"Kebiasaan Salah Menilai Kemampuan"

Semangat Pagi Teman,,,

Kenapa orang-orang yg haus pengetahuan membagikan status anda yg dianggap penting, salah satu yg perlu dipahami adalah akun fb itu menjadi media penyimpanan yang baik dan ia telah mendokumentasikan tulisan-tulisan  yang baik menjadi sebuah buku atau bank pengetahuan bagi persoalan hidup yang pernah dihadapi ditengah masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Mereka tidak membagi status itu untuk mendapatkan "like" yang banyak sebagaimana harapan orang kebanyakan, tetapi mereka paham apa yang mereka lakukan. Orang-orang yang berpikir dan memiliki target serta tujuan tersendiri akan melakukan sesuatu diluar kebiasaan yang dilakukan kebanyakan orang lain.

Mereka juga belajar dan berguru sama seperti belajar disekolah dan di dayah, karena referensinya adalah tulisan-tulisan yg dikumpulkan menjadi sebuah buku yang oleh orang dayah menyebutnya kitab, sama sekali tidak berbeda kecuali perihal aksesoris belajar selebihnya panduan utamanya adalah buku alias kitab dan guru yang memahami.

Dalam banyak hal kita hanya perlu merubah cara kita, salah satu syarat untuk itu adalah Fokus dalam belajar sesuatu secara continue. Belajar itu bukan harus pada orang yg dikharismatikkan oleh masyarakat tetapi kita perlu melihat pikiran-pikiran yg efektif yang kita anggap matc dengan pikiran kita untuk menjawab tantangan sosial.

Kenapa tidak harus kepada orang yang di kharismatikkan? karena dalam banyak hal kita salah persepsi, yang kita anggap orang politik atau pemimpin ternyata tidak bisa berbuat ketika masyarakat butuh, yang kita anggap punya power politik gagah ternyata juga tidak mampu berbuat.

Salahnya dimana? Kita salah menilai dan memposisikan orang. Karena pengetahuan kita lemah maka menilai kemampuan politik orang lain juga kita salah kaprah. Tapi kenapa banyak yang mendukung orang yang ilmunya tidak sesuai dengan kepemimpinan sosial dan pemerintahan? 

Karena pengetahuan orang itu rata-rata segitu dalam kemampuannya memilih. Masih dapat dimaklum karena pengalaman memilih kita yg minim, apalagi masyarakat kita terlalu lama dibodohkan dalam memilih gambar Ka'bah, Beringin dan Banteng tidak terbiasa memilih orang. Maka ketika memilih orang kita terjebak dengan pakaian, kopiah, dasi, warna, wajah dan hal-hal yang tidak berpengaruh.

Kita belum mampu memahami ilmu politik sehingga sulit memahami siapa yang punya ilmu atau siapa yg tidak cukup ilmunya bahkan orang bodoh bisa saja kita angkat sebagai Tuan dan kita agungkan. Karena itulah kita belum bisa melahirkan pemimpin yang memuaskan hasil pilihan rakyat. 

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Salam