Posisi Rakyat dan Peran Pejabat Perlu Pada Tempatnya"
Rakyat Hanya Meminta Kepada Negara Bukan Minta Kemurahan Hati Potongan Gaji Pejabat atau Belas Kasihan Pejabat Dalam Membiayai Jatah Hidup Terkait Corona"
Sebaiknya Menolak Segala Sumbangan Pribadi Para Pejabat Supaya Mereka Terbiasa Hanya Berbuat Dengan Kewenangan yang Diamanahkan Rakyat Untuk Membantu Rakyat
Dengan Begitu Mereka Tidak Masuk Dalam Penciteraan Politik dan Mengharapkan Balas Jasa Dalam Politik Dari Masyarakat Terhadap Bantuannya Materilnya.
Kebiasaan inilah yang telah menyebabkan rakyat diposisikan sebagai pengemis dan tidak mendapat tempat yang baik dalam bernegara sehingga ketika pemilu rakyat sudah dibeli suaranya dengan bantuan materi yang pernah disumbangkan oleh para pejabat bermental penjajah
-----------------------------------------------------------
Pemimpin Daerah yang tidak bisa membiayai warganya itu, sebagaimana Teori kepemimpinan politik maka ia tergolong pengkhianat rakyat.
Logikanya memimpin itu bukan untuk dirinya dan kehendak pribadinya, keberhasilan memimpin itu tergantung adanya jaminan penanganan dan perbaikan kehidupan rakyat yang dipimpin. Tentu komunikasi dan kedalaman memahami terhadap yang dipimpin menjadi indikasi menengah untuk mengukur seseorang dlm memimpin atau ia hanya sebagai pecundang.
Jabatan yang ada padanya sudah seharusnya dipergunakan sebagai tangan rakyat yang dapat mengambil haknya kala dibutuhkan, apalagi menyelamatkan nyawanya dan menyelamatkan hidupnya dari kemelaratan.
Jika itu tidak bisa dilakukan maka berhentilah menjadi pelayan rakyat karena anda tidak memiliki kemampuan untuk memimpin.
Kelompok politik yang masih mengandalkan penciteraan itu sebahagian besar bermental perusak mentalitas rakyat dan telah melemahkan rakyat sehingga mereka hanya tahu belas kasihan tapi mereka tidak pernah diajarkan menuntut haknya yang justru lebih penting dan mereka lebih berharga. Itulah disebut marwah. (Bek hana meupuepue ka peugah marwah).
Salam

