Anti-Komunis Tapi Otoriter: Cermin Pecah di Tangan Penguasa

Sumber Gambar Boombastis.com

Di banyak ruang publik—dari warung kopi sampai forum politik—istilah komunis sering dilempar seenaknya, seolah jadi tongkat sakti untuk memukul siapa saja yang beda pendapat. Ironisnya, yang paling kencang teriak “awas komunis!” seringkali tidak sadar bahwa sikap dan tindakannya sendiri lebih dekat ke otoriter ketimbang demokratis.

Mereka larang orang bicara. Mereka benci kritik. Mereka alergi pada perbedaan pandangan. Bukankah itu mentalitas yang dikritik habis-habisan saat menuduh orang lain sebagai “komunis”? Cermin retak itu tak lagi menunjukkan wajah lawan, tapi memantulkan bayangan mereka sendiri.

Lebih lucu lagi, sebagian dari mereka duduk di kursi kekuasaan—dipilih lewat demokrasi, tapi menginjak-injak prinsip demokrasi itu sendiri. Kekuasaan dianggap warisan, kritik dianggap makar, dan yang berbeda dianggap musuh negara. Seolah-olah negara ini hanya boleh dihuni oleh satu warna pikiran: warna mereka.

Mereka ingin rakyat diam, patuh, dan tak berpikir. Tapi mereka lupa: zaman berubah. Anak-anak muda sekarang tidak mudah dibodohi. Semakin banyak yang bisa membaca narasi ganda: “anti-komunis” di bibir, tapi “otoriter” di tindak-tanduk.

Kalau dulu orang takut karena tak tahu, sekarang orang marah karena terlalu tahu.

Jadi pertanyaannya sederhana:
Apakah yang paling keras teriak soal bahaya ideologi lain, sebenarnya sedang menutupi wajah sendiri yang mirip ideologi itu?

Cermin itu sudah pecah. Tapi pecahnya bukan karena tangan orang lain.
Pecah karena mereka sendiri terlalu sering memukul bayangan yang mereka benci—tanpa sadar itu adalah diri mereka sendiri.


---