Kajian Ringkas Dugaan Cara Keliru Kita Beragama

Banyak hal yang kita lakukan dalam keseharian dan menjadi kebiasaan kita yang jarang sempat kita evaluasi, apakah cara kita sudah benar atau kita salah kaprah.

Begitupun terhadap ajaran dalam beragama kita gencar melakukan ibadah hanya karena kita yakin bahwa aktivitas kita sudah benar sebagaimana yang dilakukan nenek moyang kita.

Perlu kita ketahui bahwa dunia penuh dengan perubahan, orang-orang terus berpikir dan mengembangkan inovasi melalui teknology yang menyamai kegaiban, jika dimasa lalu hal-hal gaib itu hanya bisa dilakukan melalui perantara jin, syaitan, iblis dan sejenisnya.

Tapi sekarang hal itu telah berubah dimana manusia dengan ilmunya juga sudah mampu menciptakan hal-hal yang dulu kita anggap gaib melalui energy berbagai macam.

Jika manusia lain apakah mereka kita anggap kafir atau Atheis diberikan kemampuan Ilmu oleh Allah untuk menciptkan itu tentu saja bagi kita ummat Islam jangan sekali-kali kita anggap Allah tidak memberikan kepada kita. Yang berbeda hanya cara pikir dimana orang lain mengembangkan ilmu pengetahuannya sementara kita larut dalam sistem mengatur dan menundukkan orang dengan pakaian jabatan sebagaimana sistem yg dilakukan penjajah tradisional untuk menguras hasil bumi kita melalui perasaan keringat dan mereka mengadu domba dengan kewenangan, jabatan dan pangkat yang diberikan kepada pribumi kita.

Dalam soalan ini maka kehidupan sosial kita terbelenggu dalam pemikiran yang pragmatis, mereka ingin mendapatkan sesuatu hanya dengan mengandalkan lobby dengan cara apapun bahkan tanpa mengandalkan ilmu pada bidang yang digelutinya.

Basis keilmuan inilah yang menjadi kelemahan kita, sehingga kita cenderung mendapatkan keberhasilan bahkan kekayaan yang serta merta tanpa kita ada dalam jalur yang profesional dengan basis yang kuat dan berdaya tahan. Oleh karena itu sering kita temukan hari ini mereka berada dan sukses sementara esok lusa terjatuh dan tak berdaya. Kenapa karena kita hanya sukses mendapatkan kesempatan tapi kita tidak paham seluk beluk dan sisi negatif dalam profesi kita.

Karena kebiasaan ini kitapun menjadi jumawa, karena kita tidak paham dan tidak menghargai ilmu pengetahuan bahkan kita lupa bahwa kepada kita diwajibkan menutut ilmu hingga ke lubang kubur. Jika sudah perintah dalam agama demikian adanya maka kita berada dalam konstelasi persaingan keilmuan tersebut yang netral dari intervensi Allah, karena sifat Allah itu Maha Adil. (Tak Percaya hal ini sama dengan anda tidak beriman terhadap sifat Allah).

Ini tidak ubahnya ketika anda bertarung dalam persaingan perebutan pimpinan organisasi, maka setelah panitia membuat aturan main yang fair maka mereka ada diposisi netral kecuali golongan manusia curang sebagaimana anggota KPU yang dipecat baru-baru ini karena memihak.

Ketika anda kalah atau tertinggal dalam mainan yang fair tersebut maka tidak ada yang bisa membantu menempatkan anda sebagai pemenang karena aturan main yang baku, kecuali panitia pemilihan curang dan mereka tentu saja tidak memiliki sifat Tuhan dalam dirinya.

