Aceh : Partai Politik Perlu Perubahan Jangan Seperti Partai Politik di Negeri Sedang Di Jajah"

Sahabat sekalian, dalam banyak hal kita melihat keanehan dalam dunia politik kita, penekanan kita berpolitik masih pada substansi yang tidak penting, tidak ubahnya seperti gaya politik di jaman penjajah.

Misalnya dalam berpolitik di partai itu orang mendaftar itu dibesar-besarkan di media, kader masih dibuat berlomba pada hal-hal admisnistratif, dalam partai masih berkesan menggugurkan hak politik hanya dengan pasphoto dan surat tetek bengek yang birokratif dalam politik jaman batu, Padahal yang sangat vital seperti jenjang pengkaderan seharusnya dikedepankan justru dilemahkan. Inilah kelemahan dan kita sering salah kaprah dalam politik sehingga dampaknya juga keliru memahami politik.

Misalnya musyawarah partai politik, ketika ada masalah pada kepemimpinan sebelumnya, terjadi kepincangan, kesenjangan, ketidakseimbangan maka perlu dilakukan perbaikan, jika tidak paham kebutuhan perbaikan organisasi atau diubah dengan masalah yang mengemuka maka kader dan pimpinan pengurus dapat dipastikan mereka tidak memahami politik partai itu sendiri. Mungkin hanya sebatas menguasai partai dan memeras potensinya untuk kepentingan uang dan fasilitas, maknanya mereka tidak berpolitik untuk tujuan partai politik dan platform perjuangan partai.

Jadi perlulah dimulai partai politik itu di dominasi dengan pemikiran, sikap, manajemen dan program kerja politik. Tapi kalau partai politik dikungkung dengan ketakutan ke bawah ke atas maka teman-teman di Kabupaten was-was dalam jabatan, bagaimana mungkin mereka mau totalitas dalam politik sementara politik yang profesional dan berkualitas menuntut itu. Sementara prilaku pimpinan hanya bisa mengancam, melakukan pressure, mengganti jabatan, mengganti DPR tidak bisa berbeda pendapat, tidak bebas berpikir, akahirnya apa? 

Kader menjadi bodoh dan bermental terjajah karena takut diganti, dipecat, inilah ciri pemimpin yang tergolong jahat menebar ketakutan, ketegasan bukan pada tempatnya. Karena cara memimpin itulah akhirnya politik menjadi kasar, dan jahil, jorok dan jahat (3J). 

Maka wajar kalau ada yang bilang kalau mau ke neraka masuklah ke partai politik. Padahal idealnya partai politik tidak demikian. Semoga suatu dapat diperlihatkan  dan diwujudkannya meski setengah dari kesempurnaan teori itu untuk perubahan rakyat.

Semoga bermanfaat