Sentimen Mengalahkan Nalar: Ketika Masyarakat Tak Lagi Dididik untuk Berpikir Mandiri
Oleh Goodfathers
Di negeri ini, semakin terlihat jelas: rakyat lebih cepat percaya pada sentimen dibanding kebenaran yang ditopang nalar. Bahkan mereka yang mengaku tokoh, berpendidikan tinggi, atau alim dalam agama, tak luput dari gejala ini. Di grup-grup WA, di media sosial, bahkan di mimbar ceramah – narasi yang tersebar bukan lagi hasil analisa mendalam, tapi hanya gema dari sentimen sektarian, ketakutan global, atau tuduhan konspiratif yang tidak disaring akal.
Contohnya?
Cukup lihat bagaimana masyarakat menanggapi isu vaksin, suntik TBC, atau penyakit menular lainnya. Bukan lewat diskusi ilmiah, tapi lewat broadcast dari orang pesantren yang tak pernah belajar imunologi. Isinya? Dugaan tentang Bill Gates, WHO, dan pemerintah sebagai alat penjajahan global – tanpa satu pun data valid, tanpa analisis logis, tanpa pertanggungjawaban.
Ironisnya, justru pesan semacam itulah yang cepat dipercaya. Mengapa? Karena rakyat kita lebih terbiasa merasa daripada berpikir. Mereka lebih suka dihantui, disugesti, dimarahi atas nama agama atau ideologi, daripada diajak menganalisis data secara dingin dan rasional.
Masyarakat Dibodohi oleh Tokoh yang Tak Mendidik
Inilah penyakit besar kita: tokoh masyarakat tidak mendidik rakyatnya berpikir.
Mereka hanya menyuruh, mengajak, menghimbau – tanpa memberikan kemampuan berpikir mandiri. Bahkan tokoh yang sudah belajar tinggi ke luar negeri pun hanya bisa mengulang pola lama: bermain posisi, mencari aman, dan menumpang populer lewat narasi besar yang tidak mereka kuasai.
Lebih parah lagi, saat mereka menggunakan agama sebagai alat framing:
"Menolak vaksin karena ini agenda Zionis."
"Ini suntikan agar umat Islam lemah."
Padahal mereka sendiri tidak bisa membedakan mana konspirasi, mana realita. Tidak ada literasi sains, tidak ada pemahaman politik global. Hanya reproduksi kebencian yang dibungkus dengan retorika iman.
Ketika Sentimen Dijadikan Alat Manajemen
Karena rakyat mudah digerakkan lewat sentimen, maka para aktor jahat cukup menciptakan “tim sentimen”:
Jika ada isu sensitif, langsung cari siapa yang menolak.
Besarkan suara penolakan itu.
Lalu dorong agar yang netral ikut bersuara.
Akhirnya publik ribut, akal mati, dan yang berpikir dijadikan musuh bersama.
Itulah manajemen kebodohan.
Dan para pelaku framing tahu satu hal: mereka tidak perlu membodohi semua orang. Cukup mengendalikan narasi yang viral.
Solusi: Buah Pikiran Mandiri Lebih Utama dari Seribu Himbauan
Maka jangan heran jika rakyat tidak maju. Karena mereka tidak pernah diajari berpikir. Hanya dijejali instruksi, dilarang bertanya, dan diarahkan mengikuti suara ramai. Himbauan demi himbauan disebar tanpa kesadaran, apalagi tanggung jawab.
Di titik ini, kita harus bersikap:
> Lebih baik satu orang berpikir mandiri dengan keras kepala daripada seribu orang menyebar himbauan yang tak mereka pahami.
Karena bangsa ini tidak akan berubah lewat poster, khutbah viral, atau tokoh karbitan. Bangsa ini hanya bisa berubah jika rakyatnya diajak berpikir dengan logika, bukan hanya takut dan tunduk oleh suara mayoritas.