Berikutnya yang menarik itu adalah kala kita menghadapi virus corona yang mana virus tersebut diciptakan oleh ilmu manusia yang dituduhkan sebagai milik bangsa Cina. Nah, jika kita tidak bisa bersaing dengan ilmuan tersebut maka seharusnya kita mengatasi sebagaimana standar yang diperintahkan oleh pihak yang sudah memgetahui kelemahan virus tersebut. Dalam perkara ini karena Allah Maha Adil maka diperintahkan kita mengejar ilmu itu dan Allah tidak akan mengintervensi atau memyebelah ke para pihak dalam scop labirin yang dijanjikan.

Kesalahan kita sebagai Islam yang Fundamental, dimana? Kita manusia yang paling cengeng, manja dan dengan bodohnya senantiasa menghadapkan Allah dengan manusia lain yang kita sering lupa bahwa mereka juga sebagai makhluknya. Logiskah cara pikir kita mengadu domba Allah dengan makhluk yang juga diciptakannya?

Akhirnya ketika Allah tetap Adil sebagaimana sifatnya maka kitapun terserang virus corona habis-habisan dan mati dalam kebodohan, paling harapan kita semoga saja mati karena kebodohan dimasukkan Allah dalam Mati Syahid, karena dapat menjadi pelajaran hidup bagi perkembangan generasi manusia dimasa berikutnya.

Atas dasar kewajiban menuntut ilmu itulah maka kita minimal memiliki ilmu cara penanganan atau merendahkan diri mengikuti arahan dari manusia lain yang paham tentang sisi lemahnya virus tersebut bukan menyombongkan diri dengan cara pikir pendek (Alu Puntung). Ilmu untuk mengatasi itu ya Social Distancing, Karantina di rumah, jangan berkumpul banyak orang dan sebagainya.

Jika anda pernah melihat orang mengobati kerasukan iblis, maka sebelum di usir oleh mereka yang berilmu tentang itu, iblis pada tubuh manusia itu ditanyakan dulu darimana asalnya, dimana kubur yang disandromi, makanan kesukaannya dan lain-lain informasi agar paham akar masalahnya. Setelah itu baru diusir dari orang yang kerasukan dan menggunakan informasi tadi untuk mengatasi dia kembali pada orang tersebut.

Melalui narasi singkat ini saya mengajak kita semua supaya saling mengingatkan dan menggunakan akal sehat dalam menghadapi masalah yang timbul dalam kehidupan kita agar kita terbebas dari bahaya.

Pertanyaan terakhir yang mungkin muncul dari benak kita adalah, kenapa Allah membiarkan virus yang membunuh itu menyerang dan membunuh manusia? Analisanya bisa beberapa macam.

Pertama, bisa saja virus itu awalnya disiapkan sebagai senjata membela diri bangsa dan hal ini bukan larangan dalam agama apapun.

Kedua, bisa saja virus dikendalikan oleh manusia yang dipengaruhi syaitan sehingga digunakan untuk menyerang manusia lain dengan tujuan melalukan perubahan peradaban dan ambisi mereka.

Ketiga, bisa saja virus ini dikehendaki Allah utk menyerang manusia agar manusia lain tidak lalai didunia atas ilmu Allah dan kebesaran Allah dan Allah tidak akan menolong manusia lalai karena manusia telah diberikan pikiran dan diperintahkan menuntut ilmu. Tentu kita juga harus mengingat bahwa alam selalu menghadirkan setiap soal dalam kembarannya. Misalnya baik ada buruk, sombong ada ramah, cantik ada jelek, bumi ada langit dan sebagainya.

Intinya saya ingin tulisan ini sebagai logika untuk mengajak kita berpikir logis dan sehat agar kita tidak terjebak dalam kebodohan yang membuat kita rakyat Aceh sebagai korban eksperimen pihak lain.

Dan tulisan ini tidak mengajak siapapun untuk berdebat meski banyak orang yang memiliki ilmu pengetahuan beragama Islam yang lebih. Saya hanya mengajak kita berpikir positif dan tentu saja merubah cara pikir kita yang lebih elegan dan tidak menyeret hidup kita dalam keterpurukan orang banyak.

Salam







Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil