Pemimpin Rakyat Wajib Hidup Dengan Standar Rakyat.

   Word Bank ; Rakyat Indonesia Miskin, 60 Persen



"Pemimpin Wajib Hidup Standar Rakyat"

Oleh Tarmidinsyah Abubakar

Dalam negara demokrasi yang sehat, pemimpin bukan hanya ditentukan oleh janji dan pencitraan, melainkan oleh kedalaman pengalaman hidup yang menyatu dengan denyut nadi rakyat. Sayangnya, di negeri ini, pejabat sering hidup dalam ilusi kekuasaan terpisah dari realitas hidup rakyat yang setiap hari bergulat memenuhi kebutuhan pokok.

Seharusnya, pemimpin apalagi kepala daerah wajib punya pengalaman hidup dalam kemelaratan, atau paling tidak pernah menjalaninya secara sadar dalam pelatihan khusus sebelum menjabat. Ini bukan soal romantisme penderitaan, tetapi agar ia memahami:

Berapa harga elpiji hari ini?

Seberapa susah membeli minyak goreng di kampung?

Berapa harga cabe dan bawang di pasar?

Bagaimana rasanya memilih antara bayar listrik atau beli susu anak?


Seperti wajib militer untuk membentuk kedisiplinan warga negara, pemimpin pun butuh ‘wajib rakyat’ sebuah proses hidup bersama rakyat sebelum mereka diberi kekuasaan untuk mengatur hidup rakyat. Dengan begitu, mereka tahu bagaimana rasanya menunggu BLT, atau bingung saat BPJS ditolak rumah sakit.

Sayangnya, mayoritas pejabat kita diam dan bungkam saat berhadapan dengan penderitaan rakyat, dan lebih tragis lagi: mereka diam juga saat berhadapan dengan atasan yang menindas rakyat.

Ini karena politik hari ini telah bergeser dari idealisme menjadi hipokrisi kolektif. Dalam sistem demokrasi yang belum dewasa, politisi kita berubah menjadi demagog pintar berkata-kata, piawai memanipulasi simpati, tapi nihil empati. Mereka tampak bersama rakyat di depan kamera, tapi justru menjadi perusak utama di balik panggung.

Rakyat pun akhirnya ikut terkorupsi, bukan karena niat jahat, tetapi karena tidak pernah dikenalkan dengan politik yang mendidik. Suara rakyat tidak lagi menjadi ekspresi kepercayaan, tapi menjadi alat tukar uang tunai atau sembako lima menit sebelum bilik suara.

Padahal, alat tukar utama dalam politik bukan uang, tapi trust sosial, kepercayaan bahwa seseorang akan memperjuangkanmu meski tak kau bayar.

Pertanyaannya:
Siapa yang masih rela berjuang hanya bermodal trust sosial hari ini?
Jawabannya sering kali menyakitkan, mereka yang jujur, justru tak terpilih.

Karena itu, jika bangsa ini ingin bangkit, kita harus membalikkan sistem: pemimpin harus disaring dari mereka yang pernah jadi rakyat sejati. Demokrasi tak boleh lagi jadi panggung sandiwara kaum elite, tapi harus jadi ruang pertarungan integritas dan pengalaman hidup nyata.




Gerakan Aceh Bangkit
"Pemimpin sejati bukan yang hanya paham kekuasaan, tapi yang paham harga elpiji, minyak goreng, dan cabe rakyat."
Saatnya rakyat memimpin jalan kebenaran.
Gabung suara, bangkit bersama.




Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil