Surat Kepada PLT. Gubernur Aceh

Kepada Yth,
Plt. Gubernur Aceh
Cc. Ketua DPRA dan
Masyarakat Aceh Untuk Pencerahan sosial.

Assalamualaikum ww.

Secara terhormat dan dalam hati serta pemikiran yang konstruktif saya menyampaikan analisa pribadi saya sebagai warga masyarakat terhadap kebijakan publik pemerintah Aceh dalam penanganan virus corona di tengah kehidupan masyarakat Aceh.

Saya membaca secara tersirat ada upaya menutupi dampak Corona di Aceh sehingga ini menjadi kajian menarik bagi saya dan mungkin warga masyarakat lain yang memahami, disatu sisi pemerintah tidak ingin masyarakat panik dan kedua pemerintah Aceh secara normal ingin menunjukkan kemampuan manajemennya yang lumayan berhasil menangani masalah dimaksud.

Berikutnya bisa juga ada persepsi bahwa pemerintah sengaja melarutkan waktu penanganan virus dengan mereka-reka dan mempertaruhkan akan ada masa hilangnya virus dan jika itu tidak terjadi maka resikonya akan banyak yang mati dan pemerintah lepas dari tanggung jawab publik karena sudah menginstruksikan merumahkan warga sehingga lebih nyaman bahkan penanganan jenazahpun menjadi urusan keluarga dan masyarakat sebagai kifayahnya.

Ini persepsi yang terbentuk dalam masyarakat pemikir dan saya salah seorang dalam persepsi yang sama sebagai warga. Semoga ini tidak benar dan jikapun benar saya berharap bahwa kebijakan tersebut sebagai wujud ketakutan karena keterbatasan pengetahuan baik ilmu kepemimpinan atau pressure kepemimpinan pusat tetapi perlu diingat bahwa hal ini bukan disengaja oleh Pemerintah Aceh sebagai upaya membodohi rakyat Aceh.

Tetapi yang perlu menjadi catatan utama adalah rakyat Indonesia dan masyarakat Aceh sekarang ini sedang bertaruh nyawa hidup dan matinya. Masyarakat Aceh tentu sangat rasional berharap potensi pemerintahnya dan pemimpinnya untuk berkorban dan berjuang untuk menyelamatkan hidup mereka dan keluarga karena memang pemimpin dan pemerintah diperuntukkan kepadanya sebagaimana teori lahirnya negara.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka penanganan virus corona di Aceh sudah seharusnya dengan kebijakan publik yang komperensif, merumahkan, membiayai, mengobati, menguburkan dan seterusnya.

Atas dasar itu, mengingat corona ini sebagai bencana global, bencana internasional maka gunakanlah standar kebijakan publik bertaraf tersebut dalam kontek menyelamatkan nyawa manusia sebagaimana negara menghadapi perang fisik lintas bangsa dimasa lalu.

Jangan sampai masyarakat dalam operasi standarnya mengatasi corona namun berikutnya kematiannya justru akibat kekurangan pangan atau kelaparan di dalam karantina. Lihatlah bagaimana negeri lain memperlakukan warganya sehingga mereka merasakan keberadaan negara dalam hidupnya.

Dengan begitu tidak ada prioritas lainnya dalam pembangunan daerah selain pemerintah dan negara mempersiapkan kemenangan pertarungan terakhir hidup warga dengan perang biologys dimaksud. Karena bila kalah maka rakyat banyak yang mati kemudian kekuasaan diambil alih oleh bangsa lain yang menang dalam permainan politik kebangsaan.

Berikutnya lihatlah surat terbuka ini dalam pandangan yang luas sebagai prosesi pembentukan kebijakan publik dan nilai pendidikan politik untuk persatuan kebangsaan yang memperkuat warga negara, jangan memandang pemikiran politik pihak lain itu dalam kacamata kekuasaan sempit, dimana orang lain mengkritisi seakan mereka dalam kemelaratan karena tidak mendapat jatah dalam kekuasaan anda sebagaimana hujatan disampaikan sahabat dan kader partai politik anda dimuka publik. Mereka tidak cukup paham bahwa prilaku itu telah membunuh karakter orang lain dalam bahasa awam (memfitnah) karena posisinya sebagai pengkritik sosial, padahal kemampuan pengkritik inilah ilmu yang sangat dibutuhkan oleh kekuasaan demokratis.

Terakhir ingin saya sampaikan bahwa saya tidak ingin pemerintah Aceh nantinya dipersepsikan oleh masyarakat tersisa sebagai pembunuh massal atau pemerintah yang menghindar dari tanggung jawab dalam kemanusiaan dan pemimpinnya masuk dalam penjahat kemanusiaan dan saya ikut dalam alur politik yang dhalim itu.

Ini potensi persepsi yang timbul kala penanganan corona tidak berhenti dan bila berhenti maka hanya keberuntungan tapi sungguh riskan dan kita dalam katagori pemimpin masyarakat yang peling tega di dunia.

Terimakasih atas perhatian, Semoga bermanfaat.

Salam



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil