Bukan Komunis, Tapi Lebih Komunis: Aceh Dalam Wajah Baru Penindasan Rakyat
Bukan Komunis, Tapi Lebih Komunis: Wajah Baru Penindasan di Aceh
Aceh hari ini tampak hidup. Jalanan ramai, kantor-kantor buka, pejabat rapat, dan spanduk pembangunan terpajang di mana-mana. Namun di balik semua itu, Aceh sebenarnya sedang mengalami kematian yang perlahan. Bukan secara fisik, tetapi secara sosial, ekonomi, dan mental. Rakyat sibuk dalam rutinitas yang hampa makna. Banyak yang hidup, tapi tak merasa hidup.
Pemimpin yang Tak Merdeka
Masalah utamanya bukan rakyat. Masalahnya adalah sistem yang menjadikan pemimpin daerah sebagai alat kekuasaan pusat. Ketika kepala daerah tidak bisa berpikir merdeka, ketika setiap kebijakan harus menunggu restu dari Jakarta, dan ketika seluruh ruang ekonomi hanya bisa diakses lewat jalur kekuasaan, maka jangan harap rakyat akan bangkit.
Yang bisa hidup dan tumbuh hanyalah mereka yang menjadi bagian dari sistem kekuasaan itu — kontraktor proyek, broker politik, atau LSM kaki tangan penguasa. Ironisnya, mereka bukanlah orang terbaik dalam bidangnya, melainkan yang paling pandai menjilat dan membungkam nurani.
Profesional Disingkirkan, Penjilat Dimuliakan
Orang-orang dengan integritas dan keahlian sering kali dimiskinkan secara sistematis. Tak ada proyek untuk mereka yang tidak ikut bermain politik kekuasaan. Tak ada tempat bagi profesional yang menolak tunduk. Hasilnya, sumber daya manusia terbaik memilih hengkang atau diam dalam keterasingan. Dana otonomi khusus terus mengalir, tapi kemajuan tak kunjung terasa.
Ini bukan sekadar kemiskinan. Ini adalah kemiskinan struktural — disusun rapi agar rakyat tetap bergantung dan tak berani melawan.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Jika satu rakyat lapar di negerimu, maka engkaulah yang akan ditanya Allah.” Tapi hari ini, banyak pemimpin justru bangga berdiri di atas penderitaan rakyatnya.
Sejahtera Karena Menjilat
Siapa yang paling kaya di Aceh hari ini? Bukan guru yang berdedikasi, bukan petani yang produktif, bukan pemuda yang inovatif. Tapi mereka yang dekat dengan kekuasaan — yang tahu cara menghadiri rapat, menyisipkan proposal, dan menjadi perpanjangan tangan pemimpin yang tak tahu arah.
Sementara itu, orang-orang yang kritis — yang berbicara jujur, yang mendorong kemandirian — justru dianggap ancaman. Mereka dikucilkan, bahkan dimiskinkan. Padahal, Imam Al-Ghazali mengingatkan: “Kerusakan rakyat bersumber dari rusaknya para pemimpin.” Dan hari ini, rakyat perlahan dibunuh oleh sistem yang diciptakan oleh para pemimpinnya sendiri.
Siapa Sebenarnya yang Komunis?
Pemerintah sering teriak lantang: “Komunisme adalah bahaya laten!” Tapi pertanyaannya: siapa sebenarnya yang menjalankan prinsip komunisme dalam praktik kekuasaan?
Komunisme berarti negara menguasai semua, menghapus kemandirian, dan mematikan inisiatif rakyat. Lalu, bukankah hari ini hampir seluruh akses ekonomi dan birokrasi dikontrol oleh negara dan elit politiknya? Bukankah rakyat tak bisa berusaha tanpa izin, dan izin itu hanya diberikan kepada kroni?
Thomas Jefferson pernah berkata: “When the people fear the government, there is tyranny. When the government fears the people, there is liberty.” Tapi hari ini, justru rakyat yang takut pada pemerintah, dan pemerintah yang tak takut lagi pada rakyat.
Jadi siapa sebenarnya yang lebih komunis daripada komunis itu sendiri?
Rakyat Harus Bangkit
Aceh tidak akan berubah jika rakyat terus berharap pada negara. Pemerintah tidak sedang menyelamatkan rakyat — mereka hanya menyelamatkan diri dan kelompoknya. Maka sudah saatnya rakyat berpikir dan bertindak di luar sistem yang korup.
Yang punya keahlian, bangun jejaring sendiri. Yang punya suara, jangan diam. Yang selama ini takut, sadarlah: diam adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan rakyat sendiri.
Mahatma Gandhi berkata, “Silence becomes cowardice when occasion demands speaking out the whole truth and acting accordingly.” Jika kita terus diam, kita bukan sedang hidup dalam negara merdeka, tetapi dalam penjara bernama demokrasi palsu.