Sistem Kepemimpinan Aceh Masih Feodal Rakyat Sulit Berkembang
Selamat Pagi
Salah satu fenomena dalam keseharian masyarakat Aceh adalah berkumpul dan kebiasaan hidup ramai. Maka ini menjadi budaya hingga diselipkan dalam tatanan ibadah misalnya tahlil, samadiyah yang berhari-hari.
Demikian juga dalam ibadah murni yaitu shalat berjamaah lima waktu dan shalat jumat, dimana selain lebih banyak pahala juga ada semangat silaturrahmi dan kebersamaan yang merupakan kekuatan politik Islam.
Begitu pula dalam seni budaya yang umum diketahui seperti Rapai, saman, seudati yang selalu melibatkan orang banyak.
Budaya berkumpul menjadi semangat hidup dan kekuatan (power) yang kemudian dijadikan ikon hidup, yakni "Udep Saree Matee Syahid"
Keberadaan masyarakat Aceh ini tentu tergantung dari kondisi sosial dimasa itu dimana-dimana manusia masih mengadu kehebatan perang fisik menaklukan pihak lain untuk menambah luas kekuasaannya.
Kebiasaan hidup ramai ini berkembang hingga sekarang, baik di Aceh maupun diluar Aceh, karena mencari nafkahpun lebih banyak terinspirasi atas kekompakan dan kebersaan.
Kelebihan hidup sebagai orang Aceh ini juga ditunggu oleh perubahan perkembangan hidup dan berkembangnya pengetahuan dan tentu menjadi ancaman bila tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan manusia yang selalu stabil.
Misalnya dalam sistem kepemimpinan orang Aceh yang dikenal dengan garis Komando, sebagai ciri sistem kepemimpinan Otoritarian yang sama sekali tidak sesuai dengan kepemimpinan sipil yang mengutamakan pikiran dan mencari solusi dalam berbagai sisi kehidupan.
____________________________________
Setengah narasi singkat diatas tentu mampu menggambarkan fenomena sosial bagi masyarakat Aceh sejak dulu hingga sekarang. Lantas dalam kontek kekinian kita bicarakan apa?
____________________________________
Analisa tentang bahayanya penyebaran corona virus yang bila masyarakatnya tetap berkumpul di warkop2, mesjid dan surau, menasah sebagaimana kehidupan sehari-hari maka dalam waktu seminggu Aceh akan berstatus All Corona atau Corona Total.
Masalahnya bukan berbahaya yang sangat mematikan wujud virus tersebut tetapi kalau sudah menyentuh tempat ramai maka akan terjadi kepanikan sosial dan jika semua terkontaminasi tentu tidak banyak tangan yang bisa membantu. Maka ada kebijakan melarang pelaksanaan shalat jumat dalam menghambat penyebaran corona, bukan soal kebijakan orang atau politik teology lain atau kebijakan pejabat yang Atheis untuk melemahkan Islam.
Bahwa salah satu tujuan disebarkan Corona Virus untuk merubah peradaban dunia yang biasa hidup berkumpul dan beramai sebagai power politik yang berbahaya sebagaimana kekuatan politik Islam, hal ini mungkin bisa masuk katagori meski tidak sepenuhnya benar.
Nah,,,mengapa kita menekankan pentingnya pemerintah Aceh membiayai biaya hidup masyarakat di Aceh selama dikeluarkan kebijakan publik sebagaimana UU negara tentang karantina kesehatan. Kenapa?
Ya,,,Karena masyarakat Aceh dijauhkan dari ruh dan semangat kehidupannya yang selalu beramai-ramai dalam semua sisi hidupnya, karena itu tentu batasan akaibat kebijakan pemerintah tentu akan mengganggu masyarakat dalam kelancaran kerja hingga pendapatannya.
Kesempatan yang tidak pernah ditemukan lagi oleh pemerintah Aceh untuk membantu masyarakat secara keseluruhan, dan yang bisa melakukan itu ia akan menjadi pelayanan publik yang paling besar diantara semua orang Aceh.
Yakin atau Tidak sih dengan ajaran Islam? Mereka yang belajar Islam akan paham anda menjadi siapa, ketika anda menjadi pelayan publik yang lebih besar diantara kalian. Itulah peluang seseorang dan yang paling besar kesempatan itu Ir. Nova Iriansyah Plt Gubernur Aceh untuk menjadi pemimpin. Bila masa ujian itu berakhir maka peluang itu sudah tamat, jangan harap berulang.
Saya berani melakukan pencerahan dan pencerdasan sosial juga untuk memberi pelayanan yang besar kepada masyarakat meski saat ini nilainya dianggap kurang dibanding uang instan dan bantuan fisik pada masyarakat kita namun suatu saat ini akan berbalik ketika sebahagian besar kita sudah hadir dengan pemikiran yang sudah berubah.
Salam
"Gram Kritik Membangun iKesadaran dan Merubah Peradaban Aceh"
