Pemerintah Gunakan Hati Terhadap Warga Aceh Di Luar Negeri

Pemerintah Aceh Harus Lebih Bijaksana dlm membuat kebijakan terkait kepulangan warga Aceh yang bekerja diluar negeri. Sebagai pemerintah rakyat Aceh naif sekali bila mereka dibiarkan terkatung-katung dinegeri orang dengan ancaman sengsara dan lapar.

Ketika suatu negara dilakukan lockdown maka banyak konsekuensi yang ditanggung oleh warga kita diluar. Karena negara tersebut hanya membiayai kebutuhan warga negaranya sementara warga kita yang pendatang disana tentu tidak mendapat fasilitas apapun.

Katika semua pekerjaan dihentikan maka warga praktis tidak bekerja dan tidak memiliki pendapatan untuk biaya hidupnya. Sementara mereka harus berada di rumah, Pertanyaannya mereka makan apa untuk bertahan hidup keluarganya di negeri orang.

Saya banyak mendapat informasi bahwa banyak dari warga kita sekarang dalam kemelaratan dan terancam kelaparan apalagi dinegara-negara yang sudah sebulan diberlakukan lockdown. Karena di negeri lain itu lockdown itu serius dengan segala konsekuensinya tidak sebagaimana di negeri kita lockdown ecek-ecek supaya tidak keluar uang negara untuk rakyat.

Pilihannya adalah kembali ke kampung halaman asalnya. Lantas bagaimana kebijakan pemerintah Aceh?

Jika mereka kembali melalui bandar udara maka pemeriksaan itu ketat, mereka yang dideteksi terkena virus corona sudah pasti ditahan dan tidak bisa masuk ke pesawat. Oleh karena itu pemerintah Aceh perlu mempersiapkan karantina bagi mereka warga yang baru kembali dari luar negeri minimal 14 hari dengan biaya ditanggulangi sebahagian oleh pemerintah Aceh selebihnya dibebankan pd keluarganya, jika ada uang ditanggung pemerintah semua sangat ideal dan sudah seharusnya.

Saya sebagai warga Aceh secara sungguh-sungguh mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk ini dan jangan sampai warga Aceh yang pulang dari luar negeri ini di lebelkan sebagai pembawa virus corona. Kemudian di uber-uber ditengah masyarakat sehingga mereka menjadi korban psikologis sosial secara masif oleh sesama warga Aceh sendiri.

Memang kelihatannya rumit padahal jika management kepemimpinan pemerintah Aceh profesional maka hal ini bukan sesuatu yang luar biasa.

Demikian,
Semoga bermanfaat



Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil