Wahai Presiden, Jiwa Kami Terancam, Ketika Kader Daerah Ditinggal Oleh Partai Politik Pusat

Tahukah anda arti Hak Politik, gambar diatas ilustrasi sempurna


Oleh: Goodfathers

Konflik bersenjata Aceh telah lama usai, tetapi luka politiknya masih dalam. Kami, para kader partai politik nasional yang telah membangun demokrasi dari bawah, merasa jiwa kami kian terancam bukan oleh lawan politik, tapi oleh partai yang pernah ikut kami besarkan untuk penguatan demokrasi dan penguatan otonomi bagi rakyat daerah.

Sejak reformasi, banyak kader di daerah berjuang membuka jalan demokrasi di tengah reruntuhan otoritarianisme dan konflik bersenjata. Mereka bukan sekadar relawan pemilu, tetapi penggerak peradaban politik di daerah. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, hubungan pusat-daerah dalam tubuh partai politik mulai berubah drastis dari kolaborasi menjadi dominasi.

Pimpinan partai di pusat kini seakan tidak lagi menghargai jasa kader di daerah. Tanpa musyawarah yang layak, mereka menunjuk “kaki tangan” politik untuk memimpin wilayah, hanya karena kedekatan pribadi atau loyalitas sesaat. Kader-kader berpengalaman dan memahami karakter sosial daerah justru disingkirkan demi kepentingan pragmatis.

Lebih menyakitkan lagi, di daerah pasca-konflik seperti Aceh, terjadi ironi politik yang nyata. Di awal reformasi, banyak partai nasional mendekati tokoh-tokoh lokal, termasuk mantan kombatan, demi merangkul perdamaian dan memperluas jejaring demokrasi. Namun kini, sejumlah partai justru memanfaatkan posisi mereka untuk melindungi elite-elite baru dan mengganti para kader awal yang dulu menjadi pilar partai.

Pimpinan partai politik yang hanya melihat partai sebagai “perahu” untuk sesaat, tanpa peduli arah pelayaran dan penumpangnya, adalah pemimpin yang gagal memahami tanggung jawab sejarah. Bila Ketua Umum sebuah partai tidak paham masa depan dan tantangan masyarakat daerah, apalagi di wilayah bekas konflik, maka ia telah menjadi bagian dari kelalaian nasional.

Kekuasaan tanpa tanggung jawab hanya melahirkan kemunduran. Dalam demokrasi, hak politik masyarakat daerah bukan sekadar pelengkap suara di pemilu. Ia adalah indikator utama dari kualitas kepemimpinan nasional. Jika suara rakyat daerah dibungkam oleh dominasi pusat, maka demokrasi kehilangan jiwanya.

Dalam Islam, prinsip musyawarah (syura) adalah asas penting dalam kepemimpinan. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an: “...dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka” (QS Asy-Syura: 38). Kepemimpinan tanpa mendengar, adalah kepemimpinan yang dhalim.

Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, pernah berkata: “Leadership and learning are indispensable to each other.” Seorang pemimpin yang tidak mau belajar dari suara akar rumput hanya akan menciptakan kekosongan moral dan politik.

Karena itu, saya ingin mengingatkan para pimpinan partai politik nasional: Indonesia bukan hanya Jakarta. Jangan jadikan daerah sebagai pasar murahan dari eksperimen politik pusat. Jangan anggap rakyat sebagai pengikut yang bisa diatur sesuka hati.

Partai politik sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan semangat otoriter. Ia memerlukan jiwa yang lapang, visi yang kuat, dan keberanian untuk bersikap adil kepada daerah.

Jika tidak, jangan heran bila rakyat kehilangan harapan. Negara ini tidak akan hancur karena musuh dari luar, tapi karena pengkhianatan dari dalam oleh mereka yang mestinya menjaga tapi justru mengabaikan.



Biodata:

Goodfathers adalah nama pena dari seorang aktivis politik lokal dan pemerhati demokrasi, tinggal di Aceh.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil