Sebaiknya Tiarap Aja Jika Kebijakan Publik Yang Tidak Tepat
Selamat Pagi,,,,
Warga Yg Mau Paham Aja,,,
Jika dalam politik anda sudah terjebak dengan kebijakan yang salah, maka sebaiknya diam aja (tiarap) sebagaimana dalam kasus korupsi ketika divonis 4 tahun kemudian anda mencari kebenaran dengan Banding dalih utk meringankan maka biasanya hukuman justru bertambah menjadi 5,6,7 bahkan 8 tahun.
Misalnya dalam hal pemerintah Aceh membagi sembako kemudian masyarakat melakukan protes dan memang ruang kritik itu terbuka krn tuntutan biaya hidup dan gangguan kegiatan usaha masyarakat akibat ulah kebijakan pemerintah. Karena ruang kritik yg terbuka maka sampai pada warnapun menjadi masalah dalam kacamata publik.
Permasalahannya sebenarnya dimana? Publik sudah tidak terpuaskan sejak awal dikeluarkan kebijakan publik ttg penanganan corona dan pemerintah Aceh lambat bertindak ibarat irama lagu melayu yang mendayu-dayu dalam mensiasati sebuah kebijakan. Tentu tidak rumit utk dipahami publik bahwa pemerintah ketakutan mengeluarkan uang bagi rakyatnya, tidak sebagaimana dinegara lain.
Kalau masyarakat sudah tercerahkan dalam demokrasi maka sesungguhnya negara telah secara terang-terangan mengkhianati rakyatnya. Logikanya begini :
Saya yakin banyak dari keluarga telah membayar pajak pd negara ini setiap tahun, pajak kenderaan, pajak bumi dan bangunan, tanpa terasa dengan membuat surat ini dan itu kepada negara anda membayarnya, bahkan anda harus membayar negara ini ketika anda melamar kerja sementara pekerjaan belum pasti anda dapatkan. Itulah KEWAJIBAN anda sebagai Warga Negara ini yg dibebankan pemerintah kpd anda.
Sementara ketika anda menghadapi ancaman jiwa dengan wabah penyakit namun negara justru tidak memenuhi HAK warga sebagaimana mestinya bahkan hasil diskusi dengan Tim Sembako pemerintah Aceh di FB kita dapatkan kisaran harga Rp. 200 Ribu Rupiah yang dibagi kepada rakyat dengan pola kampanye Akbar pula.
Image yang terbentuk dan ditinggalkan kpd masyarakat adalah pemerintah setelah tidak memberi hak rakyat bahkan mereka masih melakukan kampanye dalam kesempitan dan keresahan masyarakat. Kalau anda tanya ke saya yang minta di kritik atau dibully siapa? Jawabnya pemimpin pemerintahan Aceh dong,,,
Kenapa di kritik? Jelas karena sekedar pembagian sembako pakai kampanye lagi, pakai pengangkutan dengan armada biru dan timnya, saya tidak memantau apakah pekerja menggunakan topi baret semua. Nah ini kan kekonyolan terbuka yg dipertontonkan. Terus apa masih ada rakyat yang percaya? Tentu ada siapa??
Kader partai yg lemah daya pikir itu yg pintar pasti diam dan mundur selangkah, seterusnya siapa? anggota masyarakat yg mmg simpatisan buta, siapa lagi? ya warga yang mentalitasnya terjajah, siapa lagi ya pengemis, siapa lagi ya manusia yg tidak memenuhi syarat sebagai warga negara, seperti apa? ya seperti lembu tidak berpikir.
Setelah kondisi ini pemerintah mencoba pula membela diri dgn kebijakan abal-abal itu, dengan menyampaikan bahasa berpura jujur bhw warna sebagai unsur estetika, pelangi juga berwarna warni diciptakan Allah SWT dengan fasih. Mencoba mengaburkan komunikasi politik yg berlaku umum. Padahal dalam Teori Politik disebutkan kebijakan yang salah ditutupi dengan kebijakan lain yang salah maka ia akan terus berbohong tujuh keturunan. Jadi membuat konferensi pers menjelaskan kebijakan yg Salah justru menambah kesalahan yang berganda dalam politik. Tapi kenapa dilakukan oleh tim pemerintah dan afiliasinya? Menurut saya mereka Kurang Membaca banyak Membaca Saja.
Ingat politik itu bukan sekedar Propaganda Apam, matang dibawah dibalik ke atas, bukan juga propaganda sempurna karena apa? Karena Propaganda itu tetap aja bernuasa Pembohongan. Politik itu jauh lebih luas dibanding ilmu propaganda yg rata2 dimiliki politisi untuk membohongi pemilih.
Pertanyaanya, pemerintah Aceh pakai ilmu apa? Propaganda atau politik? Jawabnya tidak satupun baru coba2 propaganda. Terus apa juga? Pemerintah Aceh hanya bisa berpikir tentang sembako bagi menjawab tantangan rakyat. Terus kenapa Negara harus membayar mahal pikiran pemimpin daerah yg sebatas itu, anak kecil juga bisa.
Salam
