Kenapa Masyarakat Tetap Melarat Meski Pemimpin Berganti-Ganti?
Pemimpin Boneka
Oleh: goodfathers
Dalam sejarah panjang sebuah bangsa, kita sering melihat wajah-wajah baru di kursi kekuasaan. Pemimpin silih berganti, partai naik dan jatuh, janji diumbar lalu dilupakan. Namun yang tetap sama adalah satu hal: rakyat tetap miskin, tertinggal, dan terpinggirkan. Kenapa bisa begitu?
Mari kita bedah dari dua sisi: dari pemimpin, dan dari masyarakat sendiri.
I. Dari Perspektif Pemimpin: Penguasa yang Tak Pernah Menjadi Pemimpin
1. Naik Kuasa, Tapi Tak Punya Arah Banyak pemimpin naik ke tampuk kekuasaan tanpa visi yang jelas. Mereka hanya ingin berkuasa, bukan ingin membangun. Akibatnya, program tak terarah, pembangunan jadi kosmetik, dan rakyat hanya dijadikan alat legitimasi.
2. Bermental Feodal Banyak pemimpin masih melihat rakyat sebagai "anak buah", bukan sebagai warga negara. Mereka merasa lebih tinggi, lebih tahu, dan lebih pantas menikmati kemewahan atas nama "tugas negara".
Padahal, pemimpin sejati memimpin dengan memberi teladan, bukan memerintah dari atas singgasana.
3. Korupsi dan Politik Transaksional Kekuasaan dijadikan ladang dagang. Proyek dijual ke kroni, jabatan diperjualbelikan, dan setiap kebijakan punya harga.
Selama uang menjadi fondasi utama dalam kekuasaan, keadilan dan kemakmuran tak akan pernah datang.
II. Dari Perspektif Masyarakat: Rakyat yang Tak Pernah Berdaulat
1. Pasrah dan Buta Politik Banyak masyarakat tidak paham hak dan peran mereka dalam demokrasi. Mereka memilih karena iming-iming uang, bukan karena kualitas calon.
Setelah itu, mereka diam. Tidak mengkritik, tidak menuntut.
Demokrasi yang hidup hanya di TPS adalah demokrasi yang mati di kehidupan nyata.
2. Budaya Feodal Balik: Minta-Minta ke Penguasa Rakyat terbiasa "mengemis" bantuan dari pemimpin: minta sembako, minta proyek, minta uang jalan-jalan.
Akhirnya mereka tidak menuntut kebijakan yang adil, tapi hanya berharap "jatah pribadi".
3. Enggan Mandiri, Takut Melawan Banyak rakyat sebenarnya tahu mereka ditindas, tapi takut bicara, takut melawan. Akibatnya, para penindas terus berkuasa karena tidak ada perlawanan moral yang nyata.
Kesimpulan:
Pemimpin tidak akan bisa memperbaiki rakyat jika rakyat sendiri tidak memperbaiki cara memilih dan bersikap.
Dan rakyat tidak akan bisa berubah, jika terus dipimpin oleh orang-orang yang hanya peduli pada kuasa, bukan tanggung jawab.