Rakyat Melarat karena Partai Politik Disandera Ambisi Kekuasaan

Rakyat Melarat karena Partai Politik Disandera Ambisi Kekuasaan

Dalam sistem demokrasi, partai politik seharusnya menjadi alat perjuangan rakyat. Ia hadir sebagai jembatan antara suara rakyat dan kekuasaan negara. Tapi hari ini, partai politik tak lebih dari kendaraan pribadi untuk mengejar jabatan dan kekayaan segelintir elit yang tidak paham politik, tidak paham pemerintahan, apalagi mengerti penderitaan rakyat.

Banyak orang mendirikan partai tanpa pernah belajar ilmu politik, tidak pernah memahami ilmu kenegaraan, dan jauh dari nilai-nilai etika dalam berbangsa. Mereka hanya punya satu hal: ambisi. Dan ambisi tanpa ilmu dan nilai, tentu endingnya hanya akan melahirkan kerusakan rakyat.

Bahkan mereka tidak paham kemana berpihak dalam pilihan normal bila dihadapkan dua pilihan yang disodorkan. Misal memilih berpihak ke keluarganya daripada berjalan di jalur keadilan. Hal sebesar itu saja seorang yang disebut pemimpin, ia tidak mampu bersikap bagaimana mereka menjadi pemimpin rakyat.

Kita bisa lihat di hadapan mata: pimpinan partai yang absurd ketika bicara soal politik, gagap memahami kebutuhan rakyat, dan mudah dijadikan boneka oleh kepentingan luar. Rakyat dibiarkan melarat, karena partai lebih sibuk berburu kekuasaan daripada memperjuangkan hidup rakyat.

Apa akibatnya?
Partai tidak lagi memproduksi pemimpin. Ia hanya melahirkan “penjilat jabatan” yang rela melakukan transaksi apa pun demi posisi. Mereka tidak mengerti bahwa kekuasaan itu amanah. Yang mereka tahu, kekuasaan adalah jalan pintas untuk hidup mewah.

Dalam 25 tahun reformasi, hampir semua partai gagal membangun kekuatan rakyat. Yang mereka bangun hanya kekuatan elite—dinasti, oligarki, dan kongkalikong dengan pengusaha. Mereka bicara seolah-olah pembela rakyat, tetapi hidupnya jauh dari rakyat. Mulutnya bicara agama, tetapi tangannya merampas hak rakyat. Munafik, hipokrit, tanpa rasa malu.

Apa yang seharusnya terjadi?
Pemimpin partai harusnya punya idealisme. Bukan sekadar pengusaha politik. Mereka harus hidup dengan nilai, bukan hanya mengejar kursi. Mereka harus tahu bagaimana rakyat menderita, dan membawa suara itu ke pusat kekuasaan untuk diubah menjadi kebijakan yang membela rakyat.

Tapi saat ini, rakyat dibiarkan sendirian. Tanpa pelindung politik. Tanpa perwakilan sejati. Maka wajar jika rakyat melarat. Karena yang mereka beri mandat, ternyata hanya memperkaya diri dan keluarga.

Rakyat harus sadar.
Partai politik itu alat. Tapi jika alat itu dirampas oleh mereka yang tak paham arah bangsa, maka rakyat akan terus ditipu, terus dieksploitasi. Sekarang waktunya rakyat cerdas berpihak dengan akal sehat. Bukan karena uang, bukan karena sembako. Tapi karena nilai dan paham tujuan politik sehingga mereka tidak lagi jadi obyek ekploitasi pemimpin partai politik hipokrit.


***

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil