"Pap Keubiri, Kritik Dianggap Mau Rebut Jabatan Gubernur"

Saya terperangah membaca kalimat satire yang menyudutkan pengkritik pemerintah Aceh adalah mereka yang ingin merebut jabatan Gubernur. 

Kalau pihak lain barangkali kita memaklumi tetapi jika orang yang kita paham siapa tentu hal ini miris sekali. Lagipula perebutan jabatan itu dalam masa lima tahunan. Kemudian dipilih lagi oleh rakyat. 

Perlu anda ketahui, kondisi pemahaman politik di Aceh sungguh tidak menguntungkan pelaku kritik karena yang mendukung pengkritik itu hanya orang yang paham persoalan. Kemudian yang perlu diingat bahwa pengkritik itu adalah sebahagian besar memiliki ilmu pengetahuan bahkan tentu saja wawasannya lebih luas, jika tidak mustahil seseorang bisa memposisikan diri sebagai pengkritik. Bahkan mental pengkritik justru lebih siap dari pemimpin yg dikritik karena dia telah memilih jalan hidup dalam masa rezim berjalan untuk tidak mendekati serta menggunakan fasilitas kekuasaan pemerintah. Dengan demikian posisinya cukup jelas dan tidak abu-abu.

Karena masyarakat lebih banyak menjadi penonton dalam pemerintahan maka mereka sekedar mendapat bantuan ala kadar, masyarakat banyak sudah bersyukur dan menjadi pendukung pemerintah karena logika posisi tawar pemerintah dan rakyat belum dapat dipahami sepenuhnya oleh rakyat kita. 

Kembali ke lingkaran kekuasaan, bhw pengkritik itu mereka beresiko dan mereka berkesadaran Memilih tidak mendapat apapun dari pemerintah, sementara untuk hak rakyat mereka harus mampu memperjuangkannya meski harus berhadapan dengan pemerintah dan segala ancamannya.

Menjawab persoalan diatas tentang intervensi kelompok kekuasaan terhadap pengkritik maka saya ingin menjawab bahwa jika ada terlihat sedikit saja celah atau peluang maka saya akan maju sebagai bakal Calon Gubernur Aceh, kenapa tidak? Emang gubernur kalian aja yang bisa menjadi kontestan Pemilukada. Apa kalian punya saham begi negara ini sehingga kalian saja yang boleh menjadi calon gubernur Aceh. Apa kalian punya kemampuan ilmu melebihi orang lain di Aceh, kalau ilmu kepemimpinan biasa-biasa saja maka saya secara pribadi tidak perlu menganggap lawan terhadap incumbent karena masyarakat menjadi saksi hidup bagi mereka yg sudah memimpin.

Bravo, Ayo kita beranikan diri memperjuangkan hak kita dalam bernegara, kita sebagai warga negara punya hak untuk memilih dan dipilih maka menjadi calon gubernur adalah perihal wajar dan lumrah sebagai warga negara yang memiliki konsep dan startegy memimpin dirinya dan bangsanya.

Demikian untuk bahan berpikir bagi kita semua, dengan pemahaman ini semoga saja membawa kompetisi lintas warga negara sehingga pelayanan publik lebih bisa ditingkatkan baik secara quantitatif maupun secara kualitatif.

Semoga!

Salam












Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil