"Pap Keubiri, Kritik Dianggap Mau Rebut Jabatan Gubernur"
Saya terperangah membaca kalimat satire yang menyudutkan pengkritik pemerintah Aceh adalah mereka yang ingin merebut jabatan Gubernur. Kalau pihak lain barangkali kita memaklumi tetapi jika orang yang kita paham siapa tentu hal ini miris sekali. Lagipula perebutan jabatan itu dalam masa lima tahunan. Kemudian dipilih lagi oleh rakyat. Perlu anda ketahui, kondisi pemahaman politik di Aceh sungguh tidak menguntungkan pelaku kritik karena yang mendukung pengkritik itu hanya orang yang paham persoalan. Kemudian yang perlu diingat bahwa pengkritik itu adalah sebahagian besar memiliki ilmu pengetahuan bahkan tentu saja wawasannya lebih luas, jika tidak mustahil seseorang bisa memposisikan diri sebagai pengkritik. Bahkan mental pengkritik justru lebih siap dari pemimpin yg dikritik karena dia telah memilih jalan hidup dalam masa rezim berjalan untuk tidak mendekati serta menggunakan fasilitas kekuasaan pemerintah. Dengan demikian posisinya cukup jelas dan tidak abu-abu. Karena masyarakat le...