapat.


Dengan kaburnya demokrasi maka dimulailah politik pembodohan sistematis. Rakyat dibiasakan melihat demokrasi sebagai barang kafir, sesuatu yang bertentangan dengan agama, padahal justru demokrasi memberi ruang bagi kebebasan beragama. Rakyat dijauhkan dari pengetahuan tentang konstitusi, tentang hak rakyat, tentang fungsi pemerintahan yang terbuka.

Setiap orang yang bicara soal akal sehat, keadilan, dan hak rakyat dicap “melawan kebiasaan”, “menentang sejarah”, atau bahkan mereka sebutkan sebagai “antek pusat”. Semua ini dilakukan agar rakyat tidak sadar bahwa demokrasi adalah benteng mereka dari penindasan baru.


Ironinya, mereka yang dulu berjuang atas nama rakyat kini menjadikan rakyat sebagai tameng dan alat legitimasi.
Mereka memonopoli simbol perjuangan, tapi mematikan ruh perjuangan itu sendiri.
Mereka bicara tentang martabat Aceh, tapi membungkam akal rakyat Aceh.

Inilah bentuk penjajahan baru: penjajahan atas pikiran.
Aceh dibius dengan cerita lama, agar tak melihat kenyataan baru. Rakyat disuruh terus mengingat luka masa lalu, tapi dilarang belajar memahami masa depan.

Padahal demokrasi bukanlah milik Barat, bukan pula ciptaan kafir. Demokrasi adalah alat untuk memastikan kekuasaan tunduk kepada akal, hukum, dan suara rakyat. Justru melalui demokrasi, nilai-nilai Islam seperti keadilan, musyawarah, dan kebebasan berpikir bisa hidup dalam sistem negara modern.

Hari ini, tugas terbesar rakyat Aceh bukan lagi melawan penjajah bersenjata, tapi melawan kebodohan yang disebarkan oleh sesama anak Aceh.
Kita harus berani membuka mata dan bertanya:

Mengapa demokrasi selalu ditakuti, padahal darinya lahir damai yang kita nikmati?
Siapa yang diuntungkan dari kebodohan rakyat Aceh tentang makna demokrasi?



Selama rakyat tidak mengerti ini, Aceh akan terus dijaga dalam kabut, tenang di permukaan, tapi kehilangan arah di dalam.

Sudah waktunya rakyat Aceh sadar: perdamaian sejati bukan berarti diam, tapi mengerti.
Dan yang harus kita mengerti hari ini adalah satu hal sederhana.

Bahwa damai Aceh hanya mungkin karena demokrasi.
Tanpa demokrasi, damai akan tinggal slogan, dan rakyat akan tetap dibius oleh kebohongan.

Tanpa paham narasi ini maka berhentilah bicara referendum, karena anda tidak paham bahwa aspirasi anda dalam darah demokrasi bukan dalam darah otoriter.

Dan anda sedang dalam politik modern bukan politik tradisional yang bicara sekedar silaturrahmi, persatuan dan kesatuan tanpa memahami keadilan dan kebenaran itu apa yang sesungguhnya.

Ach...itu anak kecil saja tahu, anda salah keadilan dan kebenaranlah yang paling rumit anda pahami. Saya akan menjelaskan pada artikel pendidikan sosial edisi yang lain.

Saleum....

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil