"Bagaimana Kewibawaan dan 12 Dampak Negatif Dalam Sistem Feodal"
Seringkali kita mendengar orang membandingkan orang dalam berpolitik ketika ada pemilihan calon pemimpin organisasi politik.
Hal ini dikembangkan oleh timses atau pendukung, atau masyarakat yang memperhatikan itu ataupun si calon sendiri yang membuat rekayasa seakan dia diwawancarai oleh media. Padahal dalam demokrasi seseorang yang ingin merubah masyarakat maka ia menulis dan berbicara secara lepas tidak perlu rekayasa yang berorientasi tampilan sebagaimana dalam ajaran feodal.
Apa yang dibicarakan?
Kewibawaan :
Bagaimana kewibawaan menurut orang-orang bermashab feodal, atau orang bodoh dalam demokrasi?
Kacamata mereka hanya bisa melihat tingkatan jabatan dan kemapanan atau status sosial, misalnya begini :
pilihan antara kader yang belum berjabatan dipemerintah dengan seorang kepala daerah, dia akan melihat si kepala daerah lebih pantas karena ada jabatan dan uang.
Maka mereka tidak pernah bisa melihat potensi masyarakat yang unggul, akhirnya yang terjadi adalah si bodoh memimpin si pintar begaimana mungkin organisasi dan masyarakat akan mendapat pendidikan yang baik, kehidupan yang lebih terarah dalam kesehariannya karena kebodohan itu disaksikan oleh si pintar, dan sudah pasti ketika mengalami kebuntuan maka orang akan bertanya kepadanya. Terjadilah pertentangan dan si feodal akan melakukan segala cara untuk mematikan pengaruh si pintar.
Kepantasan seseorang sebagai pimpinan, dimata si feodal, mereka akan unggulkan orang yang berjabatan apalagi orang tersebut sekampung dengannya. Pola pikir ini hampir sejalan dengan birokrasi di negeri kita yang sebahagian besar masih sisa peninggalan penjajahan masa Belanda.
Nihil dalam rumus pemikiran feodal, orang belum berjabatan menjadi gubernur atau presiden, mereka harus ada dalam lingkungan begawan politik baru disebut pantas. Sementara demokrasi justru sebaliknya. Lantas bagaimana realitanya? Tergantung ranah atau ciri masyarakatnya.
Sistem feodal Ini adalah ajaran menyesatkan dalam politik bernegara, bahayanya dapat mendegradasi kepantasan normal seseorang dalam perspektif potensi sumber daya manusianya.
Maka jangan berharap adil kepada si feodal, karena pikirannya hanya terdiri dari uang, beli jabatan, luas tanah, rumah mewah, mobil mewah, bagaimana mengangkat status sosial anaknya tanpa mau tahu kepantasan dalam perspektif mental, kecakapan, pengetahuan dan wawasannya.
Satu lagi yang membahayakan adalah mematikan langkah orang yang unggul agar kekuasaan tetap ditangan mereka yang dungu sehingga si feodal mudah mengaturnya.
Dampak yang ditimbulkan oleh ajaran feodal bagi masyarakat adalah:
1~Pemimpin tidak paham masalah sosial
2~Rakyat hanya bisa memilih yang menyogok mereka
3~Kompetisi dan konsepsi menguasai tanah, misalnya harus orang Aceh Besar memimpin orang daerah lain
4~Organisasi juga dipenuhi dengan sogok menyogok jabatan
5~Penghargaan hanya ada untuk orang yang berkontribusi dengan uang dan fasilitas
6~Orang yang memiliki sumber daya yang baik akan tenggelam
7~Pemimpin yang sebenarnya dibunuh karakter
8~Kewibawaan diukur dengan jabatan
9~Masyarakat akan korup, tertinggal, terjajah dan sulit keluar dari lingkaran setan
10~Pendidikan, ilmu pengetahuan, wawasan sosial mengalami dropdown
11~Rakyat akan lestari dalam kemiskinan yang sejahtera hanya beberapa diantara mereka.
12~Ilmu pengetahuan akan mengalami degradasi dan punah dilingkungan feodal.
Mereka akan membeli apapun untuk kepentingannya tidak peduli pengembangan masyarakatnya, karena sapi akan lebih bermanfaat bagi mereka daripada manusia karena bisa membajak sawahnya.
Itulah gambaran jika kehidupan anda diatur oleh pemimpin feodal yang tentu sulit sekali berkembang dan tidak boleh ada orang yang lebih kaya, lebih wibawa, lebih darinya. Sayangnya orientasi orang pada faktor yang tidak sustansial untuk pembangunan manusia.
Oleh karena itu, jangan sekali-kali memelihara sistem feodal atau sistem penjajah dalam lingkungan atau organisasi anda karena si feodal akan menghancurkan masa depan anda.
Saya membaca sebahagian besar partai politik kita masih terjebak dalam ajaran kepemimpinan feodalisme maka organisasi kita menjadi sulit berkembang, tidak ada pembahasan tentang pentingnya kualitas hak-hak anggota dalam organisasi, bagaimana menghargai para penjasa dalam organisasi.
Organisator dan politisi dinegara maju mereka bisa menulis rencana dan pemikiran terhadap suatu masalah dan rencana kerjanya untuk merubah. Masyarakat atau perbaikannya, sementara organisator, pemimpin dan politisi kita lebih banyak menggunakan kalkulator dalam kesehariannya.
Tau kenapa? silakan pikirkan,,,,
Sekian,,,,
Semoga bermanfaat,,,,
